Ketika Data, android di Star Trek Next Generation, ditanya oleh Geordi, temannya, apa yang membuat Data menganggap Geordi sebagai teman, jawabannya adalah: "My neural pathways have become accustomed to your input."
Maksudnya, otak buatan Data telah 'terbiasa' dengan kehadiran Geordi, baik sebagai input mental, misalnya percakapan, atau bahkan hanya input visual, dengan Geordi 'ada' di sampingnya.
Dengan analogi itu, manusia menjadi 'rindu' apabila sesuatu yang ia biasa terima, misalnya kehadiran seseorang atau suatu aktifitas, tiba-tiba hilang dari kehidupannya. Namun, sebagaimana perasaan itu terbentuk, seiring dengan berlalunya waktu, perasaan itu pun akan terkikis dengan perlahan, sehingga lama kelamaan rasa rindu itu pun pudar.
Menurutku, manajemen rindu lebih efektif dilakukan oleh otak, karena otak lebih obyektif dalam melihat keadaan. Tapi, ada kalanya hati berulah dan merusak segala keputusan manajemen dari otak. Hati lebih sulit diatur daripada otak.
Tentang energi yang dihasilkan oleh rasa rindu, tidak ada yang positif, tidak ada yang negatif. Energi adalah murni. Apa yang kau lakukan dengan energi itulah, yang menentukan apakah ia positif atau negatif.
Contohnya, bisa saja seorang yang kehilangan lalu menangis, meraung-raung, merusak dan menghancurkan segala benda di sekitarnya. Ia menggunakan energi secara negatif.
Namun, tidak sedikit orang yang lalu menulis sajak, syair, lagu, prosa, bahkan melukis, untuk mengekspresikan rasa rindunya. Mereka menggunakan energi secara positif.
Semoga pendapat saya bisa membantu.
materi referensi:
Lubuk hati yang paling dalam