promotion image of download ymail app
Promoted
Qika ditanyakan dalam Masyarakat & BudayaAgama & Kepercayaan · 1 dekade yang lalu

tentang shalat jum'at nech...!?

Da yang tau "FUNGSI DAN MANFAAT SHALAT JUM'AT"....??

16 Jawaban

Peringkat
  • Anonim
    1 dekade yang lalu
    Jawaban Favorit

    HUKUM SHALAT JUM’AT[1]

    Oleh

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

    Shalat Jum’at merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orang yang telah diberikan beban untuk menjalankan kewajiban agama) dan aqil baligh sesuai dengan dalil yang menunjukkan bahwa shalat Jum’at wajib bagi setiap mukallaf, dengan ancaman yang sangat keras bagi orang yang meninggalkannya, dan dengan himmah (tekad) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membakar rumah orang-orang yang meninggalkannya [2], tidaklah ada hujjah yang lebih jelas daripada perintah yang termaktub di dalam al-Qur’an yang mencakup setiap individu muslim, di dalamnya diungkapkan:

    “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah...” [Al-Jumu’ah : 9]

    Inilah argumentasi yang jelas.

    Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Thariq bin Syihab, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    ÇóáúÌõãõÚóÉõ ÍóÞøñ æóÇÌöÈñ ÚóáóÜì ßõáøö ãõÓúáöãò (ÝöÜíú ÌóãóÜÇÚóÉò) ÅöáÇøó ÃóÑúÈóÚóÉñ: ÚóÈúÏñ ãóãúáõæúßñ Ãóæö ÇãúÑóÃóÉñ Ãóæú ÕóÈöíøñ Ãóæú ãóÑöíÖñ.

    “Artinya : Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim (dengan berjama’ah)[3] kecuali kepada empat orang : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sedang sakit”

    Hadits ini dishahihkan bukan hanya oleh satu Imam (ulama hadits).

    IMAM BESAR

    Adanya al-Imam al-A’zham (pemimpin besar untuk seluruh umat Islam) bukan merupakan syarat bagi diwajibkannya shalat Jum’at, seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang menggantikannya di dalam memimpin shalat Jum’at menjadi dalil bagi kewajiban adanya imam besar, niscaya hal itu pun berlaku bagi shalat-shalat yang lainnya, karena shalat-shalat tersebut pun dipimpin oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada zamannya dan oleh orang-orang yang diperintah olehnya. Karena penyebabnya batal (tidak sah), maka hukum yang ada karenanya pun batal.

    Kesimpulan, syarat tersebut sama sekali tidak berlandaskan kepada ilmu, bahkan yang mewajibkannya sama sekali tidak benar bahwa hal itu riwayat dari sebagian Salaf, apalagi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu tidak ada manfaatnya memperpanjang masalah tersebut [4].

    JUMLAH JAMA’AH PADA SHALAT JUM’AT

    Shalat berjama’ah sah dilakukan walaupun hanya dengan seorang (makmum) bersama seorang imam, sedangkan shalat Jum’at merupakan salah satu dari shalat-shalat wajib lainnya. Barangsiapa yang mensyaratkan tambahan bilangan yang ada pada shalat berjama’ah, maka ia harus menunjukkan dalil pendapatnya itu, dan niscaya dia tidak akan mendapatkan dalilnya. Anehnya banyak sekali pendapat tentang bilangan tersebut hingga sampai lima belas pendapat, dan tidak ada dalil yang dijadikan landasan oleh mereka kecuali satu pendapat saja. Sesungguhnya shalat Jum’at sama dengan jumlah pada shalat-shalat (berjama’ah) yang lainnya. Bagaimana tidak, sedangkan syarat hanya bisa tetap bila ada dalil yang secara khusus menunjukkan bahwa suatu ibadah tidak sah kecuali dengan adanya syarat tersebut, penetapan syarat seperti ini (jumlah tertentu) sama sekali tidak berlandaskan atas sebuah dalil, terlebih lagi sikap tersebut merupakan kelancangan yang teramat sangat dan merupakan keberanian untuk berbicara atas Nama Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam syari’at-Nya.

