• Adakah mata ini bisa di awasi dan dikoreksi ?

    Mata Selalu ada Terus menajam ingin menghujam Di setiap jengkal langkah lugu Seolah muka ini berbedak tebal kebohongan Matamu Selalu mengalahkan mata kami Mencuri sendiri berbalik intimidasi Mencari kesalahan dalam kebenaran Mata kami Bukanlah mata mata yang pantas di curigai Saat tuduhan matamu Berbalik menjadi kekuatan... tampikan lainnya
    Mata Selalu ada Terus menajam ingin menghujam Di setiap jengkal langkah lugu Seolah muka ini berbedak tebal kebohongan Matamu Selalu mengalahkan mata kami Mencuri sendiri berbalik intimidasi Mencari kesalahan dalam kebenaran Mata kami Bukanlah mata mata yang pantas di curigai Saat tuduhan matamu Berbalik menjadi kekuatan kami Jengah yang menyesak Jangan lagi di desak ryan,Bali 220311
    4 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apa khabar sobat semua,silahkan kasih saran dan kritik yang satu ini ?

    Mantra Kata Ku mantra sepi dalam abstraknya rasa Saat riuhnya arti sebuah kata Mengebiri tanpa henti Seperti mantram dalam mantra Kata adalah arti pun arti adalah kata rien,Bali 270211
    Mantra Kata Ku mantra sepi dalam abstraknya rasa Saat riuhnya arti sebuah kata Mengebiri tanpa henti Seperti mantram dalam mantra Kata adalah arti pun arti adalah kata rien,Bali 270211
    8 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apakah tak berjudul ini masih bisa di terima dan di beri masukan ?

    bulan sepenggal berharap menjadi purnama penuh saat awan terus merajuk menjadi hitam sementara angin tak mampu tiupkan semilirnya hingga rinai pelahan melebat basahi pelupuk mata yang sesaat menyungging senyum dalam ketidak mengertian akan makna menunggu ryan,bali 20 jan'11
    bulan sepenggal berharap menjadi purnama penuh saat awan terus merajuk menjadi hitam sementara angin tak mampu tiupkan semilirnya hingga rinai pelahan melebat basahi pelupuk mata yang sesaat menyungging senyum dalam ketidak mengertian akan makna menunggu ryan,bali 20 jan'11
    5 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apa khabar sobat taman semua ? masihkah diterima yang satu ini ?

    Bara Kecurangan Senyap ini Tinggalkan daging terlumuri cuka kecurangan Perih ku rasai sendiri Menguliti setia dan membakarnya dalam tungku penuh bara Dari arang tulangku sendiri Selayak melodi Tak mungkin tercipta dari harpa tanpa dawai Takkan juga ada kata terangkai Bila tlah terbungkus dalam kado bisu Dan ketika sepertiga malam... tampikan lainnya
    Bara Kecurangan Senyap ini Tinggalkan daging terlumuri cuka kecurangan Perih ku rasai sendiri Menguliti setia dan membakarnya dalam tungku penuh bara Dari arang tulangku sendiri Selayak melodi Tak mungkin tercipta dari harpa tanpa dawai Takkan juga ada kata terangkai Bila tlah terbungkus dalam kado bisu Dan ketika sepertiga malam Menyapa setitik sadar yang masih berdetak Api tlah hanguskan hati penuh kasih, pun Angin terbangkan sisa abu ke istana nafsu Tuk di jadikan kaligrafi indah bertulis "penyesalan sempurna" Pun saat sejuk embun membasuh pagi Gulungan benang harapan Tlah terburai kusut tak terurai Tak lagi mampu menjadi selembar kain indah ryan,Bali 030111
    11 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Mungkinkah pintalan ini masih diterima ? saran dan kritik ditunggu?

    Benang Harapan Kau pintal benang harapan di ujung hari Mencoba selaraskan tiap helainya Tapi engkau lupa Cahaya penerang belum kau nyalakan Lalu kau terus mengulang Pintalanmu yang selalu salah lubang Pun mencoba kuatkan tali pengekang Sama.... Lajur benang terus menghilang Masihkah tak kau sadari Bukan benang salah masuk... tampikan lainnya
    Benang Harapan Kau pintal benang harapan di ujung hari Mencoba selaraskan tiap helainya Tapi engkau lupa Cahaya penerang belum kau nyalakan Lalu kau terus mengulang Pintalanmu yang selalu salah lubang Pun mencoba kuatkan tali pengekang Sama.... Lajur benang terus menghilang Masihkah tak kau sadari Bukan benang salah masuk lubang Tapi tangan hatimu yang tak mengenali Hingga kau tak mampu meraba Saklar penerang masih padam ryan,Bali 091210
    4 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Bisakah yang satu ini di terima ? koreksi dan kritik di tunggu?

