• Is it OK to ask and know about one's sexual activites and habits? How to do it politely?

    I am a single 23 y.o man. I am always wondering how one is doing sex, what position they are usually using. I believe that this is a someone's private activity but I am just curious to know because perhaps I can learn from other's experiences and use it if I have been married. I am really bored of all fake orgasm or expressions during sexual... tampikan lainnya
    I am a single 23 y.o man. I am always wondering how one is doing sex, what position they are usually using. I believe that this is a someone's private activity but I am just curious to know because perhaps I can learn from other's experiences and use it if I have been married. I am really bored of all fake orgasm or expressions during sexual intercourse done in most of porn videos. However, such manner is a taboo in my family, my environment and perhaps, my religion. Moreover, if I do so, people will then think that I am a perverted man or a bigot. What should I do to ask politely about one's sexual experiences? Does it need some psychological approaches?
    3 jawaban · Psychology · 3 tahun yang lalu
  • [MEN ONLY] Is it normal for peeking/seeing penis among the guys?

    1) What are you going to do if you find some other guy peek at you and see your penis while you are taking a bath/shower? Will you: a. ignore him and just keep taking a bath/shower, b. immediately leave the bathroom, c. shout at him to stop doing that, d. threaten him that you are going to punish/kill him, e. or else? (please mention it!) Also,... tampikan lainnya
    1) What are you going to do if you find some other guy peek at you and see your penis while you are taking a bath/shower? Will you: a. ignore him and just keep taking a bath/shower, b. immediately leave the bathroom, c. shout at him to stop doing that, d. threaten him that you are going to punish/kill him, e. or else? (please mention it!) Also, mention the reason on why you choose it. 2) Is it normal for just peeking/seeing penis among each other? Can seeing other's penis be considered that someone is gay? Thank you for your attentions and your responses!
    2 jawaban · Polls & Surveys · 3 tahun yang lalu
  • [KHUSUS PRIA] Apa yang akan kamu lakukan jika ada pria yang mengintipmu mandi?

    Apa yang akan kamu lakukan jika ada pria yang mengintipmu mandi? a. Tetap mandi dan mendiamkannya (bersikap masa bodoh), b. Memergokinya, c. Melakukan tindakan balasan untuk melindungi diri, seperti mengancam atau memukul atau apapun. d. Langsung meninggalkan kamar mandi, e. lain-lain (sebutkan!)
    Apa yang akan kamu lakukan jika ada pria yang mengintipmu mandi? a. Tetap mandi dan mendiamkannya (bersikap masa bodoh), b. Memergokinya, c. Melakukan tindakan balasan untuk melindungi diri, seperti mengancam atau memukul atau apapun. d. Langsung meninggalkan kamar mandi, e. lain-lain (sebutkan!)
    7 jawaban · Kesehatan Laki-laki · 3 tahun yang lalu
  • [QUESTION] What are you probably going to do if you find that your mum is (maybe) masturbating?

    I live with my mum. She is about 48 years old now. She is a widow and not married any more. One late night, I was trying to go the living room but, suddenly I heard something strange behind the door of my mum's sleeping room. I peeked the bottom of the door and found her doing something strange in her sleeping room. She was lying on the big... tampikan lainnya
    I live with my mum. She is about 48 years old now. She is a widow and not married any more. One late night, I was trying to go the living room but, suddenly I heard something strange behind the door of my mum's sleeping room. I peeked the bottom of the door and found her doing something strange in her sleeping room. She was lying on the big pillow and banging her groin on it many times. Then she stopped gradually and she was sounding as if she was groaning. I was wondering if she was doing masturbating but, I tried to keep thinking positively that perhaps I was wrong. However, if she was really masturbating, I still could not believe this. I mean, someone can do masturbating as his/her own sexual desire appears but I would get a bit shocked if it was my mum who did it. In my understanding, the woman normally will get menopause when reaching age 40s (please correct me if I am wrong). I don't know whether I should be happy or not that my mum still can get menstruation in her age. But I still have questions in my mind: 1) Is it normal for a 48 years old woman doing masturbating? Will it be OK for her health? 2) Since my mum is not getting married again, of course, she never do any sexual intercourse. Could this masturbation relates to it? 3) What are you probably going to do if you find that your mum is doing masturbating? I really want to know your opinions and advices. Thanks a lot for your attention.
    5 jawaban · Women's Health · 3 tahun yang lalu
  • [TANYA] Mengapa kebanyakan bisnis di Indonesia berada di bidang makanan atau minuman (kuliner)?