    Saya senantiasa merasa aneh kenapa hal itu bisa terjadi di kalangan para penulis, bahkan dicantumkan di dalam buku-buku bimbingan shalat, mereka memerintahkan orang awam untuk meyakini dan mengamalkannya, padahal pendapat tersebut ada di dalam jurang kehancuran, pendapat tersebut tidak khusus ada di dalam satu madzhab dari berbagai madzhab, juga bukan terjadi hanya pada satu daerah saja. Akan tetapi terjadi secara turun-menurun, seakan-akan pendapat tersebut diambil dari Kitabullah! Padahal ia hanya merupakan hadits khayalan belaka!

    Aduhai! Apa bedanya ibadah ini dengan ibadah yang lainnya? Bisakah syarat dan rukun-rukunnya serta wajibnya menjadi tetap hanya dengan dalil, yang jika disodorkan kepada para peneliti niscaya mereka tidak mungkin menjadikannya sebagai Sunnah, apalagi menjadikannya wajib apalagi syarat?

    Yang benar adalah sesungguhnya shalat Jum’at merupakan kewajiban dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan syi’ar di antara syi’ar-syi’ar Islam dan merupakan salah satu bentuk shalat dari berbagai macam shalat, maka barangsiapa menganggap adanya syarat tertentu yang berbeda dengan shalat lainnya, maka ucapannya tidak akan didengar (diterima) kecuali jika berlandas-kan atas dalil.

    Jika pada suatu tempat hanya ada dua orang, maka salah satu di antara keduanya berdiri menyampaikan khutbah, sedangkan yang lainnya mendengarkan, kemudian mereka berdua melakukan shalat, [dengan itu berarti mereka berdua telah melakukan] [5] shalat Jum’at.

    Kesimpulan, semua tempat layak untuk melak-sanakan kewajiban ini,[6] jika di dalamnya ada dua orang muslim sebagaimana shalat berjama’ah yang lainnya. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa semua dalil yang menunjukkan sahnya shalat sendirian mencakup sahnya shalat Jum’at, maka pendapat itu pun tidak jauh dari kebenaran [7].

    BANYAKNYA TEMPAT PELAKSANAAN SHALAT JUM’AT YANG DILAKUKAN PADA SATU NEGERI (WILAYAH).

    Shalat Jum’at sama saja dengan shalat yang lainnya, bisa dilakukan di beberapa tempat di satu daerah, sebagaimana shalat berjama’ah lainnya yang dilakukan pada tempat yang berbeda pada satu daerah. Barangsiapa meyakini pendapat lainnya, maka pendapat tersebut hanya bersandarkan atas akal semata. Pendapat tersebut sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, seandainya keyakinannya berdasarkan atas sebuah riwayat, maka tidak ada satu riwayat pun yang mendukungnya.

    Kesimpulan, sesungguhnya larangan mendirikan dua Jum’at pada satu wilayah, walaupun dia mengata-kan bahwa di antara syarat sah Jum’at adalah tidak adanya shalat Jum’at lain pada satu daerah, maka saya katakan dari manakah pendapat ini berasal? Dan apakah ada dalil yang menjadi landasan bagi pendapat tersebut? Jika mereka hanya berlandaskan atas tidak adanya izin dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan Jum’at selain di masjid Madinah dan perkampungan yang ada di sekitarnya. Maka sesungguhnya hal ini -selain tidak layak untuk dijadikan dalil akan adanya syarat yang mengandung kebathilan, bahkan atas kewajiban yang ada di bawahnya- harus diterapkan pula pada shalat-shalat wajib yang lainnya [8], maka tidaklah sah melakukan shalat Jum’at pada satu tempat yang belum pernah diizinkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya, ini jelas merupakan dalil paling bathil.

    Selanjutnya, seandainya batalnya satu Jum’at yang lain dari dua tempat pelaksanaan Jum’at [9] ketika Anda mengetahui karena adanya sesuatu penghalang, maka apakah penghalang tersebut? Karena pada dasarnya adalah sahnya suatu peribadatan di mana saja ia lakukan dan kapan saja kecuali adanya dalil yang menunjukkan larangan, sedangkan di dalam masalah ini sama sekali tidak ada larangan [10].