    Diwala Hati Diwala hati bertopeng dwi durja Murka menantang angkuhnya ancala waktu Kala gemuruh di dalam terus menggelitik Pun menyulam indah helai demi helai Hasrat tersamar Seperti embun menyapa dersik pagi Sekilas terus berlalu Dan tak sempat tuk membalasnya Mungkinkah ada arai masa lalu datang Hembuskan nafas dendam... tampikan lainnya
    Diwala Hati Diwala hati bertopeng dwi durja Murka menantang angkuhnya ancala waktu Kala gemuruh di dalam terus menggelitik Pun menyulam indah helai demi helai Hasrat tersamar Seperti embun menyapa dersik pagi Sekilas terus berlalu Dan tak sempat tuk membalasnya Mungkinkah ada arai masa lalu datang Hembuskan nafas dendam membuncah Hingga belaian lembut sebuah tulus Tak mampu terjabat erat ryan,Bali 061210 diwala : dinding Ancala : gunung
    7 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Inikah caramu ? saran, kritik dan apresiasinya di tunggu?

    Inikah Caramu Hangat kecup sapamu Resapi dingin urat nadi Runtuhkan tegaknya prasangka Yang selalu torehkan tinta merah Di setiap jengkal fikirku Hingga dalam titik tengah sebuah diam Beda itu kian tersamarkan Kabut abu abu wujudkan beningnya Meski sinar masih sebatas pantulan Dan makin aku pahami Arai itu bukan sebuah siluet Namun... tampikan lainnya
    Inikah Caramu Hangat kecup sapamu Resapi dingin urat nadi Runtuhkan tegaknya prasangka Yang selalu torehkan tinta merah Di setiap jengkal fikirku Hingga dalam titik tengah sebuah diam Beda itu kian tersamarkan Kabut abu abu wujudkan beningnya Meski sinar masih sebatas pantulan Dan makin aku pahami Arai itu bukan sebuah siluet Namun adalah caramu menyentuhku ryan,Bali 091210
    8 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Bolehkah sederhana ini ku sampaikan seperti ini, saran dan kritik di tunggu ?

    Tiga Kata #Kataku Kekasih Aku menyayangimu sepenuh hati Pelukan hangat itu selalu ku tunggu Desah nafasmu hadirkan indahnya merindu Ibu Ijinkanlah ku mengambil restumu Karena hati ini tlah terpikat olehnya Cinta yang begitu mempesona #Kata Kekasihku Sayangku Jika engkau mencintai dan ingin selalu dalam... tampikan lainnya
    Tiga Kata #Kataku Kekasih Aku menyayangimu sepenuh hati Pelukan hangat itu selalu ku tunggu Desah nafasmu hadirkan indahnya merindu Ibu Ijinkanlah ku mengambil restumu Karena hati ini tlah terpikat olehnya Cinta yang begitu mempesona #Kata Kekasihku Sayangku Jika engkau mencintai dan ingin selalu dalam pelukanku Tinggalkanlah ibumu Restu itu akan datang di lain waktu, percayalah padaku #Kata Ibuku Anakku Bukan ibu tak mengasihimu lagi Pun meminta kau ganti air susu yang mengalir dalam tubuhmu Ibu.....ingin sedikit saja kau memahami Setiap detak jantung dan aliran darah ini Hanya ingin melihat engkau bahagia Tak lebih Masihkah kau ragukan cinta ibumu......anakku ! ryan,Bali 221210
    8 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah pendek ini masih di terima ? saran & kritik di tunggu?

    Bibir Janji Semalam cinta itu menghias bibir Saat merapal janji dengan indah Namun tak butuh setengah waktu Tuk mengubahnya Di penghabisan detak Kau lumat lembut tanpa ampas janjimu sendiri Dan penuh nafsu Kau jamah ingkar di hadapan-Nya ryan,Bali 141210
    Bibir Janji Semalam cinta itu menghias bibir Saat merapal janji dengan indah Namun tak butuh setengah waktu Tuk mengubahnya Di penghabisan detak Kau lumat lembut tanpa ampas janjimu sendiri Dan penuh nafsu Kau jamah ingkar di hadapan-Nya ryan,Bali 141210
    7 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apakah yang satu ini masih bisa diterima ? koreksi & saran ditunggu?