    1) Banyak bermunculan orang kaya baru (OKB) dari kalangan muda di kota-kota besar. Akan tetapi, mengapa kebanyakan OKB ini lebih memilih untuk berinvestasi dan membuka usaha di bidang makanan? 2) Beberapa orang mengatakan bahwa bisnis kuliner itu lebih mudah dan lebih cepat balik modal. Akan tetapi, apakah bisnis kuliner itu benar-benar lebih... tampikan lainnya
    1) Banyak bermunculan orang kaya baru (OKB) dari kalangan muda di kota-kota besar. Akan tetapi, mengapa kebanyakan OKB ini lebih memilih untuk berinvestasi dan membuka usaha di bidang makanan? 2) Beberapa orang mengatakan bahwa bisnis kuliner itu lebih mudah dan lebih cepat balik modal. Akan tetapi, apakah bisnis kuliner itu benar-benar lebih menjanjikan untuk jangka waktu yang lebih lama?
    3 jawaban · Usaha Kecil dan Menengah · 4 tahun yang lalu
  • [TANYA] Bagaimana cara yang tepat dalam pemberian gaji/insentif kepada staff?

    - Haruskah seorang staff meminta atau menagih gaji kepada pihak manajer terlebih dahulu barulah gaji bisa diberikan? - Apakah gaji itu sebaiknya diberikan langsung begitu saja sesuai waktu atau tanggal yang telah disepakati?
    - Haruskah seorang staff meminta atau menagih gaji kepada pihak manajer terlebih dahulu barulah gaji bisa diberikan? - Apakah gaji itu sebaiknya diberikan langsung begitu saja sesuai waktu atau tanggal yang telah disepakati?
    6 jawaban · Finansial Pribadi · 4 tahun yang lalu
  • [TANYA] Bagaimana cara yang tepat dalam pemberian gaji/insentif kepada staff?

    - Haruskah seorang staff meminta atau menagih gaji kepada pihak manajer terlebih dahulu barulah gaji bisa diberikan? - Apakah gaji itu sebaiknya diberikan langsung begitu saja sesuai waktu atau tanggal yang telah disepakati?
    - Haruskah seorang staff meminta atau menagih gaji kepada pihak manajer terlebih dahulu barulah gaji bisa diberikan? - Apakah gaji itu sebaiknya diberikan langsung begitu saja sesuai waktu atau tanggal yang telah disepakati?
    4 jawaban · Finansial Pribadi · 4 tahun yang lalu
  • [TANYA] Bagaimana cara etis mengajukan undur diri dari kantor?

    1) Bagaimana cara etis mengajukan undur diri dari kantor? 2) Apakah sopan jika kita menyatakan resign dengan alasan kita mau pindah ke perusahaan lain?
    1) Bagaimana cara etis mengajukan undur diri dari kantor? 2) Apakah sopan jika kita menyatakan resign dengan alasan kita mau pindah ke perusahaan lain?
    1 jawaban · Lain-lain – Karir & Pekerjaan · 4 tahun yang lalu
  • Bagaimana agar bisnis sambilan (les privat) kembali jalan di tengah kesibukan setelah "tutup" cukup lama?

    Sejak 2012 saya memutuskan untuk sambilan menjadi guru les privat sambil saya melanjutkan kuliah saya di semester 5. Sistemnya adalah saya yang datang mengajar pada siswa. Saya juga tidak ingin terkesan terlalu "mata duitan" dalam sambilan di bidang pendidikan ini. Pembayaran les berpatok pada frekuensi pertemuan per hari bukan per jam.... tampikan lainnya
    Sejak 2012 saya memutuskan untuk sambilan menjadi guru les privat sambil saya melanjutkan kuliah saya di semester 5. Sistemnya adalah saya yang datang mengajar pada siswa. Saya juga tidak ingin terkesan terlalu "mata duitan" dalam sambilan di bidang pendidikan ini. Pembayaran les berpatok pada frekuensi pertemuan per hari bukan per jam. Namun, pada akhir Juli 2014 tepat bulan Ramadhan tiba, saya memutuskan untuk belum kembali mengajar les. Keinginan untuk mengajar kembali sebetulnya sudah ada—dan bahkan sudah sering muncul panggilan ortu murid supaya saya datang mengajar les, namun entah mengapa saya enggan untuk kembali beranjak untuk sambilan. Alasannya, saya cukup terbebani jika harus pulang malam di atas jam 22.00 (prinsipnya maksimal jam 21.00, part time harus selesai). Saya menghadapi ortu yang ingin putra-putranya tetap terkondisikan dalam situasi belajar. Kami mengadakan pertemuan 4 kali dalam seminggu. Sebetulnya tatap muka maks. 2 jam per pertemuan dalam 1 hari. Namun, dengan waktu yang sebatas itu, ortu murid tersebut meminta saya menambah jam. Saya saat itu belum bisa menolak mengingat saya belum ada 1 tahun bekerja sama dengan beliau. Dan baru sekarang, saya merasakan dampak. Secara finansial, memang bisa mencukupi tapi, saya semakin kesulitan untuk menginvestasikan waktu untuk memperhatikan diri saya, untuk mengerjakan tugas kuliah yang masih seabrek. Apa yang sebaiknya saya lakukan agar tetap bisa sambilan les privat dan bagaimana menghadapi ortu demikian?
    2 jawaban · Lain-lain - Bisnis & Keuangan · 5 tahun yang lalu
  • Is it good for my age to practice with Vaccai?

