Anonim
Anonim ditanyakan dalam Masyarakat & BudayaAgama & Kepercayaan · 1 dekade yang lalu

Bagaimana perasaan anda jika anda dilahirkan dari orang tua yg beda agama?

Terus.. Anda akan ikut siapa? Agamanya Ibu atau bapak??

Mohon komentarnya

Perbarui:

Q-Nan Q.. trus..kamu pilih agama siapa?

ibu mu kan,,

35 Jawaban

Peringkat
  • Anonim
    1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    SIKAP ANAK KEPADA ORANG TUA YANG MASIH KAFIR

    Oleh

    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya yang masih kafir ?

    Kisah Sahabat Sa'ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu 'anhu dan ibunya dapat dijadikan sebagai pelajaran.

    Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (Juz. IV hal. 1877 no. 1748 (43)), Diceritakan bahwa Ummu Sa'ad (ibunya Sa'ad) bersumpah tidak akan berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa'ad murtad dari ajaran Islam. Ummu Sa'ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya berkata, "Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini". Kemudian selama tiga hari Ummu Sa'ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa'ad untuk kufur. Sebagai seorang anak Sa'ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. berkaitan dengan kisah Sa'ad ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu seperti yang terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 8 .

    "Artinya : Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya dengan baik, dan apabila keduanya memaksa untuk menyekutukan Aku yang kamu tidak ada ilmu, maka janganlah taat kepada keduanya"

    Sedangkan wahyu yang kedua dalam surat Luqman ayat 15.

    "Artinya : Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma'ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan".

    Turunnya ayat ini membuat Sa'ad semakin bertambah mantap keyakinannya dan akhirnya Sa'ad membuka mulut ibunya dan memaksa ibunya untuk makan. Dengan demikian Sa'ad tidak berbuat kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan juga bisa berbuat baik kepada ibunya.

    Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajibnya berbakti dan bersilaturahmi kepada kedua orang tua meskipun keduanya masih kafir. Kafir yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi (kafir yang menentang dan memerangi Islam).

    Jika orang tuanya tidak kafir harbi, tidak menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilaturahmi kepada keduanya. Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 14.

    "Artinya : Dan bergaul-lah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma'ruf"

    Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak menyerang kita.

    "Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil".

    Kisah ini terjadi pada Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika ibunya yang masih dalam keadaan musyrik akan datang untuk berkunjung kepadanya, Asma meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

    Secara fitrah, seorang anak akan mencintai orang tuanya karena merekalah yang melahirkan serta mengurusnya, tapi jika mencintainya karena iman maka tidak dibenarkan. Dengan dasar surat Al-Mujadalah ayat 22.

    "Artinya : Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung"

    Jika keduanya kafir harbi, maka tidak boleh berbakti dan bersilaturahmi kepada keduanya dengan dasar surat Al-Mumtahanah ayat 9.

    "Artinya : Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama. Dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.

    Dengan demikian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kafir harbi atas dasar ayat tersebut. Bahkan seandainya bertemu di medan perang, diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini sudah pernah terjadi terhadap Abu Ubaidah Ibnul Jarrah dengan bapaknya pada waktu perang Badar. Bapaknya ikut di medan pertempuran dan berada di pihak kaum musyrikin kemudian Abu Ubaidah membunuhnya.

    Timbul pertanyaan, "Bolehkah mendo'akan orang tua yang masih kafir?" Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih sayang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal. Dasarnya adalah surat At-Taubah ayat 113, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

    "Artinya : Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam"

    Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir[1] Kedua orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir[2] Kalau ada yang bertanya, "Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?" Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [3]

    Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu itu Ibrahim belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa dilihat dalam surat At-Taubah ayat 114.

    "Artinya : Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun"

    Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan mendo'akan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi, ayat yang ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo'akan keduanya agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq.

    Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibarahim 'Alaihi Shalatu wa sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir tetapi masih suka melakukan bid'ah, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih lemah lembut lagi.

    Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41-48.

    "Artinya : Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur'an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi"

    Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun juga"

    "Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus"

    "Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah"

    "Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah"

    Berkata bapaknya, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama"

    Ibrahim berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku"

    "Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdo'a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo'a kepada Rabb-ku

    [Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]

    _________

    Foote Note.

