Lv 31.269 points

dark.phoenix60

Jawaban Favorit28%
Jawaban197
Pertanyaan20

Add my friendster in dark.phoenix60@yahoo.co.id

  • Butuh jawaban cepat, Tentang aborsi?

    Di sini, untuk pemenuhan tugas, saya ingin tahu tanggapan anda tentang aborsi. Terutama pada kasus khusus - medis dan derajat.

    Pada dasarnya tidak dibolehkan oleh pihak manapun. Tapi bagaimana jika dihadapkan pada indikasi medis dan penyelamatan salah satu nyawa (ibu / janin, bayi)? Apakah hal itu bisa ditolerir atau berada pada ambang keduanya? Mohon jawaban. Terima kasih

    9 JawabanLain - Kesehatan10 tahun yang lalu
  • Mohon bantuan cepat, Cara mengubah dokumen format .PDF menjadi .JPG?

    Mohon bantuan cepat, Cara mengubah dokumen format .PDF menjadi .JPG?

    saya memiliki scaner canon lide 100. saat membuka data yang telah saya scan, ternyata berformat .pdf. Saya ingin mengubahnya menjadi format .jpg.

    Bagaimana caranya dan program apa yang membantu untuk pengubahan format itu?

    3 JawabanPemrograman & Desain1 dekade yang lalu
  • Mohon bantuan cepat, Cara mengubah dokumen format .PDF menjadi .JPG?

    saya memiliki scaner canon lide 100. saat membuka data yang telah saya scan, ternyata berformat .pdf. Saya ingin mengubahnya menjadi format .jpg.

    Bagaimana caranya dan program apa yang membantu untuk pengubahan format itu?

    1 JawabanScanners1 dekade yang lalu
  • Apre, potongan cerita berikut.?

    “Maafkan aku.”

    Keduanya tertegun.

    “Kau dulu.” Kata Red kaku.

    “Maafkan aku karena aku sudah membuatmu begini. Terluka karena dendamku yang tidak bisa kau pahami. Aku ingin memperbaiki pesan ibuku yang dulu.” Wajahnya mendongak ke atas melihat kubah yang seakan melindunginya seorang diri dengan penuh kasih. “Sekarang kau.”

    “Aku ingin minta maaf atas Bangsa Amphitere – bangsaku. Kuharap kau mau…”

    “Aku tidak akan memaafkannya….”

    Red menunduk. Percuma, pikirnya.

    “Kecuali kau.”

    “Apa?”

    “Maksudku, aku akan memaafkanmu saja daripada memaafkan keseluruhan bangsamu. Tapi itu tidak berarti aku mempercayaimu sepenuhnya. Aku sebenarnya dendam pada Damian dan orang – orang busuk yang mengabdi padanya. Zeref juga tak akan kumaafkan. Bagaimana?”

    “Itu sudah lebih dari cukup. Setuju.” kelegaan timbul di hati Red. Tak disangka akan begini rasanya saat permintaan maaf kita atas perbuatan yang bukan ulah kita dimaafkan.

    “Aku merasakan kekuatan kalian yang besar menyatu dengan harmonis.” sahut seseorang dari belakang mereka. Mereka menoleh dan melihat Harem berdiri di sana dengan tongkatnya. Ia duduk di tengah.

    “Kalian sudah berbaikan, eh?” Harem berlagak menyelidik sambil memicingkan mata.

    “Ya. Bukankah itu menyenangkan?” jawab Gizard berseri – seri. “Belum pernah aku melasa bebas dan lepas seperti ini. Aku rasanya dapat melayang sampai ke tempat Dewa Ra.”

    “Kau akan melakukannya jika sudah bebas dari tubuhmu.” balas Harem.

    Red hanya tersenyum melihat mereka berdua bicara. Harem berbalik menatap Red engan wajah serius.

    Jelas ini bukan bercanda dan benar – benar sangat serius.

    “Red, aku menemukan sedikit berita tentang bangsamu dari burung – burung salju negara ini. Mereka…” Harem menghentikan sejenak melihat Red tersentak dan khawatir saat mendengar nama bangsanya disebut. “….dalam keadaan yang tak bisa ditolelir orang. Kau mengerti maksudku.”

    “Apa anda bisa memperlihatkannya padaku. Maksudku, keadaan mereka dari suatu materi seperti melakukan sihir Sight .”

    Harem berpikir. Janggutnya menjuntai begitu saja seperti salju longsor yang ada di depan benteng.

    “Kumohon.” desaknya. “Aku ingin tahu tentang ibuku. Semuanya. Sudah berhari – hari aku tak tahu apapun dan kemarin aku baru memikirkan mereka. Bantu aku untuk melihatnya.”

    “Ada sihir yang lebih mudah dari Sight namun lebih sedikit waktunya. Mungkin cocok untuk ini. Mirror Sand bisa melakukannya.”

    Harem berdiri maju beberapa langkah. Berlutut, ia menyapukan pasir dengan telapak tangannya. Pelan – pelan pasir mulai menyingkir ke pinggir. Satu tanah dengan skala sedang bersih dari pasir beberapa menit kemudian. Orang tua mulai mengucapkan mantra.

    “Cepatlah!”

    “Red. Sopan santunmu.” Gizard menyikutnya dari belakang untuk mengingatkannya. Itu membuatnya berhasil ingat tata krama sekaligus meringis sakit.

    Tanah kering mulai memantulkan bayangn ibarat cermin kusam yang makin bersinar saat dibersihkan. Hal pertama yang mereka lihat adalah bayang – bayang hitam yang menjelma menjadi belasan sosok berjalan. Beberapa bayangan menggambarkan pemiliknya. Lengan putus, tubuh yang caccat karena cambuk berduri bahkan red bisa melihat tulang mencuat dari beberapa bayangan. Ia mual menyaksikan sosok bayi mati terinjak – injak sekumpulan pasukan Damian. Kulitnya abu – abu kebiruan tergeletak hancur di tanah. Makhluk mungil malang itu padahal baru saja lahir beberapa hari lalu. Bertepatan dengan lolosnya Red dari penangkapan anggota bangsanya.