    I'm 21 y.o, and I'm a computer engineering student. I actually had started learning Italian singing using Vaccai etude since I was 20. My former vocal teacher told me that I'm baritone, because my vocal range is from A2 to G4. But it's common & quite comfortable to me to sing (operatic or pop) between B2 to F4. :p So, I tried to... tampikan lainnya
    I'm 21 y.o, and I'm a computer engineering student. I actually had started learning Italian singing using Vaccai etude since I was 20. My former vocal teacher told me that I'm baritone, because my vocal range is from A2 to G4. But it's common & quite comfortable to me to sing (operatic or pop) between B2 to F4. :p So, I tried to use Vaccai for Baritone-Alto Edition. Unfortunately, I used to become difficult to sing the lowest note--e.g: the low A note. Instead, I changed to learn the same Vaccai but for Tenor edition. Question: is this such way legal & good for the sake of musical learning? I'm shy to admit that I had just take the musical learning seriously at this age, because I didn't really get the musical access when I was a child. Back to the title; is it good for my age to practice with Vaccai? Is it too late to make a professional musical career from this young adult age? Thanks for your responses.
    3 jawaban · Singing · 5 tahun yang lalu
  • Tentang Whey Protein Concentrate & alergi laktosa?

    Saya sering minum Whey Protein Concentrate (WPC)-34 setiap kali sebelum & sesudah latihan beban. Namun, sesudah minum WPC-34, perut saya menjadi bergejolak & sering kentut. Namun, pernah perut saya sampai menjadi sangat bergejolak & mencret. Sejak saat itu saya jadi "trauma" minum WPC-34. 1) Saya memang dalam program bulking, namun apakah... tampikan lainnya
    Saya sering minum Whey Protein Concentrate (WPC)-34 setiap kali sebelum & sesudah latihan beban. Namun, sesudah minum WPC-34, perut saya menjadi bergejolak & sering kentut. Namun, pernah perut saya sampai menjadi sangat bergejolak & mencret. Sejak saat itu saya jadi "trauma" minum WPC-34. 1) Saya memang dalam program bulking, namun apakah saya memang harus berhenti mengonsumsi WPC-34 tersebut? 2) Apakah gejolak perut & mencret tersebut merupakan alergi laktosa? Bagaimana mengatasi gangguan pencernaan semacam ini supaya tidak mengganggu aktivitas sehari-hari? 3) 1kg WPC-34 yang saya beli terkemas dalam plastik alumunium tanpa merk & berbentuk serbuk berwarna putih kekuningan. Penjual yang melayani saya mengatakan bahwa WPC tersebut impor. Apakah WPC yang demikian halal dikonsumsi? Apakah ini memang betul terbuat dari bahan alami? Terima kasih atas balasan baik dari Anda.
    2 jawaban · Diet & Fitness · 5 tahun yang lalu
  • Apa yang sebaiknya saya katakan pada Ibu saya bahwa saya telah mangkir kuliah selama 1 semester?