    [Disain dari kitab al-Ajwibah an-Naafi’ah li Lajnati Masjidil Jaami’ah, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Edisi Indonesia “Apakah Adzan 1x atau Adzan 2x pada Shalat Jum’at?”, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

    __________

    Foote Note

    {1]. Judul ini dan berikutnya bukan dari penulis (Shiddiq Hasan Khan), akan tetapi saya sendiri yang membuatnya (al-Albani).

    [2]. Komentar saya (Syaikh al-Albani): Telah tetap dalam as-Shahiihain semisal ancaman ini bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah, karena shalat jama’ah hukumnya adalah wajib ‘ain (wajib bagi setiap individu muslim), inilah yang paling kuat di dalam madzhab Hanafi dan yang lainnya, karena itu wajib diperhatikan dan tidak boleh bermalas-malasan di dalam melakukannya.

    [3]. Tambahan ini tidak terdapat dalam kitab asli (al-Mau’izhah), padahal lafazh tersebut ada di dalam Sunan Abi Dawud itu sendiri (no. 1067), demikian pula penulis menyebutkannya di dalam kitab ar-Raudhah (I/134) dari jalan Abu Dawud dengan tambahan ini, dan Anda akan mengetahui pentingnya tambahan tersebut di dalam masalah yang akan dibahas.

    [4]. Komentar saya: Dari penjelasan di muka, anda akan mengetahui kedudukan syarat ini di dalam shalat ‘Id juga.

    [5]. Tambahan dari teks asli yang dibutuhkan berdasarkan redaksi.

    [6]. Komentar saya: Di antara tempat-tempat ini adalah perkotaan, perkampungan, reruntuhan kota, tempat pelesir pada musim panas, dan tempat rekreasi.

    Ibnu Abi Syaibah t telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:

    Ãóäøóåõãú ßóÊóÈõæúÇ Åöáóì ÚõãóÑó íóÓúÃóáõæúäóåõ Úóäö ÇáúÌõãõÚóÉö ÝóßóÊóÈó: ÌóãøöÚõæúÇ ÍóíúËõãóÇ ßõäúÊõãú.

    “Kaum muslimin pernah menulis surat kepada ‘Umar menanyakan tentang shalat Jum’at? Lalu beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): ‘Lakukanlah shalat Jum’at di mana saja kalian berada.’”

    Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari Imam Malik, beliau berkata:

    ßóÇäó ÃóÕúÍóÇÈõ ãõÍóãøóÏò J Ýöíú åÐöåö ÇáúãöíóÇåö Èóíúäó ãóßøóÉó æóÇáúãóÏöíúäóÉö íõÌóãöøÚõæúäó.

    “Dahulu para Sahabat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di sekitar perairan ini, antara Makkah dan Madinah mereka melakukan shalat Jum’at.”

    [7]. Komentar saya: Di dalam pendapat ini ada sesuatu hal yang layak untuk diperhatikan bagi orang yang benar-benar mencermati sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dengan berjama’ah,” di dalam hadits Thariq bin Syihab yang diungkapkan terdahulu di dalam masalah pertama. Masalah ini pernah diteliti oleh penulis sendiri di dalam kitabnya yang lain ar-Raud

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Fungsi sholat jum`at adalah menyatukan umat.

    dgn mendengar khotbah maka jemaah memahami rasa kebersamaan melakukannya. Isi khotbah dpt meningkatkan keimanan seseorang. Sholat Jum`ah menjauhkan diri dari sifat lalai krn perdagangan atau urusan lain.

    Manfaat sholat Jum`ah adalah menciptakan suasana agama utk diri sendiri dan lingkungan. Dgn berjalan kaki ke masjid utk sholat Jum`at maka anda telah berdakwah kpd lingkungan sekitar anda hari itu hari jum`at, laki2 kan musti sholat ke masjid.

    Jumlah shaf yg puluhan jumlahnya meningkatkan keimanan sebagai orang Islam.

    hakikatnya sholat jum`at itu tanda kejayaan umat Islam. makanya hari itu penuh berkah bagi yg menjalankan sunnah Rasullullah SAW, bersedekah, mengaji, berdoa, berdzikir, mandi jum`at Dll.

    kalo shubuh kita seramai jum`at maka itu tanda2 kejayaan Islam sudah dekat.