    “Bangsa…ku….” Red menahan napas tak percaya. Gizard juga melayangkan tatapan yang sama. Rahangnya mengeras, geram melihat pemandangan yang dilihatnya lewat sihir Harem. Sementara Harem kaku bagai boneka kayu. Matanya memicing tanpa eskpresi. Namun keadaan hatinya sama seperti apa yang dua pemuda itu rasakan.

    Mengenaskan. Itu kata yang tepat saat ini.

    Mata merah Red langsung tertuju pada seorang wanita paling belakang. Ia dipapah oleh wanita tua. Kulitnya yang mulus tersayat di beberapa tempat. Matanya tertutup dan rambutnya berantakan. Red menyadari siapa itu.

    “Ibu!!” ia berteriak Begegas mendekat ke Harem. Namun, Gizard mencegahnya dengan menggeleng sekaligus memegangi lengan Red dengan keras.

    “Kau akan mengganggu konsentrasinya.” sentak Gizard. “Sekarang kita tak bisa melakukan apa – apa.”

    “Tapi…”mendadak apa yang ingin diutarakan menguap dari pikiran saat melihat cermin pasir sudah memburam tak terlihat apapun.

    “Aku hanya bisa sampai sini.” Harem mengusap keringat. “Hanya sebatas itu pula aku tahu tentang ibumu. Sekarang kembalilah ke tenda dan benahi diri kalian. Kita akan bekerja.”

    Harem berlalu setelah menepuk bahu Red yang kaku karena shock melihat keadaan ibu yang disayanginya.

    Ia tak bisa melakukan apapun.

    Gizard membantunya berdiri, meninggalkan pasir pembawa berita takdir berkumpul menjadi satu meratakan tanah seperti sediakala.

    Sekali lagi, ia tak bisa melakukan apapun.

    Aku memang tak berguna….pikirnya.

    4 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Mohon Bantuan cepat.Di mana situs tempat download dokumen RAR secara gratis dan lengkap?

    Kebanyakan situs yang saya kunjungi memerlukan persyaratan. Tambah lagi, Rapishare.com selalu error.

    Apa ada situs lain yang bisa menyediakan .RAR secara ggratis dan lengkap?

    Terima kasih.

    5 JawabanJaringan Komputer1 dekade yang lalu
  • Mari kita kembali sedikit pada awal cerita ini. Apre?

    Aku tak bisa!

    Aku berusaha menghentikan kedua tanganku menghunjamkan pisau yang kupegang-dan tampaknya berhasil. Tinggal satu mili lagi aku akan mengambil nyawa Amphitere ini. Akasha benar, aku hanya seorang pengecut! Lagipula seperti yang kudengar sebelumnya, orang ini masih belum tahu dunia yang sekarang, tambah lagi seumuran denganku.

    Dia tak mengerti apa-apa.Tapi aku dengan seenaknya ingin membunuhnya. Kulemparkan pisauku ke sudut tenda dengan jijik. Aku tak habis pikir-terperangah dengan sikapku sejak kedatangannya.

    Keheningan sesaat berganti dengan erangan Red.

    Dia mulai sadar. Pelupuk matanya terbuka, memperlihatnya matanya yang merah menyala bagai api. Walaupun sekilas melihatnya, aku bergidik ngeri melihat matanya yang seolah-olah dapat membakar dalam satu tatapan bahkan kedipan. Ia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tatapannya perlahan beralih melihatku dengan rasa lelah yang belum pernah kulihat.

    “Gizard….” desisnya lemah.

    “Red…” bisikku tajam.

    “Di mana ini?”

    ‘Tenda Akasha dan sesepuh Harem.” jawab Gizard ketus. “Seharusnya kau mati saja di gua waktu itu.”

    “Ya.” Red tersenyum lemah. “Agar tidak ada yang seperti kau lagi. Agar tidak ada yang mati lagi karena bangsa Amphitere.”

    Gizard terdiam. Pemuda ini sudah siap mati sejak awal rupanya. Ia menunggu Gizard memberi jawaban. Pandangannya redup, tanpa semangat hidup. Red manarik napas dalam tiga kali sebelum membuka mulut mengatakan sesuatu.

    “Gizard…..”

    “….”

    “Maukah kau memaafkanku? Memaafkan bangsaku yang sudah melakukan hal keji sampai sejauh ini?”

    “Mungkin…..tidak.”

    Jawaban Gizard membuatnya kehilangan kata-kata. Sesuai dugaannya, tidak mudah meminta maaf. Red memalingkan wajah.

    “Begitu..”

    Hening. Cukup lama.

    “Red!”

    Seseorang berteriak dari balik pintu tenda. Akaha, ia langsung masuk dan duduk disamping Red. Memeriksa apakah ada bagian tubuh yang terluka. Setelah yakin tidak ada goresan sedikitpun, ia berdiri, menatap marah pada Gizard.

    “Apa yang nyaris kau lakukan padanya?’ hardiknya.

    “Apa yang...” Gizard terbata-bata.

    “Aku melihatnya! Kau hendak membunuhnya! Ini sudah keterlaluan!”

    “Tapi…”

    “Akasha, dia tidak melakukan apapun.”sanggah Red. Suaranya keras dan meyakinkan. Akasha jadi agak gentar.

    Red menyelipkan sesuatu di tangan Gizard. Begitu merasakannya, Pemuda berambut hitam itu pergi.

    Akasha menemani Red. Lagi, ia memeriksa Red, apakah ada yang terluka. Ia ingin semuanya tanpa lecet. Bahu gadis itu berguncang. Ditundukkan wajahnya hingga matanya tak terlihat. Ada tetesan air yang jatuh satu-persatu ke pipi Red. Red bingung kenapa ada hujan kecil membasahi wajahnya.