    [1]. Hadits Riwayat Muslim Kitabul Jazaaiz 2 hal.671 no. 976-977, Abu Dawud 3234, Nasa'i 4 hal. 90 dll

    [2]. Dalilnya, ada seorang bertanya, "Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku&q

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • uniQ®
    Lv 4
    1 dekade yang lalu

    Aq ikut yg paling bijaksana. karakternya ^_^

    salam damaii

    uniQ *_^

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    biasa aja. malah enak, soalnya gw belajar tenggang rasa dari kecil. kita demokratis banget kok. jd terserah gw mo pilih agama mana. toh, semua agama baik. yang penting kita jalanin nya dengan benar dan ikhlas......

    Sumber: pengalaman pribadi
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    biasa aja.... coz ortuku demokratis...

    pokoknya aku dikasih tau klo Tuhan tu ada dan esa...

    milih yg plng gmpang, ga bnyk aturan, ga perlu susah2 blajar....

    yg pnting punya semboyan "imanmu menyelamatkanmu"

    (yang tau pasti ngerti itu semboyan siapa)

    jujur aja, mamaq dlu katolik, papa muslim...

    nikah islam...

    pdhal mamaku sekeluarga besar katolik n kristen...

    trs pas aq kls 3 SD mrk tengkar huebuat smpai mo cerai...

    tp aq sama kakakku brusaha mempertahankan...

    akhirnya mamaku mutusin balik ke katolik....

    maksudnya mo ngajak papaku....

    (coz di katolik tidak melayani perceraian... ada aturannya tuh di kitab suci...jd biar ga bisa cerai gitu...)

    slain ntu di katolik ada pelayanan konsultasi pernikahan di gereja... jd bisa mbantu nyelesaiin mslah pernikahan.....

    eh.... tp trnyata pada suatu hari papaku malah pulang smbil membawa teman lamanya yg dlu dri muslim tp udah pindah ke kristen. temen papaku ntu yg akhirnya membimbing aku sekeluarga buat kmbali ke iman kami yg semula.....

    Sumber: eh..... ngomong-ngomong critaku kok ga nyambung ama pertanyaannya ya?
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Stevie
    Lv 5
    1 dekade yang lalu

    Ada untungnya ada ruginya

    ruginya: bakal bingung waktu masi kecil

    untungnya:

    -mengenal 2 agama dari dalam (jadi ga membentu prasangka dari luar)

    -bisa menggunakan pengenalan itu untuk memilih ketika sudah dewasa... Ga usa ikut sapa2, ikut diri sendiri aja

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    yah terima ja apa adany...

    tergantung kamu sendiri..,

    kamu lebih ngerasa nyaman ikut agama yg mn?

    klo mis kamu ga nyaman di keduany ya kamu boleh2 aja koq pilih agama yg beda dr kedua ortu kamu..

    krn agama ato kepercayaan itu ga bisa dipaksain!

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Sayang sekali kalau agama yang begitu positif dan seharusnya bertujuan mulia, malah akhirnya menjadi sekat-sekat pemisah diantara umat manusia.

    Agama bagi saya hanyalah "sebuah cara" untuk mengenal Tuhan dan arti kehidupan ini. Karena itu agama adalah sebuah pilihan bebas. Artinya saya akan pilih agama yang paling sesuai dengan hati nurani saya.

    Bisa ikut bapak, bisa ikut Ibu atau malah ikut diluar agama yang mereka anut.

    Shanti (peace)....

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Memilih Agama yang logis, yaitu Agama yg ajarannya tidak tidak bertentangan dengan Kodrat manusia.

    Jangan ber Agama ikut-ikutan.

    .

    .

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Saya Biasa saja

    Bapak Saya Kristen

    Ibu Saya Islam

    tapi saya mengikuti Bapak saya

    Pada akhirnya Ibu Saya Masuk Kristen

    Jadi Keluarga saya Resmi Kristen ^^

    <(@.@)>

    Sumber: The Best Audition Player <<<<
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    dalam kandungan lu udah islam dan lu dlm kandungan juga dimintain kesaksian loe. gw beda ama ortu dia kristen gw islam tapi dalam keluarga gw damai banget coy...malah orang tua gw nyiapin buat sahur gw klo lagi bulan ramadhan datang. pokoknya damai daaah

    Sumber: pengalaman pribadi
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    wah ga tahu Sappy karena aku dilahirkan dari orang tua yang sama AGAMA

    Tapi Sappy walau terlambat tak lupa Delima mengucapkan

    SELAMAT ATAS KEBERHASILANMU yang ingin memecahkan RECOR , bangga deh Delima kau berhasil itu atas RECOR yang kau capai jawaban terbanyak

    aku baru tahu saat lihat posting dari salah satu user yang ingin punya bintang banyak. maaf yah terlambat

    ga apapa kan???

    Sumber: Salam Delima untuk semua teman disini
    • Masuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.