    [MASALAH SAAT INI] Saya diam-diam telah mangkir kuliah untuk bekerja sebagai guru homeschool & guru les privat. Padahal semester 7 ini Ibu saya telah membayari SPP kuliah saya, sebesar Rp 1,15 juta. Sebetulnya sebelum semester 7 dimulai, saya sengaja diam & acuh tak acuh mengenai pembayaran SPP. Bahkan ibu saya sampai mengkritik saya karena... tampikan lainnya
    [MASALAH SAAT INI] Saya diam-diam telah mangkir kuliah untuk bekerja sebagai guru homeschool & guru les privat. Padahal semester 7 ini Ibu saya telah membayari SPP kuliah saya, sebesar Rp 1,15 juta. Sebetulnya sebelum semester 7 dimulai, saya sengaja diam & acuh tak acuh mengenai pembayaran SPP. Bahkan ibu saya sampai mengkritik saya karena "lupa" tanggal pembayaran SPP kuliah. Alasannya, saya sebetulnya sudah tak bersemangat lagi untuk melanjutkan kuliah S1 saya di bidang teknik komputer. Saya mau banting setir ke bidang lain yang saya mampu & sukai. Saya mau kuliah di bidang musik atau sastra. Sebetulnya saya sangat benci & tak pernah menghendaki hal buruk ini terjadi pada diri saya. Sama sekali tidak! Di kampus, saya selalu mendapat nilai buruk setiap kali saya UTS & UAS. Ini mengakibatkan IP saya semakin turun drastis. Saya, yang sedari awal masuk kuliah ingin mengikuti program beasiswa, menjadi urung & mundur. Saya menjadi selalu kepikiran masa depan saya bagaimana. Saya merasa ingin mundur kuliah, daripada saya lama kuliah di bidang teknik namun hasilnya tidak sebagus dengan teman-teman teknik saya yang mendapat IPK di atas 3. Saya merasa ingin lebih baik uang SPP digunakan untuk biaya kursus bidang lain (musik & bahasa) yang mana saya bisa eksplor lebih. Sementara itu saya sambil bekerja untuk menempuh pendidikan S1 lagi yang lebih pas. Namun, sudah tentu ibu saya menolak hal ini. Kalau saya bercerita hal ini pada ibu saya, beliau selalu menangis dan sedih sekali. Saya juga sebetulnya khawatir jika saya nanti bekerja hanya dengan bekal pendidikan rendah--lulusan SMA. Sebentar lagi awal tahun 2014, semester 8 yang mana merupakan akhir studi kuliah, akan tiba. Saya bingung apakah saya benar-benar bisa diandalkan untuk lanjut kuliah atau mengakhiri kuliah ini untuk kursus di tempat lain, namun secara diam-diam pula? [LATAR BELAKANG KEHIDUPAN SAYA] Saya sadar ini kesalahan terbesar saya. Saya paham, selama ini, sedari SD hingga SMA, saya hanya sekolah & asal mengikuti klub ekskul saja, tanpa mengeksplor tentang bakat minat saya sedari awal secara lebih. Sewaktu SMA, saya ingin ikut bimbel atau tempat les, tapi saya tidak yakin ibu saya bisa membiayainya, sampai saya lulus. Bahkan untuk membeli buku pelajaran pun, kadang saya merasa rendah khawatir apakah ibu mau memberi uang beliau untuk saya. Ibu saya adalah single parent dengan 2 anak putra & 1 anak putri. Saya adalah anak pertama. Adik lelaki saya adalah seorang mahasiswa juga. Adik perempuan saya adalah siswi SD kelas 3. Ibu saya bekerja wiraswasta di bidang usaha courrier & cargo serta supplier obat herbal. Namun, tentu perolehan gaji ibu saya + dana pensiun mendiang ayah saya tak cukup untuk membiayai biaya rumah tangga dan kebutuhan anak-anak. Kami tinggal di kota Semarang dengan UMR Rp 1,4 juta.
    3 jawaban · Pendidikan Tinggi (Universitas) · 5 tahun yang lalu
  • Bagaimana caranya supaya terlihat lebih kasual dan simpel namun tidak terkesan glamor atau berlebihan?

    Saya mahasiswa yang berusia 20 tahun. Saya berbadan agak sedikit kurus. Saya ingin mengubah penampilan berbusana saya agar ini membantu kepercayaan diri saya. Setiap hari--khususnya di hari-hari kuliah & part time--saya selalu mengenakan atasan hem atau kaos berkerah lengan pendek dengan bawahan celana bahan warna hitam, khaki, dan putih. Namun,... tampikan lainnya
    Saya mahasiswa yang berusia 20 tahun. Saya berbadan agak sedikit kurus. Saya ingin mengubah penampilan berbusana saya agar ini membantu kepercayaan diri saya. Setiap hari--khususnya di hari-hari kuliah & part time--saya selalu mengenakan atasan hem atau kaos berkerah lengan pendek dengan bawahan celana bahan warna hitam, khaki, dan putih. Namun, saya merasa bosan dengan style yang monoton semacam ini. Saya pikir, dibandingkan mengenakan jeans denim, saya lebih senang memilih chino jeans--rencananya saya akan beli yang pas dengan tubuh saya. Karena, bagi saya denim, terasa berat dikenakan. Di sisi lain, saya juga tak ingin terlihat glamor atau berlebihan. Adakah saran yang lebih baik tentang hal ini? Terima kasih banyak atas perhatian dan balasan Anda.
    1 jawaban · Fesyen & Aksesoris · 6 tahun yang lalu
  • Apa yang sebaiknya saya lakukan untuk pindah & kuliah musik?