    Dogma Dusta Lelakiku Kau cumbu aku dengan setengah nafas jujurmu Menelanjangi molek kesetiaan ini Dengan gurat gurat kasar egoismu Membuatku terkapar di atas karpet berdogma Dustamu Kalahku pun tlah lelah Seperti lariku yang terkebiri Saat lelakumu Melupakan tali kekang dalam pegangan ryan,Bali 061210 Tulisan ini... tampikan lainnya
    Dogma Dusta Lelakiku Kau cumbu aku dengan setengah nafas jujurmu Menelanjangi molek kesetiaan ini Dengan gurat gurat kasar egoismu Membuatku terkapar di atas karpet berdogma Dustamu Kalahku pun tlah lelah Seperti lariku yang terkebiri Saat lelakumu Melupakan tali kekang dalam pegangan ryan,Bali 061210 Tulisan ini terinspirasi beberapa kisah dalam kehidupan orang orang disekitar yang pernah aku lihat. Koreksi,kritik maupun masukan di tunggu
    9 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Mohon koreksi dan masukan sobat semua?

    Tentang Masa Awan hitam selalu memayungiku Ketika cicipi liku salah jalan.......dulu Nafsu tak berlogika tersaji Dalam tiap sarapan pagi hingga jelang lelap mataku ............Itu menu yang pernah aku suka Pun ku telan butir butir kebodohan Demi mencapai keindahan semu......ilmu yang ku anut Dan tak peduli titik benarnya Ada dulu, menu... tampikan lainnya
    Tentang Masa Awan hitam selalu memayungiku Ketika cicipi liku salah jalan.......dulu Nafsu tak berlogika tersaji Dalam tiap sarapan pagi hingga jelang lelap mataku ............Itu menu yang pernah aku suka Pun ku telan butir butir kebodohan Demi mencapai keindahan semu......ilmu yang ku anut Dan tak peduli titik benarnya Ada dulu, menu yang ku suka pun ilmu yang ku miliki Dan tertulis dalam sebuah kalimat " masa laluku " Kau pun tahu dan tak mau tahu Kini Setelah lingkar berkilau kau sematkan di jari manis ini Apakah perlu di ulang Tentang hal yang kau tahui pun dari semula tak mau peduli ? Tuntun aku Agar ku tahu apakah ini salah arah Sementara indah sebuah kejujuran Masih terpegang serta ku peluk erat Seperti maumu dan aku suka itu ryan,Bali 311010 tulisan ini terinspirasi curahan hati seorang sahabat tentang masa lalunya kumpulan bahasa kalbu 10 http://www.blogger.com/profile/025442574...
    5 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Bolehkah aku titipkan catatanku ini,di apakan saja boleh?

    Bilang Saja Bila kau malu, Titip saja kata itu Pada gerombolan rumput liar di bukit seberang Pasti akan tersampaikan utuh Tanpa sedikitpun terkebiri Meski mereka adalah kekasih gelapku Saat merindu pada ucapmu Namun tak mampu ku satukan Dalam pelukan kabut malam Bila kau meragu, Hamparkanlah sajadah hati pun Telanjangilah eloknya... tampikan lainnya
    Bilang Saja Bila kau malu, Titip saja kata itu Pada gerombolan rumput liar di bukit seberang Pasti akan tersampaikan utuh Tanpa sedikitpun terkebiri Meski mereka adalah kekasih gelapku Saat merindu pada ucapmu Namun tak mampu ku satukan Dalam pelukan kabut malam Bila kau meragu, Hamparkanlah sajadah hati pun Telanjangilah eloknya sebuah doa Dan biarkan menjamahmu hingga kau terlelap Di atas ranjang keyakinan ryan, Bali 201110
    7 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Maukah lepas belengguku ini ?