    “Akasha…apa kau menangis..?”

    “Aku tak bisa berbohong. Rupanya tidak pintar berbohong.” isaknya lirih.

    “Katakan. Ada apa?” tanya Red parau.

    Hening kembali. Lebih lama dibandingkan saat ia bersama Gizard.

    Angin berhembus. Membawa pasir ke udara kemudian jatuh lagi.

    * Cerita Sengaja mundur karena aku masih agak janggal dengan ini.

    Memang, cerita di tiap pertanyaan in terkesan tak runtut. Sebenaranya karena melompat - lompat saja.

    2 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Lanjut, lanjut.....Apreny?

    Malam bergaun bintang menyapu cahaya matahari yang telah melemah.

    Aku duduk di tunggul kayu lapuk, tempat dimana Akasha dan Sitera biasa berlatih. Rambut putihku seakan tersembur akibat terpaan angin.

    Mungkin ini saat tepat untuk mengeluarkannya, pikirku.

    Pelan – pelan, sesuatu mencuat dari punggungku. Sepasang benda hitam dengan panjang – terentang – sepuluh meter dari ujung ke ujung. Setelah sekian lama, aku sempat mendengar tulangku berderak karena kaku. sesuatu itu menaungiku agar aku hangat. Banyak bulu burung berjatuhan disekitarku.

    Nyaman sekali…

    “Red. Kau di sana?”

    Spontan sayapku masuk dengan kecepatan tinggi ke punggungku. Waspada, aku menunggu siapa yang ada di sana tanpa suara. Sang empunya suara menyembul keluar dari sisi tenda. Ia membawa lentera bulat berjalan mendekatiku. Aku lega mengetahui siapa yang bicara tadi.

    “Gizard. Kau rupanya.”

    “Kau pikir aku siapa?” tanyanya sinis. Ia duduk di sampingku dan menunjukkan bulu burung berwarna hitam yang dipungut sebelumnya.

    “Aku tidak tahu ada burung hidup di sini. Di mana?”

    “E…entahlah….” jawabku gagap. Jangan sampai tahu, pikirku.

    Matanya memicing penuh selidik. “Benarkah? Ayo, jujur saja.”

    Orang ini membuatku kalap. “Sungguh, aku tidak tahu.”

    “Kau tidak asyik.” akhirnya menyerah.

    “Itu privasi.”

    “Ya, ya.” dia sudah tak tertarik lagi dan menjetikkan bulu itu ke satu sisi. Membiarkannya jatuh tanpa suara.

    Ia mengadah ke langit – kubah dahulu – berusaha melihat bintang berperdar walaupun hanya satu.

    “Ah, aku menemukannya!” serunya sambil tergelak.

    “Apa?”

    “Bintang kuning bederang simbol Dewa Ra. Langit timur. Ya, di sana.”

    Benar katanya. Bintang dengan sudut segi empat memancarkan terang yang sangat luar biasa indah. Walaupun hanya satu, Ini luar biasa.

    “Ini pertanda baik.” ujarku senang.

    “Kau tahu maknanya juga, Red?”

    “Hanya sedikit.” aku mengambil napas untuk mulai menjelaskan sedapat yang kubisa. “ Ra, salah satu dewa yang menurut legenda pengendali angin dunia. Disegani karena kewibawaannya dan memilih beberapa orang sebagai bakal klannya. Akhirnya lahir klan kuat bernama Ra. Lama – kelamaan nama klan berubah menjadi bangsa seiring bersatu dan membesar dengan Negara Zarc. Bintangya menandakan simbol kejayaan dan kebebasan yang lemah saat terang seperti saat ini.”

    “Kau membuatku kagum, sekali lagi.” jelas Gizard terheran – heran.

    “Tapi masih ada lanjutannya.” tambah Gizard. “Tentang kembalinya sang dewa, kau tahu bagaimana?”

    “Tidak.”

    Jujur, untuk hal ini aku tak tahu. Aku hanya membacanya sebentar. Itupun sebatas dari buku milik ayah yang sudah keras dan menguning kertasnya.

    “Dia membakar dirinya sendiri dengan angin dan panas matahari. ‘Menembakkan diri’ ke inti matahari demi memberikan kembali jantung manusia yang melindunginya dengan gagah berani.”

    “Sampai sebegitunya?” benar – benar pengorbanan dewa yang luar biasa kalau begitu.

    “Tapi tidak berjalan semulus itu. Dia malah hancur bersama orang itu. Mereka menjadi angin musim semi yang sejuk sejak langit mengangkatnya ke atas sana. Setidaknya itu hal baik.”

    Ia melanjutkan, “Tapi itu sudah tak terlihat – angin itu sudah lenyap setelah sekian lama.”

    Hening.

    Aku tersenyum padanya. Memberi sedikit dorongan, sekadar mencoba.

    “Pasti datang dengan waktu yang sangat tepat suatu hari nanti. Membersihkan semua ini.” ucapku.

    3 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Lagi - lagi lanjutannya melompat jauh. Tolong pendapat dan ejaannya?

    Hari menggantikan malam tanpa disadari oleh semua orang.Tidur untuk beristirahat sudah habis. Semua mulai beraktivitas tak terkecuali Bangsa Ra. Mereka mulai berkelompok, sesuai dengan tugas masing-masing. Para wanita menenun kain dari kulit binatang dan para pria mengapak kayu untuk persediaan kayu api. Anak-anak kecil yang ada tak luput dari pekerjaan yang ringan-mengangkut hasil hewan yang mereka ternakkan menuju gudang pasokan. Tempat mereka mendapatkan tenaga dan pertahanan hidup sampai hari ini.