    [LATAR BELAKANG] Aku saat ini kuliah di jurusan teknik sistem komputer di salah satu PTN di kota Semarang. Aku adalah anak pertama dari ketiga bersaudara dan tinggal bersama ibu yang single parent. Aku sudah duduk kuliah hampir genap 3 tahun. Namun, aku tidak mendapati diriku dari semester ke semester semakin baik. Yang ada indeks prestasiku... tampikan lainnya
    [LATAR BELAKANG] Aku saat ini kuliah di jurusan teknik sistem komputer di salah satu PTN di kota Semarang. Aku adalah anak pertama dari ketiga bersaudara dan tinggal bersama ibu yang single parent. Aku sudah duduk kuliah hampir genap 3 tahun. Namun, aku tidak mendapati diriku dari semester ke semester semakin baik. Yang ada indeks prestasiku semakin menurun. Pada semester ke-5, IP-ku jatuh hingga 1 koma sekian. Teman-teman yang bertanya & berbicara tentang IP padaku tidak percaya. Sebagian mereka menilai aku pemalas atau mahasiswa yang tidak niat kuliah. Dalam hatiku, rasanya itu menyakitkan tentu saja, sebab ini bukan aku yang sebenarnya. Ini bukan yang kuharapkan sejak SMA. Tapi aku juga mengakui kalau aku tak semestinya melanjutkan kuliah di bidang teknik komputer dan beralih jurusan sesuai minat, bakat, & passion-ku aja. Aku lebih tertarik pada bidang seni/humaniora--sebab, sejak SMA, aku aktif mengikuti kegiatan paduan suara & itu kulanjutkan hingga kuliah saat ini. Pikiran untuk pindah ini sebetulnya sudah muncul sejak saya mulai duduk di bangku kuliah tahun ke-2. Aku sempat mengutarakan ini beberapa kali pada ibuku. Bahkan, sampai membuat konflik antara aku dengan ibu. Ibuku setiap kali mendengar ini akan menangis. Aku tentu tidak mau membuat beliau menangis berlarut-larut. Tulang punggung keluarga utamanya pada ibu--namun aku kini juga sedang sambilan. Beliau tak sanggup membayari aku untuk pindah sekolah. AKu memang bisa saja ambil kursus musik seperti di Yamaha atau Purwacaraka atau manapun, tetapi ibu tak mampu membiayai itu. Pernah di samping kuliah, aku kursus vokal privat pada salah seorang pelatih vokal di Semarang, namun itu hanya berlangsung 3 bulan. Setelah itu, aku memutuskan berhenti, karena aku tak bisa memaksa ibuku untuk membayari biaya les vokal. Aku merasa seperti disodorkan buah simalakama. Di sisi lain, aku juga tak ingin kreatifitasku terkungkung atau hidupku menjadi semakin lebih buruk. Aku ingin kuliah seni musik tanpa harus membebani ibuku. Aku ingin belajar musik totalitas dan secara profesional. Aku tak mau belajar musik setengah-setengah seperti yang orang lakukan & pikirkan pada umumnya. Supaya aku bisa berkarya yang baik & bermakna bagi masyarakat secara luas nantinya. [MASALAH/PERTANYAAN] Aku berencana untuk pindah kuliah dengan mengikuti beasiswa dari suatu sponsor sekolah dari Jepang. Kenapa demikian, karena aku belum mendapati sponsor penyelenggara sekolah/kuliah bagi lulusan SMA yang dibayar penuh semacam itu di Indonesia--kalaupun ada itu biasanya untuk fresh graduate SMA pada tahun itu atau bidangnya bukan sesuai kemampuanku. Plan kedua--sekiranya jika aku tak diterima beasiswa tadi--adalah aku berhenti kuliah dan bekerja sebagai TKI di Jepang, lalu kugunakan uang penghasilan untuk sekolah vocational/kejuruan musik (setingkat diploma) di sana. Menurut teman-teman, adakah masukan atas hal ini? Atau, apa yang sebaiknya kulakukan? Terima kasih atas perhatian & jawaban dari Anda.
    2 jawaban · Pendidikan Tinggi (Universitas) · 6 tahun yang lalu
  • Antara saya harus berhenti kuliah atau tidak. Saya mau hidup mandiri, khususnya untuk hal kuliah.?

