Anonim
Anonim ditanyakan dalam Masyarakat & BudayaAgama & Kepercayaan · 1 dekade yang lalu

Percayakah anda sekalian akan masuk surga??

Apa saja syarat masuk surga dilihat dari sudut pandang agama masing masing.

Perbarui:

jadi kusimpulkan dikit ya>>>

menurut nasrani: diselamatkan ( ini maksudnya masih ngambang apa setiap orang nasrani pasti masuk surga? jadi apapun tindakannya.)

menurut islam : iklas ibadahnya( iklas ini bentuknya gimana), kuat imannya sedikit/tanpa dosa, ada neraka walau hanya sebentar, amal saleh,

untuk buda: Harus banyak/sering berbuat amal dan kebajikan

2. Berprilaku dan bertutur kata yang baik, serta berpikiran positif.

3. Banyak introspeksi diri dan memperbaiki diri.

4. Rajin beribadah/sembayang ke vihara maupun dirumah.

5. Tidak membunuh dan tidak melakukan perbuatan dosa/maksiat lainnya.

6. Berikrar vegetarian seumur hidup( ini untuk apa?)

maaf ya saya hanya mencari penilaian yang masuk akal menurut saya dan untuk akal saya tentang ajaran yang kalian anut

tanks berat

Perbarui 2:

ye...makacih...untuk semua jawabannya...

maaf ya aku hanya menyimpulkan yang masuk akal saja. dan itu juga untuk diriku sendiri kok

untuk nemura... jawabanmu ada masuk akalnya

dan desi akan tetap memantau dulu ya... sebelum yakin seyakinnya... tanks berat

Perbarui 3:

*for..teman semua... tanks atas semua jawaban yang masuk...bukanlah maksudku tidak percaya, tapi satu hal yang ingin aku cari yaitu sebenarnya jawaban siapa yang masuk akal tentang jalan menuju surga maka menurutku masuk akal juga agama yang dianutnya.. ingat teman teman kita sebagai manusia sudah dikaruniai akal dan pikiran dan saat inipun saya lagi mengadakan pencarian tentang sesuatu yang betul-betul benar. bukankah hal yang tidak masuk akal mesti kita tinggalkan? kalau menurut saya surga itu bisa kita dapat sesuai hasil perbuatan kita dibumi, kalau jelek dan buruk maka masuk neraka, dan sebaliknya,... udah ah terima kasih untuk seluruh jawaban dan dari jawaban saudara semua saya sudah bisa mendapatkan kesimpulan tentang agama yang masuk akal menurut saya..

tanks berat

27 Jawaban

Peringkat
  • Anonim
    1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Apakah Akhlak Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ?

    Ada satu jawaban yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu,

    “kalau memang akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas

    tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi

    ini”

    Kalau memang akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya

    seseorang, maka untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat

    baik. Di negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri sekuler seperti

    Eropa dan Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak

    yang luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan

    diantara teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama

    tapi tak pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari

    umat Islam yang rajin beribadah.

    Sifat baik adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan.

    Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan,

    seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas,

    mereka akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan

    pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan

    berperilaku buruk.

    Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan

    hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka

    didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” (HR

    Muslim).

    Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk

    sesuai firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS,

    Al-Balad 90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada

    yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3).

    Kemudian setan berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik

    oleh manusia dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT

    berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh jadi kamu membenci

    sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai

    sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak

    mengetahui.”

    Namun tujuan tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang

    baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik

    daripada non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa

    Tuhan tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal

    lain yang lebih utama dibanding akhlak.

    Bahkan Akhlak Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya

    Masuk Surga.

    Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda

    yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya

    kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya

    Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya

    sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu

    saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu

    sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya

    Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada

    orang tua?" Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu

    ia berkata : "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang

    berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan oleh

    pengorbanan dan kebaikanmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa

    amal ibadah kita ternyata tidak cukup

    untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa

    sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada

    anaknya jauh lebih besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada

    sesuatu perbuatan lain yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi

    kita pada kedua orang tua kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh

    dan selalu mendoakan kedua orangtua kita.

