promotion image of download ymail app
Promoted
MareL
Lv 7
MareL ditanyakan dalam Seni & InsaniPersajakan · 1 dekade yang lalu

Apa makna dari pesan puisi tersebut???

Melalui senja ini,

dalam temaram cahaya matahari

kulihat guratan hatimu terukir

untuk mengatakan sebuah kata.

Kata yang lepas,

bebas seperti rajawali yang terbang tinggi

dan suci seperti api malam

menyibakan kabut dingin.

Dibayang wajahmu,

kulihat segurat senyum

lambaian kasih yang tegar dan tiada gentar

Menjelang gelap malam yang mulai membayang.

Sebelum senja ini beranjak gelap,

engkau sapa pejalan ini dengan senyum mu

sembari engkau berkata …..

“dunia ini masih membutuhkan para pejalan sepertimu,

agar tempat-tempat hidup ini menyandarkan maknanya

dapat engkau ceritakan kepada mereka yang masih setia

dan mencintai hidup”

Sejenak aku lihat,

temaram senja pun menjadi gelap,

engkau pergi bersama cahaya matahari yang lepas dari cakrawala.

Kemudian sepi mulai bertahta untuk malam-malam yang aneh.

...............................

15 Jawaban

Peringkat
  • Anonim
    1 dekade yang lalu
    Jawaban Favorit

    Salut buat MareL!

    Puisi yg indah, sangat simbolik. Temanya dewasa, dan disampaikan lewat angle yg menarik. Penyampaiannya sangat cerdas, tdk gamblang, tapi tak juga membuat kening berkerut. Sangat proporsional, tdk genit!

    Puisi ini melukiskan arti kehidupan, lewat dialog dramatis antara orang tua (senja) yang sdg menyongsong maut dan pemuda (pejalan) yg mungkin saja tak lain adalah anaknya atau penerusnya. Ini sebuah adegan stereotype yg sering kita tonton dlm film atau lakon drama.

    Pemilihan adegan ini, menunjukkan bahwa puisi ini juga sangat imajinatif. Sangat merangsang nalar visual kita.

    Dan, yang paling menggetarkan, menurut saya, adalah baris terakhir.

    ........kemudian sepi mulai bertahta untuk malam-malam

    ........yang aneh

    Secara sekilas, baris ini memang terasa spt ending mengambang, spt chord miring di lagu2 jazz. Tapi, ternyata ini juga membantu pembaca memahami bahwa puisi ini bercerita tentang aspek kematian. Selain itu, MareL mungkin juga ingin menekankan impresinya di sini, di akhir puisi. Salut!

    Salam

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Coba kita telaah bareng ya Bro...

    Tampaknya setting waktu puisi ini hanya terjadi semalam, karena dimulai dengan senja dan diakhiri dengan senja yang mulai gelap (menuju malam). Namun kemudian hal ini terjadi berulang-ulang karena di kalimat terakhir tertulis 'malam-malam' yang artinya lebih dari 1 malam. Aku tidak tahu benar mengapa penulis menggunakan analogi malam di sini, apakah karena memang tidak berhubungan dengan siang atau berusaha menggambarkan suasana hatinya yang redup, sepi dan sendirian. Karena senja menggambarkan sesuatu yang lelah dan kenyang akan pengalaman dan malam menunjukan kegelapan dan kesepian.

    Ada sesuatu yang aneh di bait ke-2, baris ke-3. 'dan suci seperti angin malam.' Ada sesuatu yang tidak tepat di sini karena suci memiliki nilai rasa yang sejuk sementara nilai rasa malam adalah dingin. Akan lebih baik kalau penulis menggambarkannya menggunakan frase 'Api Shinta'

    Aku merasakan adanya paradox indah di bait ke-3. Sesuatu yang kuat dan tegar namun diterima dengan rasa tulus (atau halus?). Kalau dibaca maka kita bisa melihat seseorang yang tersenyum tegar sementara wajahnya yang tegas tergaris siluet keemasan cahaya matahari senja. Sesuatu yang kuat namun sekaligus tetap sunyi. Ingat bahwa senja menunjukan rasa seperti orang yang sudah tua, tenang, sedih namun juga arif bijaksana. Sebuah masa dimana seorang pengembara beristirahat.

    Namun pada bait berikutnya diceritakan bahwa si pejalan kaki ini, meskipun senja telah datang dan saatnya untuk beristirahat, akan terus melanjutkan perjalanannya. Ada sebuah misi yang belum selesai.