    Tak ada pemuda atau pria yang cukup kuat diantara mereka semua. Semuanya telah dibawa kepada Damian untuk dijadikan budak atau prajurit. Hanya Gizard muda yang tersisa. Para pengapak kayu tak lebih dari kumpulan laki-laki separuh baya. Gizard membantu mereka semua sebisa mungkin kecuali dalam hal menenun. Ia tak bisa dan tak mau bisa menjahit kulit. Ia melihat Harem bersemedi di dalam tenda. Sesekali menarik napas sambil menaburkan sesuatu ke api.

    Akasha sedang mencoba mengangkat kotak barang yang besar. Ia mengerahkan tenaganya sebisa mungkin namun benda itu tak terangkat. Padahal semua benda itu harus berada di gudang obat sekarang. Dalam hati, ia sedikit menyesal. Seharusnya ia melihat barang yang akan dibawanya sebelum menyanggupi pekerjaan yang akan diterimanya.

    Dengan usaha terakhir, ia mencoba mengangkat barang itu lagi. Secara ajaib, benda itu terangkat. Ia menoleh ke belakangnya. Red berdiri di sana, membantu Akasha mengangkat barang tersebut.

    “Apa kau tidak apa? Kau masih belum pulih.” ujarnya panik.

    Red hanya tersenyum sambil mengangkat beban ke pundaknya. “Aku sudah biasa terluka sejak kecil. Seperti ini saja tidak apa-apa.” balasnya lembut sambil berlalu ke gudang obat.

    Red berjalan perlahan. Luka di paha kirinya berdenyut pelan. kakinya berusaha untuk tetap seimbang di tanah. Begitu juga luka di bahu kanan juga tak jauh berbeda. Sebenarnya, dia masih belum pulih secara total, dia hanya tak mau berbaring begitu saja menonton atap tenda sendirian tanpa bergerak. Membosankan, pikirnya. Langkahnya sedikit gontai. Ia berusaha bertahan dengan tenang menuju tempat penyimpanan. Tapi kakinya seakan tak mau menurut, ia oleng dan nyaris jatuh, numpahkan obat – obatan yang ada di dalam kotak.

    Sebelum itu terjadi, sepasang tangan menyentuh kotak dan lengan Red. menegakkannya secara cepat sehingga tidak melayang jatuh. Orang itu bersama dengan Red membawa kotak bersama. Wajahnya tidak telihat oleh Red karena terhalang oleh kotak yang disandangnya bersama dia. Rambut hitam keabuan milik orang itu berkibar ke samping. Tanpa bicara, ia membantu Red sampai ke gudang. Tepat saat menaruhnya di dalam, ia bisa melihat siapa orang itu sekarang. Gizard berada di hadapannya. Beradu mata dengan tatapannya yang dingin.

    “ Terima kasih.” ucap Red perlahan saat mereka mendapat tugas untuk membongkar kotak itu oleh sang pengurus. “ Jika kau tak ada, kotak berharga ini akan hancur karenaku.” lanjutnya.

    “ Ini kewajibanku. Aku tak ingin menolong kau sebenarnya, tapi sama – sama.” balasnya dengan nada cepat dan datar.

    “Aku…..” Red mengurungkan kata – katanya. Ia berniat untuk meminta maaf. Sekali lagi…..

    “Apa?” Gizard mendongak menatap Red.

    “Aku menyesal atas apa yang terjadi pada bangsamu juga ….orang tuamu.” kata Red tanpa mengalihkan pekerjaannya memilah obat.

    “Sudah berlalu.” jawabnya santai. “Tapi tak akan membuatku luluh untuk memaafkanmu.” tambahnya pelan.

    “Ya. Aku tahu. Lalu, di mana aku harus menaruh ini?” tanyanya saat menunjukkan Gizard tanaman jamur berwarna merah dengan bintik biru kemerahan yang melingkari puncak tudungnya.

    “Taruh di bagian beracun. Itu Oryzth. Jamur yang akan membuatmu tewas hanya karena serbuknya saja. Sekali hirup akan mati, jadi kami mengambil yang masih belum matang.”

    “ Untuk apa semua bagian beracun ini?” tanya Red.

    “Obat yang jelas. Dan alat penghindar satu – satunya untuk kami dari Guardians.”

    “Siapa orang – orang yang kalian sebut Guardians ini?”

    “Mereka orang – orang busuk yang mau mengabdi pada Damian. Setelah ia memerintah bangsamu, ia mengambil tujuh orang tertentu untuk dijadikan penjaganya. Dengan bodohnya mereka setuju dan perlahan namun pasti rencana orang itu – Damian – untuk mempengaruhi mereka terwujud karena keterampilannya berbicara.

    “Tambah lagi, tujuh orang itu adalah perwakilan dari semua bangsa di Negara Zarc ini. Orang – orang yang seperti iblis itu membantunya untuk tetap pada posisinya. Kau tahu, seorang pemimpin – terutama yang jahat – harus konsisten pada perbuatannya. Hal yang menyengsarakan kami semua. Konon, mereka pernah menghancurkan satu benteng milik negara lain di perbatasan utara. Dalam waktu semalam. Padahal setahuku, benteng itu sangat kuat dan modern.”

    “Semua perwakilan bangsa…”desis Red pelan.

    “Berterimakasihlah pada pemimpin bangsamu yang sekarang. Ia sangat membuat kami senang dengan badai salju ini. Sampaikan itu!” sindirnya.

    “Justru aku ingin melawannya!” tukasnya. “Aku tak ingin ada yang mengalami ini.”

    “Jika sudah

    5 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Cara membuat kue yang runtut. Cerita maksudny?

    Tolong dan mohon sangat bantuannya untuk cara membuat cerita yang runtut.

    -_-:

    Thx

    1 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Bagian.....tlg pendapatnya. Baca pertanyaanku yang lain untuk keseluruhan.?