    Di balik sunnah ada kejayaan, laksanakan dan rasakan faedahnya.

    Sumber: hanya sedikit yg bisa saya ungkapkan. mohon maaf...
    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    - mempererat tali silaturrahmi antar ummat muslim

    - menambah ilmu islam sehingga imannya diingatkan kembali/menambah kekuatan iman

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Fungsi dan manfaatnya yang paling utama adlah

    Untuk mempertebal iman ISLAM dan menyatukan tali silaturahmi sesama ummat muslim...

    dan dengan melaksanakan Shalat Jum'at yg wajib bagi ummat Muslim dapat mengampuni dosa2nya selama sepekan...

    Wallahu a'lam bishawab...

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim

    Sebenarnya shalat Jum'at bukan hanya yang dilakukan pada hari Jum'at saja. Tapi juga meliputi semua shalat wajib agar dilakukan secara Jum'at atau berjamaan.

    (1). Sebagai bukti beriman kepada Allah bagi para lelaki muslimiin.

    (2). Untuk membangun kekuatan umat dengan saling bertemu, berkenalan dan menjalin persaudaraan sesama orang mukmin.

    (3). Sebagai suatu tanda bahwa setiap manusia membutuhkan manusia lain dalam setiap kegiatannya mereka.

    (4). Sebagai salah satu pembangun dan pembuka pintu rahmat Allah.

    (5). Sebagai sarana penerima briefing dari Allah dari khutbah atau kajian yang diberikan Allah melalui para imam (khatib dan imam shalat).

    Agaknya masih banyak lainnya ... biar Saudara lain yang akan menambahkan dalam jama'ah ini/

    Hanya Allah yang Maha Tahu.

    As-Salaamu Alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Shalat jum’at

    a. Hukum Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at wajib bagi kaum lelaki, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut:

    Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka ber-segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu’ah: 9)

    Sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR. Muslim)

    Sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) shalat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)

    Sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

    Ijma’ para ulama. Para ulama telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu wajib hukumnya.

    b. Keutamaan Hari Jum’at

    Hari Jum’at adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

    “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat … Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)

    c. Hal-Hal Yang Disunnahkan Serta Beberapa Adab Hari Jum’at

    * Mandi, berpakaian yang rapi, memakai wangi-wangian dan bersiwak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum’at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dan sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Salam yang lain:

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jum’at.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, shahih)

    Juga sabda beliau Shallallaahu alaihi wa Salam tentang hari Jum’at:

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jum’at dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR. Al-Bazzar, shahih)

    * Lebih awal pergi ke masjid untuk shalat Jum’at, yaitu beberapa saat sebelumnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)

    * Melakukan shalat-shalat sunnah di masjid sebelum shalat Jum’at selama imam belum datang. Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu kecuali shalat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan meskipun imam sedang berkhutbah tetapi hendaknya dipercepat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR. Al-Bukhari)

    * Makruh melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan (menggeser) mereka. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai, hadits shahih)

    Dan juga berdasarkan hadits sebelumnya yang bunyinya:

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jum’at (itu) ke Jum’at berikutnya.”

    * Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia –seperti memain-mainkan kerikil– apabila imam telah datang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jum’at, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih)

    * Diharamkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (Al-Jumu’ah: 9)

    * Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pada malam Jum’at dan siang harinya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

    Sabda beliau yang lain:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al-Baihaqi, hadits hasan)

    * Disunnahkan membaca surat Al-Kahfi. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah :

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

    * Bersungguh-sungguh dalam berdo’a untuk mendapatkan waktu yang mustajab (dikabulkannya do’a). Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

    Dan saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jum’at. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu, diantaranya ada waktu dimana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir yaitu setelah Ashar.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan Al-Hakim, hadits shahih)

    Dalam hadits lain disebutkan:

    “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata,’Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, ‘Sebaik-baik hari, dimana matahari terbit di dalam-nya adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula Kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jum’at sampai terbit matahari, karena takut pada hari Kiamat terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya.’ Ka’ab berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jum’at.’ Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’ab membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi e itu.’ Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’ab, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu.’ Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu.’ Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jum’at,’ Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah e telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan shalat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh shalat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) shalat, maka dia dianggap dalam keadaan shalat sampai dia melaksanakan shalat,’ Aku katakan, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai, hadits shahih)

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduk-nya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan shalat.

    d. Syarat-syarat Kewajiban Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam :

    “Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, dilaksana-kan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits s

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    dpt pahala ..