    Di bait berikutnya diceritakan apa misi yang belum selesai itu, yaitu bahwa dunianya ini masih membutuhkan para pejalan ini. Kata 'masih' di sini merujuk bahwa para pejalan ini telah langka. Kenapa dunia ini masih membutuhkannya? yaitu agar tempat-tempat hidup ini memiliki makna, mempunyai arti. Tempat hidup biasanya menunjuk pada hati, pusat rasa diri. Artinya hatinya bermakna, menjadi berharga, menjadi dihargai--> menjadi bahagia. Dua kalimat berikutnya mungkin berarti agar para pejalan ini selalu mengingatnya (penulis).

    Bait berikutnya sebagai penutup memiliki pesan final. Penulis puisi ini menyadari bahwa si pejalan ini akan HARUS terus berjalan dan dia merelakannya (baris ke-3). Baris ke-4 diceritakan bahwa sepi kembali menyusupi malam. Bahwa sepi adalah natural-nya malam, namun sepi ini terasa aneh, terasa tidak biasa, karena si penulis puisi ini sadar bahwa si pejalan ini telah pergi...

    Hmmm...puisi yang melankolis...

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Dear Marel,

    aku tak ingin beranjak sejengkal pun dari sisimu

    meski jarak membentang dan waktu yang memisahkan

    meski lelah jiwaku, merintih tubuhku dalam keletihan

    namun tak jua padam bara yang dulu kau titipkan

    adakah celah untukku berbicara

    berpijak pada tempat yang sama denganmu

    kuingin merengkuh dirimu, hingga cahayamu menjadi jiwa

    dalam diriku yang telah beku

    akankah waktu kan kembali datang

    seperti kala kita merangkai kata, bercanda tawa,

    hingga terlupakan semua gundah..??

    thanks marel, atas segala kesabaran dan ketulusanmu..

    i'll keep it until the end of my breath

    ;)

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Puisi tersebut menggambarkan saat-saat terakhir kepergian orang yang kita sayangi (engkau pergi bersama cahaya matahari yang lepas dari cakrawala).

    Kita tidak tau kapan kematian menjemput hidup kita, makanya Dia (yang kita sayangi) berpesan agar kita bisa menghargai hidup, mensyukuri hidup yang masih diberikan-Nya kepada kita(dia berkata : "dunia ini masih membutuhkan pejalan sepertimu", artinya kita masih bisa berguna bagi orang-orang di dunia). Karena jika kita sudah tiada, maka kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sudah tidak ada lagi, kita tidak punya kesempatan lagi untuk berbuat baik.

    Jadi, menurut saya, puisi tersebut berpesan agar kita menjaga apa yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita. Bertobat sebelum waktunya terlambat.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Resa
    Lv 6
    1 dekade yang lalu

    jika sebuah kehidupan

    telah menjadi pilihanmu

    tengoklah di timur

    saat mentari memanggil mu

    meminta kau mengucurkan

    segala keringat dan jerih payah

    dalam asa dan segala lelah

    hingga mentari terbenam

    baringkan tubuhmu

    nikmati istirahatmu

    biaskan rindu hati pada hening malam

    dengarkan nyanyian hati

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    sebuah perjalanan..... perjuangan...dan perpisahan...

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • JALU
    Lv 6
    1 dekade yang lalu

    >Pesan nya .

    Pencarian sebuah pencerahan .

    >Maknanya :

    Waktu .Keterbatasan waktu dalam sebuah kehidupan yang pendek.

    Salam .

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    sebuah harapan saat memulai sesuatu, dengan begitu yakin dan semangat meniti perjalanan yang harus di tempuh... walau berakhir pada hal yang tak begitu indah dan sedikit menghasilkan kepedihan.. tapi itulah kehidupan, tetap harus di tapaki untuk mendapatkan hasilnya... jika tidak, maka akhir apapun takkan pernah di ketahui... salam, favo

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • rien
    Lv 4
    1 dekade yang lalu

    Hidup adalah perjuangan dibutuhkan cinta, kesabaran & kesetian & perpisahan adalah takdir yang diperlukan hanya sebuah keikhlasan.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    semua akan menjalani pergantian ini,,, tak ada yang dapat menyangkal untuk tidak akan menjalaninya,,,

    selagi matahari masih memberi pendarnya, dan meski redup cahaya yang diberi,,, lalu senja bergantikan malam sepi,,, tak akan menjadi malam malam yang aneh,, karna gemerlap bintang senantiasa bercahaya,,,,

    jika itu kau rasa aneh,,, hanya sejenak saja 'kan kau rasa,,, awan gelap akan berlalu,,, dan indah senyum kasih kan kembali,,,,

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.