    Red berdiri di depan tenda keesokan harinya. Kepalanya mengadah ke langit-langit benteng. Ada kabut coklat tipis mengelilingi benteng. Seperti kubah. Mungkin untuk menghalangi salju yang masuk ke sini. Diperhatikannya semua orang. Kebanyakan orang di sini semuanya perempuan. Para pemuda dan orang tua laki-laki bisa terbilang sedikit. Damian mengambil mereka untuk dijadikan budaknya.

    “Kakak..” sebuah suara kecil sampai ke telinganya. Sitera dan Akasha menghampirinya. Juga dengan Gizard yang mengikuti di belakang. Hari ini, mereka akan menembus badai menuju hutan yang membeku di sebelah barat benteng. Sitera berlari kecil dan memegang tangan kiri Red yang dua kali lebih besar dari tangan mungilnya.

    “ Ayo, Kak.” serunya riang. “ Kita berangkat.”

    “ Kau tak punya baju dingin ya?” tanya Akasha. " Kita akan mengarungi badai salju. Ambillah ini. Baju mendiang ayahku, Kurasa ukurannya cocok.”

    Red menerima pakaian tersebut dan segera memakainya. Ukurannya pas. Matanya tertuju pada Akasha dengan pandangan ragu. Ia memberanikan diri untuk mengatakan hal itu.

    “ Mendiang ayahmu….kenapa dia?” tanya Red terbata.

    “ Meninggal karena sakit. Sudah tak apa. Ibuku juga.” ujarnya tersenyum. Red merasa bersalah menanyakannya.

    Bagus Red, kau membuatnya sedih. gumamnya dalam hati. Tapi Akasha masih tersenyum. Ia berjalan di sebelah kanan Red dan berbisik.

    “ Jangan menyalahkan dirimu. Kau tidak salah.”

    Red tersentuh mendengarnya. Senyum sendu terbentuk di bibir yang terselip diantara rambutnya yang putih. Hanya Gizard yang diam. Terus memperhatikan. Tangan kanannya memegang gagang pisau yang siap menghunus apapun.

    Badai salju kali ini tidak terlalu hebat. Angin yang tidak begitu menampar-nampar wajah mereka membuat mereka sampai di hutan dengan cepat. Dilihat bagaimanapun, hutan itu sama dengan tanah gersang kering dengan ranting hitam kering menyembul tertimbun tanah putih. Ada gua diantara gundukan tanah yang menjulang tinggi berlapis salju dan batang pohon diatasnya. Mereka berhenti sesaat untuk mencari bahan-bahan obat di sana dengan cara menggalli. Akasha dan Sitera menggali sementara Gizard dan Red melindungi dari terpaan butir salju.

    “ Ayo kita pulang. Bahan-bahannya sudah ketemu.” seru Akasha menyaingi gemuruh badai.

    “ Cepat sekali.” gumam Red.

    “ Ayo pulang.”ajak Sitera. Hanya Sitera dan Akasha yang pulang. Gizard menahan Red untuk tetap bersamanya.

    “ Red, aku ingin bicara padamu. Lebih baik di gua sehingga kita tak perlu berteriak satu sama lain.”

    Menyusuri daerah dalam gua, Red memperhatikan dinding-dindingnya. Sangat indah.

    Biru dengan pantulan air. Ia sangat kagum sebab tak pernah melihat hal seperti ini. Gizard berhenti di depan, ia berbicara tanpa berbalik.

    “ Red.”

    “ Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?”

    “ Kau dari bangsa apa?”

    “ Ehh…” Red enggan memberitahukannya. Ia ingat perkataan Harem. Jangan beritahukan nama bangsamu walaupun orang-orang bertanya ratusan kali. Dengan begitu, kau mungkin bisa diterima dengan baik di sini tanpa ada yang curiga.

    “ Aku….bangsaku…..” Red bingung. Jawaban apa yang harus diberikan. Ia hanya bicara sekenanya.

    “ Aku tidak tahu. Ibuku tak mengatakannya.” dustanya.

    “ Jangan bohong.” sela Gizard. “ Aku tahu siapa kau. Kau yang membuat kedua orang tuaku terbunuh. Bangsaku merana karena perbuatan bangsamu. Harem boleh kau tipu. Juga Akasha, Amphitere. Tapi kau tak bisa menipuku, Gizard Ra.”

    Gizard berbalik dengan pisau ternuhus. Ia melangkah ke depan Red dan menusuk bahu kanannya secara tiba-tiba. Red tak diberi kesempatan menghindar. Spontan ia langsung berteriak dan jatuh terduduk.

    “ A, mau apa kau?”

    “ Membunuhmu. Balas dendam.”

    “ Aku tak melakukan apapun!” bantahku.

    “ Kau dari Amphitere. Kau sama dengan mereka, setan. Iblis.”

    “ Kau tak bisa seperti ini. Justru kau yang iblis. Mau membunuh tanpa alasan.” jeritku.

    “ Diam!” bentaknya. “ Tusukan tadi adalah cara kalian membunuh ayahku. Ditambah ini..”

    Gizard mengarahkan mata pisaunya ke paha kiriku. Dengan sigap aku berkelit. Aku bisa melihat rambutnya yang hitam basah karena keringat. Aku tak mengerti apa maksudnya berlaku seperti ini. Aku berhenti, memperlebar jarak agar aku bisa menyerap semua ini.

    “Aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan padaku? Mengapa tiba-tiba begini?”

    “ Kau ingin tahu? Baik. Akan kukatakan dengan jelas agar kau bisa paham. Seperti yang kita tahu, negara ini terdiri dari tujuh bangsa yang rukun satu sama lain dulunya. Tapi hal itu berubah sejak Damian berkuasa atas bangsamu. Bukannya menolak orang itu, mereka malah menuruti kehendaknya. Dengan mudah mereka berbelok dari kebenaran dan damai. Enam bangsa lain kena getahnya. Yang muda dan masih kuat diperbudak dan lainnya dibunuh. Salah satu korban mereka adalah orang tuaku dan Sitera. Tak hanya itu, semua pemuda dan lelaki yang dianggap kuat dibawa ke sana.” Gizard menarik napas, melanjutkan kembali.