    Saya adalah mahasiswa yang tengah studi di semester 3 di jurusan teknik komputer di satu universitas negeri di Semarang. Seringkali muncul keinginan di pikiran saya untuk berhenti kuliah. Penyebabnya klasik yakni karena faktor ekonomi. Sebetulnya bukan masalah SPP atau biaya makan seukuran mahasiswa biasa, karena saya memaklumi bahwa biaya... tampikan lainnya
    Saya adalah mahasiswa yang tengah studi di semester 3 di jurusan teknik komputer di satu universitas negeri di Semarang. Seringkali muncul keinginan di pikiran saya untuk berhenti kuliah. Penyebabnya klasik yakni karena faktor ekonomi. Sebetulnya bukan masalah SPP atau biaya makan seukuran mahasiswa biasa, karena saya memaklumi bahwa biaya sedemikian itu pas/cocok mengingat SPP berlaku sekali tiap semester. Hanya saja, saya tidak bisa maksimal dengan tanpa ketersediaan sarana penunjang kuliah seperti beberapa komponen penunjang komputer seperti printer laserjet, modem USB, dan sarana literatur seperti buku-buku kuliah atau praktikal tentang komputer, biaya servis motor & komputer. Anda boleh menilai bahwa barang-barang yg saya sebutkan di atas tergolong murah & kita bisa cukup minta orang tua. Ya, memang demikian, tapi itu menurut kacamata Anda sebagi orang yg terfasilitasi dg baik. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah saya sudah tiada sejak Ramadhan 2004 lalu. Ayah saya dulu bekerja sebagai guru SMA negeri (PNS), sehingga sampai detik ini saya bersyukur kami mendapat tunjangan pensiun Ayah saya yg senilai--sampai periode Oktober 2011--Rp 9 ratus ribuan. Ibu saya adalah kepala sekaligus karyawan dari usaha swasta di bidang courier & cargo. Ibu berpenghasilan sekitar 700-an ribu, itupun jika Ibu bisa berhasil menagih customernya yg menunggak bayar usaha beliau. Ibu juga sampai saat ini masih ikut MLM di bidang kosmetik--dengan alasan beliau, ya inilah orang swasta. Kini, ibu saya bekerja sendirian untuk keluarga saya. Dua adik saya adalah seorg pelajar SMA 3 & pelajar SD kelas I. Saya jugalah, sebagai anak pertama, yg mengasuh adik2 di samping ibu saya. Saya sempat bersambilan sebagai guru les di suatu sanggar belajar maupun di tetangga rumah, tetapi itu hanya berjalan efektif selama 1 semester awal tepat pasca diterimanya saya sebagai mahasiswa baru. Paling banter, saya mendapat Rp 200.000. Saya bersyukur sempat mengecap bagaimana rasanya berpenghasilan sendiri lewat kemampuan saya sendiri. Saya berhenti mengajar les karena kesibukan kuliah & praktikum teknik yg luar biasa melelahkan. Saya memang berencana mengambil beasiswa. Hanya saja sampai sejauh ini, IPK saya belum mencukupi persyaratan beasiswa yg rata2 mensyaratkan 2,75 s.d 3,00. Saya tak menyangka sebelumnya jika kuliah di teknik komputer akan sesulit ini--mengingat agar skill komputer kita otimal, kita perlu mampu kemampuan bahasa pemrograman yg rumit dan hal itu belum ada pada diri saya. Saya tak ingin membebani ibu saya oleh sebab tuntutan kuliah. Saya, semenjak jadi mahasiswa baru, memang dibelikan laptop seharga Rp 4,5 jt oleh Ibu saya. Tapi, Ibu lalu bercerita bahwa ini hutang. Itu baru laptop. Ibu juga menanggung beban hutang biaya motor, biaya rumah, dan hutang-hutang lain yg mungkin beliau sembunyikan dari anak-anaknya. Saya tak bisa terus-terusan membebani ibu dengan tuntutan saya, seperti: printer, modem, dsb, jika kemudian itu hanyalah hasil hutang. Padahal, itu justru akan membebani ibu saya lebih banyak. Saya sebetulnya ingin berhenti kuliah atau pindah kuliah ke jurusan yg tak begitu membutuhkan banyak hal (kecuali uang SPI, SPP, paktikum, saya maklum hal itu). Namun, jika saya akan pindah kuliah, saya terkendala kembali oleh biaya & secara psikhis, ibu saya akan marah jika tidak kuliah di teknik--jujur, memang ibu saya ada sedikit pemikiran bahwa kuliah di teknik/kedokteran itu lebih menjanjikan, tapi pemikiran itu mungkin muncul karena ibu mengalami perubahan kondisi ekonomi yg drastis pasca ketiadaan ayah saya & menginginkan agar saya lebih berhasil dari beliau. Jika saya berhenti kuliah, saya juga terkendala bahwa saya tidak tahu harus bekerja apa. Mungkin saya bisa bekerja di usaha ibu saya. Tapi, ibu saya akan marah kalau saya sama dengan beliau. Bahkan ekstrimnya, saya juga sering berpikir untuk menjual diri saya sebagai tenaga pelacuran. Tapi, saya tak tahu harus menghubungi siapa. Hal ini juga memang bertentangan dg keimanan saya & semua impian saya u/ menjadi seorang motivator & impian-impian lain. Saya percaya Anda memahami ini. Tapi, saya harus bagaimana kembali. Dalam doa, saya merasa sangat berdosa, malu, dan terus bertanya pada diri saya, apa yg bisa saya lakukan pada TUHAN & orang lain jika saya seperti ini. Saya malu pada TUHAN jika hidup saya biasa saja & berakhir konyol. Saya tak bisa terus menerus hidup menderita hanya terhalang faktor ekonomi pada keluarga saya. Saya masih ingin menjadi pria yang baik. Saya ingin lebih bersyukur pada TUHAN & mengembangkan hidup ini. Saya tak mau terlalu cepat mati konyol. Apa yg sebaiknya harus saya lakukan? Saya mengucapkan terima kasih atas jawaban dan bantuan dari saudara pengguna Y!Answer yg lain. Terima kasih!
    5 jawaban · Pendidikan Tinggi (Universitas) · 8 tahun yang lalu
  • Virus yang menghalangi masuk ke situs antivirus?