    Untuk membalas budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi

    membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua

    orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang

    mampu mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah

    mengkaruniakan kita udara secara gratis.

    Ada perspektif yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut

    ini. Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa

    memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan

    Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga

    tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa

    kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga

    hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita,

    taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan

    rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal

    soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat

    malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna

    apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat

    surga yang dijanjikan

    Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga

    bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

    Apa makna dari kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik

    (akhlak) dan ibadah kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga.

    Hanya karena rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga

    tidak cukup menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang

    bisa membuat kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak

    memohon rahmat dan ampunan Allah.

    Pertanyaan berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya

    agar doa kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ?

    Tidak semua orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari

    ancaman neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman

    kepada-Nya dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang

    benar, memahami siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya,

    bagaimana cara mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan

    ampunan kita bisa diterima.

    Apakah Benar Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan

    Membuat Allah Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ?

    Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal

    kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti

    tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala

    amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang

    berterbangan”.

    Ibarat seorang pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia

    bangun pagi membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga

    keselamatan anak majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang

    rajin ini ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau

    berusaha memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat

    sendiri tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras

    dan merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari

    tahu apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis

    tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa

    kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan

    terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai

    orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan

    sang pembantu. Iapun kaget

    ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya dengan alasan tidak sopan. Ia

    protes tapi majikannya punya hak.

    Analogi sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita

    bisa diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui

    perenungan dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa

    sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak

    baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya ada

    disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan

    diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan

    mengenal allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang,

    demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang

    dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan,

    amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya.

    Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami

    mengapa Allah mengancam orang-orang tidak

    beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.

    Memahami Allah dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena

    hakikat sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati

    manusia. Hati manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati

    bersemayam fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada

    Allah. Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong,

    dengki, kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami

    sifat-sifat Allah dengan baik.

    Sumber: Tanpa Mengenal Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita Melalui pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar sebelum segala amal ibadahnya diterima. Aqidah adalah hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak) secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik. Aqidah adalah apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh aqidah yang lurus kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65). Aqidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih. Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah yang pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59, 65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu Tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan kita.
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Tentang pembebasan sempurna dalam Hindu sudah sangat sering saya post disini. Rasanya lebih baik saya post hal lain tapi temanya tetap masih terkait.....

    Kebanyakan diantara kita mau yang baik dan indah, tapi tidak mau proses susah payah untuk mendapatkannya. Masuk surga itu sebuah pencapaian besar, hadiah spiritual yang sangat mulia. Tapi seperti biasa, untuk memperoleh sesuatu yang sangat mulia itu perlu proses yang susah dan berliku.

    Mau masuk surga, tapi dihina orang lain saja sudah marah-marah. Mau masuk surga, tapi dilempar batu saja sudah ngamuk-ngamuk. Mau masuk surga, tapi ditindas orang lain lalu ngangkat senjata siap perang. Ingin masuk surga -sebuah pencapaian besar- tapi tidak mau melewati proses yang susah dan berliku....Whew....jauh sekali bro....

    Surga hanya bisa dicapai dengan cinta kasih, kesabaran, ikhlas dan hal-hal lainnya yang juga mulia (seperti surga). Dihina orang lain, kita balas dengan senyum penuh kedamaian. Dilempar batu, kita balas dengan bunga dan rasa cinta kasih. Ditindas orang lain kita balas dengan dekapan penuh cinta kasih. Itulah sejatinya jalan kita menuju surga bro....

    Orang-orang yang menyakiti kita sejatinya membukakan gerbang menuju surga buat kita, asal kita menyambut semua hal itu dengan penuh rasa cinta kasih, kesabaran, ikhlas dan hal-hal lainnya yang juga mulia (seperti surga).

    Shanti (peace)....