    “ Sedangkan yang perempuan, dijadikan patung batu untuk mengisi tamannya. Ini perbuatan kalian sendiri. Perbuatan bangsa

    3 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Tolong beri tanggapan akan ejaan dan cerita keseluruhan?

    Perkenalan

    Aku tak mengerti. Aku hanya menyebutkan nama dan mereka langsung terkejut. Kalau tidak salah, aku kabur dari orang-orang yang sedang mencoba membawa ibu dan lainnya ke tempat Damian. Pelarian itu menghasilkan luka dan kelelahan yang sangat. Aku berjalan tanpa arah, terjatuh di salju dan semua menjadi gelap. Sebelum membuka mata, aku merasakan rasa hangat yang mengalir dari kepala sampai kaki. Sepertinya sesepuh bernama Harem itu yang membuatku tersadar.

    “ Ada apa? Ada yang salah?” tanyaku bingung.

    “ Kau dari bangsa Amphitere?” tanya Harem.

    “ Adakah yang salah dengan itu?’

    Harem duduk di sampingku seperti semula. Perempuan bernama Akasha juga melakukan hal yang sama.

    “ Ceritakan tentang dirimu. Dari awal sampai akhir.” tutur Harem. “ Aku ingin dengar semuanya.”

    “ Aku Red dari bangsa Amphitere. Lahir di tempat persembunyian seperti kalian. Selama delapan belas tahun aku di sana sampai sekelompok orang suruhan orang yang bernama Damian mengobrak-abrik semuanya. Mereka juga membawa ibuku. Hanya aku yang berhasil lolos dan akhirnya sampai di sini.”

    “ Hanya itu saja?” tanya Harem menyelidik.

    “ Iya.” jawabku. Harem masih ingin tahu lebih dalam lagi. tampaknya ia tidak percaya denganku. Matanya yang abu-abu menatap mataku dalam-dalam. Seolah aku menceritakan sebuah kebohongan. Sesaat kemudian ia mendesah.

    “ Tampaknya kau tak bohong. Kukira kau akan menangkap kami semua tanpa sisa.”

    “Apa maksudnya?” tukasku. “ Aku tak akan melakukan itu. Mendiang ayahku pasti akan marah. begitu kata ibuku.”

    Aku tak terima perkataannya yang menganggapku seperti orang jahat dan munafik.

    “ Bocah….”

    “Itu kata yang paling kubenci. Bocah..” pikirku. Sepertinya ia mengerti pikiranku dan langsung mengubah kata-katanya.

    “ Baik, Red. tadi kau bilang mendiang ayahmu. Siapa dia? Seperti apa wajahnya?”

    “ Aku tak pernah lihat wajahnya karena dia meninggal tiga hari sebelum aku lahir. Tapi kalau namanya, ibu pernah menceritakannya. Nama ayahku adalah Aaron Amphitere.”

    Begitu kukatakan nama ayahku, ia langsung menghembuskan napas lega. Akasha yang tidak bicara juga melakukan hal yang sama.

    “ Putra Aaron, rupanya. Berarti kau teman kami.” gumamnya singkat.

    “ Memangnya kenapa kalau ayahku bukan Aaron?” dengusku. “ Kutegaskan lagi. Keluargaku , bangsaku, terdiri dari orang-orang yang baik dan terhormat. Tak akan ada yang melakukan perbuatan buruk seperti itu. Melanggar salah satu hukum paling keramat negara ini. Jangan memperbudak bangsa lain.”

    “Ketika orang bernama Damian berkuasa, hal itu dianggap sesuatu yang sepele. Aku tahu kau tak sudi mendengar bangsamu mempunyai citra yang buruk. Namun, hal itu jelas terlihat oleh bangsa lain saat ia memimpin bangsamu. Banyak yang menganggap Bangsa Amphitere kejam bagai iblis selama delapan belas tahun. Jadi tak sedikit pula orang-orang yang tidak mengijinkanmu masuk ke tempat mereka. Atau bahkan mungkin kau akan dibunuh.”

    Aku terdiam. Benar-benar kaget akan apa yang dilakukan bangsaku. Dalam hati aku malu dan sedih. Keadaan di dalam tenda saja sudah membuatku mengerti seperti apa kehidupan mereka selama Damian berkuasa. Apalagi luarnya, bahkan bangsa lain. Kebisuanku membuat Harem bicara kembali.

    “Lebih baik, hanya kita yang saja yang tahu nama bangsamu.” ujarnya. “Jangan beritahukan nama bangsamu walaupun orang-orang bertanya ratusan kali.Dengan begitu, kau mungkin bisa diterima dengan baik di sini tanpa ada yang curiga.”

    “ Baiklah.” jawabku setuju.

    “ Kau harus berpakaian dahulu. Semua benda milikmu yang berbahan kain sudah kukeringkan. Akasha, tolong ambilkan!”

    Aku baru sadar kalau aku sekarang telanjang. hanya secarik selimut yang menutupiku selama aku pingsan. Itupun cuma ‘sebatas’ pinggangku. Akasha hanya tersenyum melihatku yang sedang malu.

    “Tak apa. Aku yang melakukannya karena kalau dibiarkan nanti kau sakit jika berpakaian basah. Aku akan keluar dulu.” Akasha berjalan menuju luar tenda, begitu juga dengan Harem yang turut di belakangnya. Kuambil celana panjangku dan kukenakan secepat mungkin yang aku bisa. Aku tak membawa baju atasan. Sudah terbiasa bertelanjang dada bahkan dalam badai sekalipun. Memang kedengarannya gila, tapi semua tergantung kebiasaan.