    Sumber: temen yg muslim ..
    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Melaksanakan shalat Jum'at hukumnya wajib. Yang berarti apabila tidak dilaksanakan/dikerjakan, kita berdosa dan sebaliknya jika dikerjakan kita mendapat pahala.

    Hal ini tercantum dalam surah Al Jumu'ah ayat 9 artinya " Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at maka segerlah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.

    Sabda Rasulullah saw: Barang siapa meninggalkan tiga kali shalat jum'at karena menganggap ringan, maka Allah akan menutup mata hatinya.

    Adapun golong orang yang tidak diwajibkan shalat Jum'at adalah:

    1. Hamba sahaya (budak)

    2. Orang-orang perempuan.

    3. Anak-anak kecil yang belum mumayiz (baligh)

    4. Orang yang sakit.

    5. Musyafir (orang dalam perjalanan jauh)

    6. Orang yang dalam keadaan udzur atau halangan (karena cuaca atau terke-

    na bencana).

    Mereka tidak diwajibkan shalat Jum'at tapi tetap wajib melakukan shalat Zhuhur.

    Adapun fungsi serta manfaatnya shalat Jum'at adalah:

    1. Memperkokoh rasa persatuan umat Islam

    2. Menyemarakkan syiar Islam.

    3. Merupakan kesempatan bagi setiap umat untuk merenung dan

    bermunajat kepada Allah selama 1 minggu berlangsung.

    4. Menjadi sarana persatuan umat Islam dalah wilayahnya.

    5. Mempertebal iman dan ikhsan dengan mendengarkan nasihat dan ajaran

    Islam melalui khutbah yang disampaikan.

    Hari Jum'at adalah hari yang diutamakan Allah karena pada hari Jum'at banyak sekali peristiwa-peristiwa penting yang memang sudah ditetapkan Allah antara lain turunnya Al Qur'an, penciptaan Nabi Adam, penciptaan alam semesta, terjadinya hari kiamat dll.

    Demikian penjelasan saya. Terima kasih

    Sumber: Pendidikan Agama Islam Fiqih'; Madrasah Ibtidaiyah/SD
    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Fungsi sholat jumat?Banyak lah.Yg aku tahu,sholat jumat ngajarin qt untuk menghormati dan menghargai orang yg ngomong. Kan waktu ceramah,kita dilarang ngobrol atau gak perhatiin yg ceramah.Kalo datengnya pas ceramah udah jalan jg katanya pahalanya kurang.Trus,kita jg diajari untuk bersilaturahmi dg jamaah lain yg pd sholat jumat.Selain itu,kedisiplinan jg,soalnya kan sholat jumat musti tepat waktu.trus,karena tiap sholat jumat disunnahkan untuk mandi,kita jg diajari tntang kbersihan...

    kalo manfaat sholatnya sih hampir sm kayak sholat yg lain,cm gw pikir bkan itu esensi sholat jumat karena kalo sholat kan urusan kita sm Allah.Nah kalo sholat jumat udah urusan kita sm Allah dan sm manusia

    tanyain jg deh ke orang2 yg lbh tau....

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    pada hakikatnya shalat jum'at mempunyai fungsi dan manfaat yang sama dengan shalat yang lain, yakni untuk mengabdi dan membuktikan kepada sang khalik selaku kita sebagai hambanya.

    namun di samping itu salat jum'at adalah shalat yang dikhusukan oleh Alloh seperti halnya salat 'iedul fitri dan salat 'iedul adlha,

    salat jumat yang dilaksanakan pada hari yang dikhususkan yakni pada hari jum'at, hari yang baik yang di berkati oleh ALloh ta'ala,

    idzan sholatil jum'ah adalah solat yang sama sengan solat-solat yang lain,

    fungsinya untuk ketenangan jiwa dan pikiran,

    untuk menguji hambanya yang benar-benar beriman,

    mengistimewakan hambanya pada hari jum'at, dan lain sebagainya.

    Wallohu a'lam bishowab.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.