    Saya sudah 1 semester menjadi pengguna antivirus McAffee 8.7i. Akhir-akhir ini, saya mengalami kesulitan untuk mendownload update AV di website McAffee. Setiap kali saya membuka situs update-nya, muncul teampilan "Server not found". Tapi jika saya membuka situs lain seperti Yahoo! atau FB atau yang lain, itu justru normal/baik-baik... tampikan lainnya
    Saya sudah 1 semester menjadi pengguna antivirus McAffee 8.7i. Akhir-akhir ini, saya mengalami kesulitan untuk mendownload update AV di website McAffee. Setiap kali saya membuka situs update-nya, muncul teampilan "Server not found". Tapi jika saya membuka situs lain seperti Yahoo! atau FB atau yang lain, itu justru normal/baik-baik saja. Saya sudah me-reset file hosts yang terdapat di %systemroot%system32/drivers/etc. Tapi, ini tetap tidak berhasil. Saya menduga ini akibat virus/malware. Bagaimana cara mengatasi hal ini? Terima kasih atas bantuan Anda!
    2 jawaban · Perangkat Lunak · 8 tahun yang lalu
  • Bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan berkualitas?

    Sebetulnya setiap pribadi orang merupakan pemimpin. Tinggal bagaimana kepemimpinannya itu menyesuaikan bidang atau hal yang merupakan keahliannya. Saya sebetulnya juga merasa berpotensi menjadi pemimpin, khususnya bila dicalonkan dalam organisasi atau kepanitiaan. Tapi, salah satu hal yang masih jadi hambatan saya adalah saya kurang bisa maksimal... tampikan lainnya
    Sebetulnya setiap pribadi orang merupakan pemimpin. Tinggal bagaimana kepemimpinannya itu menyesuaikan bidang atau hal yang merupakan keahliannya. Saya sebetulnya juga merasa berpotensi menjadi pemimpin, khususnya bila dicalonkan dalam organisasi atau kepanitiaan. Tapi, salah satu hal yang masih jadi hambatan saya adalah saya kurang bisa maksimal dalam hal pengaktifan anggota-anggota yang bidangnya di bawah saya. Artinya, tak jarang tugas-tugas ditangani satu (anggota) divisi, sementara anggota yang lain masih terlihat menganggur. Saya pun sebagai ketua, terkadang kerepotan menghadapi deadline yang harus dipenuhi. 1) Apakah rasa "repot" saya itu merupakan hal yang wajar? Atau, seorang ketua memang harus santai--mengingat dia punya bawahan? 2) Saya bukan tipe orang yang sok nge-bos atau "bossy". Karena saya punya prinsip, kalau suatu masalah itu masih sepele dan bisa ditangani sendiri, lebih baik saya segera tangani sendiri tanpa harus meminta atau bahkan merepotkan orang lain. Saya juga punya prinsip bahwa kepemimpinan itu suatu bentuk pelayanan pada masyarakat. Sehingga seorang ketua/pemimpin harus dituntut mampu memberikan yang terbaik pada masyarakat. Apakah sikap saya yang semacam ini, dalam hal kepemimpinan, normal pula? 3) Bagaimana menghadapi komplain dan atau tekanan dari orang lain atau bahkan bawahan sendiri yang tak mau memahami kondisi seorang pimpinannya, melainkan sebatas NATO (No Action Talk Only)? 4) Jika dalam kondisi got stuck atau buntu, saya terkadang menjadi sedikit kurang bersemangat dan pada akhirnya, menyerahkan secara sementara satu atau beberapa tugas kepanitiaan kepada wakil saya. tapi, saya tetap memantau saja. Apakah ini tak apa-apa? Demikian pertanyaan dari saya. Saya mengharapkan bimbingan dan saran yang membangun dari Anda, agar ini bisa menjadi bahan renungan/pelajaran. terima kasih! Semangat & Sukses!!!
    5 jawaban · Lain-lain - Politik & Pemerintahan · 8 tahun yang lalu
  • Rekomendasi laptop yang baik sesuai profesi saya.?