    Rambut putihku terurai begitu saja. Sebahu dan tidak terpotong rapi. Aku merasa tampangku kusut sekali. Melelahkan. Dan aku tak berpikir besok akan menjadi hari yang lebih kacau dari ini.

    Dan saat aku mengetahuinya dari mulut orang itu, aku langsung tahu.

    Negara ini begini karena bangsaku, dan aku akan dipandang sama dengan mereka.

    Tak ada jalan untuk menghindarinya.

    Sebentar lagi kau akan tahu.

    6 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Ini bagian kedua dari ceritaku. Bab1 Setelah prolog. Tolong penilaian dan ejaaannya?

    Bangsa Ra, bangsa pembuat angin dan pencipta badai pasir yang sangat lihai. Tak ada bangsa lain yang menandingi kelebihan milik mereka. Sampai Damian menjadikan sebagian besar bangsa itu sebagai budak miliknya seorang. Mereka bersembunyi dari dia dibalik benteng tempat Red dirawat. Setidaknya ada sebelas sampai lima belas tenda berdiri tegak. Setiap tenda bisa diisi tiga-lima orang. Mereka semua adalah orang yang berhasil melindungi diri, walau hanya sementara.

    Akasha berjalan kesana kemari membawa bungkusan berisi obat. Ia sudah mencari dari satu tenda ke tenda yang lain selama berjam-jam, dan akhirnya ia mendapatkannya. Dengan segera, dirinya bergegas, menuju tenda tempat Red tidur.

    Sesampainya di sana, ia duduk, memandangi Red sebentar, lalu meracik bahan obat yang didapat tadi menjadi serbuk. Tentu semua dilakukan dengan angin. Satu-satunya sihir elemental miliknya. Seperti yang lain. Ia mengubah angin di telapak tangannya menjadi angin puyuh kecil yang tajam. Dipotongnya dedaunan dan ranting serta biji obat seluruhnya juga sebuah apel ranum yang dicampur satu jadi serbuk. Serbuk itu ditaruh dalam selembar kertas bercorong dan diminumkannya pada Red dengan hati-hati. Agak susah melakukan hal ini, dikarenakan tubuh Red yang besar.

    Gizard dan Sitera, adiknya datang tepat setelah Akasha selesai.

    “ Kakak…” sapanya.

    “ Gizard..Sitera..ada apa.”

    “ Hanya ingin melihatmu dan orang ini.” jawab Gizard sambil mengedikkan kepalanya pada Red. “ Aku Cuma menemani adikku ini…”

    “ Tapi sebenarnya kau penasaran, kan?” tukas Sitera.

    “ Diam!” bentak Gizard yang malah membuat Sitera tertawa-tawa.

    Sitera, adik Gizard, berumur delapan tahun. Tatanan rambutnya sama dengan Akasha. Bedanya, Rambut Sitera dihiasi jepit kecil, bukan bulu. Tubuhnya hanya sampai sepinggang kakaknya.

    Gizard bisa dibilang bertolak belakang dengan Sitera. Umurnya selisih sepuluh tahun lebih tua, yaitu delapan belas tahun. Untuk tingkat standart laki-laki, ia tidak begitu memenuhi kecuali wajah yang tampan dengan mata biru. Rambutnya berwarna hitam keabu-abuan dan tidak dipotong rapi. Sekarang, ia hanya memakai celana panjang dan sepatu kain warna coklat andalannya.Rompi kulit menyelimuti tubuh atasnya. Ia duduk di samping Akasha dan memperhatikan Red yang masih belum sadar.

    “ Dari mana dia datang?”

    “ Entahlah.”

    Gizard mendengus, “ Kuharap dia bukan dari bangsa Amphitere ******** itu. Aku tak sudi ada orang dari bangsa ****** itu masuk ke sini.”

    Akasha diam. Ia membiarkan Gizard berkata seperti itu. Dia pemuda yang kasar dalam perkataan, tapi baik. Ia membenci bangsa Amphitere yang telah merenggut nyawa orang tuanya delapan tahun silam sebulan setelah Sitera lahir. Sejak saat itu, ia selalu dendam dan tidak segan-segan menghabisi orang-orang Amphitere yang bertemu dengannya.

    “ Jika dari bangsa lain selain Amphitere, aku akan berterima kasih. Setidaknya ada teman untukku setelah ia sadar.” Gizard berdiri dan pergi dari tenda. Sitera masih menemani Akasha. Sebenarnya hari ini mereka akan berlatih membuat obat untuk luka bakar bersama-sama. Akasha melirik ke arah Red.

    Jika bukan dari bangsa Amphitere, Gizard. Aku tak yakin dengan harapanmu. Kata hati Akasha. Sitera menepuk lutut Akasha agar ia ingat bahwa dia, Sitera kecil masih di sini dan memintanya menepati janji. Cepat-cepat, Akasha memulai kegiatan dengan Sitera. Sitera berlari mendahului Akasha ke tempat yang telah dijanjikan kemudian duduk bersama dan mulai bekerja. Sitera sangat cepat belajar dan memahami sesuatu. Ia ingin dirinya seperti Akasha. Peramu obat terbaik bangsa Ra saat ini. Mereka berdua meninggalkan Red di tenda.

    Jari tengah kirinya sedikit bergerak. Pelan sekali, kemudian berhenti.

    2 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Tolong berkomentar tentang penggalan cerita ini?