    Belenggu Sepi Langkahku Terayun ke bukit berpayung temaram Ku coba suguhkan tumbal darah segar Tuk memanggil segerombolan nyamuk Yang di bilang nakal Agar mau datang dan pecahkan hening ini Dengan riuh suaranya yang tak merdu Ku kirimkan pula warta lewat si angin Tuk bisikkan pada jangkrik dan burung hantu Bahwa aku mengadakan lomba... tampikan lainnya
    Belenggu Sepi Langkahku Terayun ke bukit berpayung temaram Ku coba suguhkan tumbal darah segar Tuk memanggil segerombolan nyamuk Yang di bilang nakal Agar mau datang dan pecahkan hening ini Dengan riuh suaranya yang tak merdu Ku kirimkan pula warta lewat si angin Tuk bisikkan pada jangkrik dan burung hantu Bahwa aku mengadakan lomba suara Sembuhkan bisu dalam rintik hujan kian menggenang Selalu Tenggelamkan renyah sebuah tawa ryan,Bali 30 Okt '10
    8 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah yang mau membaca atau membenahi tulisan Rantriku (3) ini ?

    PURNAMA DUA PULUH LIMA Sepertinya ibu masih ingin bicara, tapi karna rasa penasaran dari semula ku ambil surat beramplop coklat tua bertuliskan " Teruntuk Abang Ramli " dari tangan ibumu.Tiba tiba tangan ini sangat gemetar pun lidah terasa kelu saat ku mulai membaca suratmu yang berisi " Abang Ramli, maafkan Rantri bila tak bisa... tampikan lainnya
    PURNAMA DUA PULUH LIMA Sepertinya ibu masih ingin bicara, tapi karna rasa penasaran dari semula ku ambil surat beramplop coklat tua bertuliskan " Teruntuk Abang Ramli " dari tangan ibumu.Tiba tiba tangan ini sangat gemetar pun lidah terasa kelu saat ku mulai membaca suratmu yang berisi " Abang Ramli, maafkan Rantri bila tak bisa menemui abang di purnama kedua puluh lima sesuai janji dan pinta Rantri. Bukan Rantri tak rindu pun ingkar kepada janji tapi raga ini tak mampu lagi tuk menunggu abang. Namun yakinlah hati Rantri sampai kapanpun akan tetap buat abang hingga tanah mengubur dan pusara menancap di atas tubuh Rantri.Bila nanti abang datang sempatkan melihat kuburan Rantri dan kalau boleh meminta yang terakhir kali , tanamkanlah bunga kenanga di samping pusara Rantri sebagai tanda abang juga tetap merindukan Rantri selama ini . Salam sayang dan rindu untukmu abang hingga akhir nafas dan ujung usiaku ' Rantri' ". Kaki ini lumpuh seketika setelah membaca suratmu dan airmata ini tak mampu keluar hingga semakin sesak dan pengap dada ini. Rantri, mengapa kau tak memberitahuku jika selama ini kau berjuang sendiri menahan sakit dan membuat rasa bersalahku semakin besar terhadapmu. Lalu untuk apa kau menyuruhku datang tepat di purnama dua puluh lima, sedang kamu sendiri meninggalkanku lebih dulu dan lebih menyakitkan kau pergi untuk selamanya. Masih ku ingat katamu terakhir " jangan datang padaku melebihi ataupun kurang dari janji kita " dan itu kau ucapkan saat purnama kedelapan belas. Tamat ryan,Bali 151110 NB : maaf sobat semua bila harus menunggu tuk tahu akhir tulisan ini,aku mohon kritik dan saran dari sobat semua.Bila sobat ingin membaca tak terputus kalau mau bisa liat di www.blogger.com/profile/0254425749039375...
    2 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah yang mau membaca atau membenahi tulisan Rantriku (2) ini?