    Saya adalah mahasiswa yang kuliah di salah satu universitas terbesar di Semarang. Saya kuliah di bidang TIK spesifikasi teknik. Saya tengah mencari laptop yang baik. 1) Saya suka melakukan editing ataupun drawing dengan Corel ataupun Photoshop, 2) Saya belajar pemrogramnan dengan Visual Studio 2010, 3) Saya suka ber-internet, 4) Saya suka... tampikan lainnya
    Saya adalah mahasiswa yang kuliah di salah satu universitas terbesar di Semarang. Saya kuliah di bidang TIK spesifikasi teknik. Saya tengah mencari laptop yang baik. 1) Saya suka melakukan editing ataupun drawing dengan Corel ataupun Photoshop, 2) Saya belajar pemrogramnan dengan Visual Studio 2010, 3) Saya suka ber-internet, 4) Saya suka bermain game-game dari Pop Game manakala saya sedang penat, 5) Saya juga suka mendengarkan .mp3 manakala saya mengerjakan tugas melalui PC, 6) Saya suka film box office dan game game-game hi-end, semacam The Sims 3. (premis 4 tak mutlak) Berdasarkan kegiatan saya sebagaimana terlampir di atas, bagaimana laptop rekomendasi yang cocok untuk saya? Mohon sebutkan secara objektif (kelemahan+kekurangan) minimal secara garis besar dan lebih lengkapnya mohon beritahukan saya website terkait! Terima kasih!
    3 jawaban · Lain-lain - Komputer · 8 tahun yang lalu
  • Seniorku, bebanku...?

    Saya sedang kuliah IT di salah satu universitas negeri di Indonesia. Di sana, ternyata praktik-praktik semacam kekerasan, pelecehan, pemaksaan pemikiran dari senior untuk mahasiswa baru masih berlaku. Mereka tak segan memaksa saya & teman se-angkatan saya untuk tetap ikut dalam alur kaderisasi mereka dan mengancam kami dengan menutup kesempatan... tampikan lainnya
    Saya sedang kuliah IT di salah satu universitas negeri di Indonesia. Di sana, ternyata praktik-praktik semacam kekerasan, pelecehan, pemaksaan pemikiran dari senior untuk mahasiswa baru masih berlaku. Mereka tak segan memaksa saya & teman se-angkatan saya untuk tetap ikut dalam alur kaderisasi mereka dan mengancam kami dengan menutup kesempatan beasiswa. Sempat pembantu dekan 3 turun tangan, tapi itu justru semakin memperburuk keadaan. Angkatan saya menjadi semakin gap dengan senior. Tetapi permasalahannya bukan itu. Saya menjadi tak bersemangat untuk kuliah. Bayang-bayang senior menjadi beban pikiran saya. Saya tak pernah mengharapkan ini. Saya tak pernah membayangkan kalau kuliah saya akan menjadi sesulit ini. Bisa saja, saya pindah kuliah, tetapi menurut saya, ini tak efektif. Ibu saya tentu tak akan mengizinkan dengan alasan keterbatasan dana pendidikan. Saya khawatir menjadi manusia komunis dalam 4 tahun kuliah ini. Teman, tolong saya....
    5 jawaban · Lain-lain - Masyarakat & Budaya · 9 tahun yang lalu