    Dahulu dunia ini terdiri atas tujuh bangsa yang sangat cinta damai satu sama lain. Bangsa Ra, bangsa yang hidup dengan angin, pencipta badai pasir. Bangsa Scylla, hidup dengan air dan ahli dalam menciptakan ilusi. Bangsa Salamander, pencipta api yang luar biasa panas. Bangsa Thor, pembuat petir yang tinggal di daerah pegunungan paling tinggi. Bangsa Dilliard, hidup di dataran rendah, khususnya hutan, pembuat tumbuhan dan mengatur tanah. Bangsa Leerane, pencipta senjata dari berbagai logam sekaligus ahli merubah wujud. Serta bangsa Amphitere, bangsa yang paling kuat dan terkenal dalam ilmu sihir. Mereka bisa mengendalikan semua elemen yang dimiliki enam bangsa lainnya dalam satu kibasan tangan.

    Kedamaian antar bangsa mulai berubah saat pemimpin bangsa Amphitere mangkat. Berhubung istri pemimpin dahulu belum punya anak, ia digantikan oleh saudara laki-lakinya, Damian. Setiap orang dari bangsa Amphitere berduka dan merasa khawatir. Karena saudara sang pemimpin terdahulu punya riwayat hidup yang buruk.

    Keraguan dan secuil ketakutan dari tiap bangsa yang mendengar pemimpin Amphitere diganti terwujud delapan tahun kemudian. Sifat asli laki-laki tersebut mulai keluar. Ia bosan pada kedamaian ini. Ia mulai memperbudak enam bangsa lain untuk membangun menara dan benteng yang tinggi di sekitar perbatasan Negara Zarc. Para penghuni negara merasa terisolasi dan merasakan harapan untuk keluar sudah raib dibawa uap serta angin kemalangan. Nafsu orang itu makin menjadi. Diperintahkannya semua pengikut dirinya untuk memaksa semua kaum pria tunduk. Jika tidak, mereka tak akan segan-segan untuk membunuh. Akibatnya, keenam bangsa makin punah secara perlahan. Yang masih bertahan hidup menyingkir ke tempat terpencil. Kesengsaraan berlanjut saat Damian membuat badai salju yang akan abadi sampai ia tewas. Para pemberontak mencoba membunuhnya, namun satu persatu diubah menjadi abu kayu bakar. Selama sepuluh tahun ke depan, upaya yang dilakukan sia-sia.

    Di tempat lain, Bangsa Amphitere yang tidak mau tunduk bersembunyi di suatu tempat. Termasuk istri pemimpin terdahulu. Delapan belas tahun lalu ia melahirkan seorang anak lelaki yang sehat. Warna matanya sangat khas dibanding orang-orang lain. Merah api. Warna rambutnya juga sangat mendukung keunikan tersebut yaitu putih. Hari kian berganti. Membuat bocah kecil menjadi seorang pemuda yang besar, tegap dan berkulit merah kecoklatan. Anak dari Aaron Amphitere dan Silas Amphitere. Pasangan pemimpin terdahulu.

    Tempat persembunyian mulai diketahui oleh Damian. Dengan cepat semuanya tertangkap. Masing-masing dicap suatu tanda pada salah satu bagian tubuh mereka untuk menunjukkan status mereka sebagai budak, tak lebih dari itu.

    Red, anggota satu-satunya yang bisa lolos dari bahaya itu. Ia terus berlari. badai salju abadi yang dibuat Damian ditembusnya. Dirinya terbawa oleh salju, membuat tubuhnya membiru. Lima hari ia berjalan terus tanpa istirahat. Makannya pun tak tetap dan cukup Sampai dirinya terjatuh di depan sebuah tembok besar.

    Tembok yang lebih mirip dikatakan sebagai benteng kecil. Terbuat dari batu bata berwarna abu-abu. Mirip seperti benteng-benteng kerajaan zaman dulu. Ada banyak kumpulan asap yang membumbung tinggi. Jika dilihat dari atas, Bagian tengah benteng terdiri atas pasir dan tenda-tenda yang berjajar membentuk kubah melingkar.

    Red menutup matanya yang berat. Napas yang keluar masuk paru-parunya makin menipis. Ia ambruk di depan pintu benteng dalam jarak lima meter. Percikan salju dan angin dari langit menimbun tubuhnya perlahan. Rambutnya tak ada bedanya dengan salju, begitu juga tubuhnya yang kian mendingin.

    4 JawabanBuku dan Pengarang1 dekade yang lalu
  • Aplikasi blogger dan layout?

    Saya mencari site yang menyediakan beberapa aplikasi blogger sekaligus seperti jam dan sebagainya karena saran aplikasi di blogger sendiri kurang berkenan bagi saya.

    Saya juga mencari site yang menyediakan layout blogger yang berbeda dari yang disediakan.

    Saya mohon tolong tuliskan website dan apa aplikasinya. Sehingga saya bisa tahu.

    1 JawabanOther - Internet1 dekade yang lalu
  • Site untuk KRS fan book.?

    Aq mo nyari sit untuk kamen rider spirits fan book ato art booknya. Ad yang bisa kasih tahu?

    tolong aq.

    Ato site yg nyediain image galley kamen rider spirits.

    Sama tempat barter komik yg enak, di site juga.

    tolong ya..

    1 JawabanKomik dan Animasi1 dekade yang lalu
  • Bantu, tolong..... Untuk Kamen Rider Spirits?

    Aku lagi nyari scanlation manga kamen rider Spirits yang selain di onemanga. Bahasa jepang juga ga papa. Tapi alamat web lengkap ya......biar ga susah....

    Henshin!!!!

    Selain ONEMANGA. yA....

    Tolong.

    dan add friendsterku di:

    dark.phoenix60@yahoo.co.id

    3 JawabanKomik dan Animasi1 dekade yang lalu
  • E, yg main NEOPETS! ADD AQ DONK?

    Aq pakai neophin. Userku dark_phoenix_1. Add aq.

    2 JawabanGame Online & Video1 dekade yang lalu
  • Kenapa Euro tidak digunakan di negara inggris?

    tentang mata uang dan negara.

    3 JawabanLain-lain - Bisnis & Keuangan1 dekade yang lalu