    PURNAMA DUA PULUH LIMA Oh Rantri,jangankan dirimu atau suaramu menyambutku, ruangan ini tempat kita dulu sering bercengkerama pun bisu penuh kesedihan.Ada apakah gerangan dengan dirimu Rantri ? cepatlah temui aku, rinduku tak mampu lagi ku bendung karena aku takut jika terlalu lama tak menjadi airmata bahagia. Hatiku makin berkecamuk, tiba... tampikan lainnya
    PURNAMA DUA PULUH LIMA Oh Rantri,jangankan dirimu atau suaramu menyambutku, ruangan ini tempat kita dulu sering bercengkerama pun bisu penuh kesedihan.Ada apakah gerangan dengan dirimu Rantri ? cepatlah temui aku, rinduku tak mampu lagi ku bendung karena aku takut jika terlalu lama tak menjadi airmata bahagia. Hatiku makin berkecamuk, tiba tiba ibumu membuatku kaget dengan suaranya " duduklah nak Ramli dan nikmati secangkir kopi ini sebagai pelepas lelah".Setengah lesu akupun duduk sambil minum secangkir kopi manis pemberian ibumu,tapi terasa dingin dan pahit buatku karna tak jua melihatmu. Sambil ku nikmati kopi buatannya, ibumu mulai bercerita tentang kejadian enam bulan yang lalu ketika dia pulang dari undangan pernikahan saudara dan ingin cepat cepat memberikan pesanan bunga melati yang kau minta karna kau tak bisa hadir " ibu bilang saat itu kamu sakit ".Aku langsung menaruh cangkir kopi itu dan mulai serius mendengar cerita ibumu.namun saat keseriusanku memuncak tiba tiba ibu menghentikan ceritanya dan kulihat airmata begitu deras mengalir dari matanya.Ibumu pergi dan masuk ke kamarmu tanpa sempat ku bertanya atau menyeka airmatanya. Tak perlu menunggu lama, akhirnya ibu keluar dari kamarmu Rantri dan ketenangan tlah terlihat di raut wajahnya serta ditangannya membawa sebuah amplop semacam surat.Lalu ibu duduk dan mengatakan " maafkan ibu nak Ramli karna ibu tak bisa melanjutkan cerita ini dan ibu hanya bisa memberikan surat titipan dari Rantri untuk nak Ramli serta ibu harap nak Ramli bisa mengerti ". Bersambung........ ryan,Bali 151110 NB : maaf sobat semua bila harus menunggu lagi tapi akhir cerita akan ada di Rantriku ( 3 ), ku harap sobat semua mau menunggunya.salam
    4 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah yang mau membaca atau membenahi tulisan Rantriku (1) ini ?

    PURNAMA DUA PULUH LIMA Ada sebuah nama terpatri dalam hati dan selama ini menjadi penguat di saat rapuh dan putus asa datang membelengguku lewati sepinya hari di tanah rantau. Rantri, apa khabarmu ? dua puluh empat purnama kita sudah tak bersua dan maafkan aku bila, sejak purnama kesembilan belas aku tak pernah berkhabar padamu. Bukan ku tak... tampikan lainnya
    PURNAMA DUA PULUH LIMA Ada sebuah nama terpatri dalam hati dan selama ini menjadi penguat di saat rapuh dan putus asa datang membelengguku lewati sepinya hari di tanah rantau. Rantri, apa khabarmu ? dua puluh empat purnama kita sudah tak bersua dan maafkan aku bila, sejak purnama kesembilan belas aku tak pernah berkhabar padamu. Bukan ku tak rindu atau ingkar janji padamu, tapi rindu yang terlalu menggebu itulah yang membuatku melupakan waktu agar bisa bersua dan wujudkan mimpi kita tepat di indahnya purnama dua lima. Rantri, masih aku ingat saat kau ucap janji dan pinta " aku akan setia dan menantimu hingga purnama dua lima ", dan akupun menyanggupi permintaanmu tuk datang pada purnama kedua puluh lima. Dan hari ini,aku datang Rantri dengan membawa sesaknya rindu yang ku tahan pun tak sabar melihat letiknya jemarimu menyambut kedatanganku," oh,begitu bahagianya aku memiliki kekasih setia dan secantik dirimu ". Ah, sepertinya ada yang menepuk bahuku dan terdengar sapaan lembut " Apa khabar Ramli ? " membuyarkan anganku tentang begitu indah pertemuan kita hari ini. Ku pasang senyum mengembang sambil berkata " sayang aku rindu kamu " Tapi saat ku balikkan tubuh ini, bukan dirimu yang ku dapati tetapi wanita paruh baya yang rambutnya mulai memutih dan tersirat jelas di wajahnya menyimpan suatu kesedihan. Wanita itu tak lain ibumu, lalu di mana engkau Rantri ? mengapa tak kau sambut aku datang seperti janjimu ? Muncul berbagai pertanyaan tentangmu dalam kepala, hingga ku tak menyadari ibumu berulang ulang berkata " masuklah nak Ramli dan duduklah, ibu akan bercerita dan memberikan sesuatu buatmu". dan masih dengan kebingunganku, ku ayunkan kaki ini tuk masuk, lagi lagi hatiku makin berdebar debar dan berharap saat aku masuk ternyata kau ada di dalam dengan senyum manismu menyambutku seraya berkata " kejutan buat abang ". Bersambung...... ryan,Bali 141110 NB : maaf sobat semua lanjutannya nanti di Rantriku (2) dan semoga sobat semua mau menunggu
    4 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah yang mau membenahi pun memberikan judul catatanku ini?

    Hening dalam syahdu temaram ini belum mampu ku sentuh Kau memintaku mengurai makna Awan putih yang berbaris mengintari Cahaya bulan yang masih sepenggal Dan kau sendiri Ingin menatap bintang di balik ranting pepohonan Tidak ada satu helaipun angin boleh menyentuhmu Ah, tak bisakah kau menungguku sejenak Tuk merapikan ceceran kekecewaan... tampikan lainnya
    Hening dalam syahdu temaram ini belum mampu ku sentuh Kau memintaku mengurai makna Awan putih yang berbaris mengintari Cahaya bulan yang masih sepenggal Dan kau sendiri Ingin menatap bintang di balik ranting pepohonan Tidak ada satu helaipun angin boleh menyentuhmu Ah, tak bisakah kau menungguku sejenak Tuk merapikan ceceran kekecewaan ini Yang tlah di tinggalkan rinai hujan tadi pagi Pun mencoba sepertimu Mencumbu hening tanpa gemerisik bayu Agar kita mampu Sama sama terbisu ketika sunyi memeluk erat Tanpa ada keinginan mengawali melepasnya Atau Memang ego terlalu kuat menggenggam kita Hingga tuk berkata " aku rindu " tak jua terucap Dan membiarkan Menjadi kegundahan menyesak dada ryan,Bali 061110
    10 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Adakah yang mau seka peluhku,kritik dan saran di tunggu ?

    Pelarianku Masihkah kau ingin hentikan Pelarianku yang terus berlari Karna......pita finis tlah terbagi Lelah pasti akan mencabik pun Peluh tak mampu lagi Terseka oleh angin semilir Dan biarkan saja kabut malam Menyelimuti seluruh nadi Hingga api dalam tungku hatiku Padam tanpa arang Bila Esok kau menungguku di ujung... tampikan lainnya
    Pelarianku Masihkah kau ingin hentikan Pelarianku yang terus berlari Karna......pita finis tlah terbagi Lelah pasti akan mencabik pun Peluh tak mampu lagi Terseka oleh angin semilir Dan biarkan saja kabut malam Menyelimuti seluruh nadi Hingga api dalam tungku hatiku Padam tanpa arang Bila Esok kau menungguku di ujung jalan Berlalu saja Pelarianku tlah terhenti Di persimpangan tak bertuan ryan,Bali 291010
    8 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apakah boleh aku khabarkan seperti ini ?

    BENCANA ALAM BEN-dera setengah tiang pun suara sirine menyayat hati,samarkan pandang dan lumpuhkan saraf kakiku hinggga ku tak mengerti CA-ra apalagi tuk hentikan genangan......guncangan pun semburan yang terus datang silih berganti NA-mun nurani berdesir menyadari ini adalah satu dari kuasa-Nya ALAM tak lagi mudah berikan restunya tuk... tampikan lainnya
    BENCANA ALAM BEN-dera setengah tiang pun suara sirine menyayat hati,samarkan pandang dan lumpuhkan saraf kakiku hinggga ku tak mengerti CA-ra apalagi tuk hentikan genangan......guncangan pun semburan yang terus datang silih berganti NA-mun nurani berdesir menyadari ini adalah satu dari kuasa-Nya ALAM tak lagi mudah berikan restunya tuk damaikan jiwa jiwa yang kekeringan dan terperosok egonya sendiri ryan,Bali 261010
    7 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu
  • Apakah ini benar benar percuma ?

    Percuma Patah tersambung Meretak ke dalam Selayak untaian benang Kusut tak terurai Mencoba ciptakan bayang Di wajah lumpur tanpa sinar Pun nyanyikan kidung indah Dalam parau sebuah tangis Seperti itulah kita ! ryan,Bali 191010
    Percuma Patah tersambung Meretak ke dalam Selayak untaian benang Kusut tak terurai Mencoba ciptakan bayang Di wajah lumpur tanpa sinar Pun nyanyikan kidung indah Dalam parau sebuah tangis Seperti itulah kita ! ryan,Bali 191010
    4 jawaban · Persajakan · 7 tahun yang lalu