    Sumber: Upanishad
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    tgl 5-6 juli kemaren gw ke sorga,

    perjalanannya melelahkan.

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Saya menganut agama Budha (Budha Maitreya).

    Secara garis besar jika dilihat dari sudut pandang Agama yang saya anut, yaitu :

    1. Harus banyak/sering berbuat amal dan kebajikan

    2. Berprilaku dan bertutur kata yang baik, serta berpikiran positif.

    3. Banyak introspeksi diri dan memperbaiki diri.

    4. Rajin beribadah/sembayang ke vihara maupun dirumah.

    5. Tidak membunuh dan tidak melakukan perbuatan dosa/maksiat lainnya.

    6. Berikrar vegetarian seumur hidup.

    NB: Bervegetarian artinya sangat luas. Vegetarian sendiri artinya adalah : tidak mengkonsumsi daging2an (hewani).

    Tujuannya adalah : untuk mengasah & mempertebal nurani kita. Kita diajarkan untuk menghargai semua makhluk hidup didunia ini, termasuk hewan. Bagi agama Budha, tidak membunuh bukan hanya berlaku bagi sesama manusia, tetapi juga bagi hewan. karena hewan juga memiliki perasaan dan bisa merasakan penderitaan dan sakit seperti kita manusia.

    Bervegetarian juga berarti harus bisa mengalahkan hawa nafsu. Tidak boleh merokok, minum-minuman keras, tidak mengeluarkan/melakukan perkataan & prilaku yang negatif, dan tidak boleh melakukan perbuatan maksiat lainnya.

    Dalam Agama Budha, hidup haruslah bersih jiwa dan raga. Bersih & sehat yang lebih mendasar dan mendalam.

    Kalau anda mau lebih tau banyak tentang ajaran agama Budha khususnya mengenai makna & tujuan bervegetarian, coba anda datang ke vihara (vihara Maitreya), bertanyalah kepada pemuka agama disana. Semoga anda mendapatkan pencerahan dan bisa lebih memahami.

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • 1 dekade yang lalu

    1. Percaya, (ditinjau dari syariat Islam)

    Hadis Rasulullah SAW : "seseorang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat, dijamin surganya oleh Allah". Hadis ini nampaknya mudah sekali diucapkan, namun tunggu dulu, apakah hanya dengan itu lalu surga tersedia ? Tidak, saudaraku. Masih ada empat poin lagi yang harus dilaksanakan, yaitu solat, zakat, puasa dan haji. Itupun masih dalam koridor syariat.

    Pertanyaan muncul, setelah rukun islam dilaksanakan dengan sempurna, masihkah mengharap surga ?

    Surga merupakan bonus, apakah kita masih sepeti anak kecil yang kalau tidak diberi upah lalu tidak mau melaksanakan perintah orang tuanya ?

    Ternyata syariat yang kita laksanakan masih dogmatis terhadap surga neraka semata.

    Seorang mukmin sejati tidak butuh surga, yang ia harapkan adalah diterima sebagai seorang hamba oleh Allah azza wajalla, kemudian RIDHO atas penghambaannya itu yang diharapkan. Kalau Allah sudah ridho, mau dikasih surga atau neraka adalah tidak menjadi kebutuhannya. Karena ia telah mendapat ridho tadi.

    wallahu 'alam bisshowab

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    sorry gw bkn anak kecil jd gw gak percaya.

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    dalam Islam

    sebenarnya manusia diciptakan Allah bukanlah untuk mencari surga

    melainkan...

    adalah untuk beribadah kepada Allah

    tapi nggak papa...

    saya akan coba jawab pertanyaannya

    seperti yang kita ketahui bersama

    surga adalah ciptaan Allah

    yang tentu saja segala yang ada di dalamnya ada dibawah kekuasaan Allah tanpa kecuali

    dan bagi siapapun yang ingin memasuki surga

    harus mendapat ijin dari yang memiliki surga

    yaitu Allah

    jadi...

    untuk dapat memasuki surga Allah

    kuncinya adalah harus mendapat ijin dari Allah

    pertanyaannya...

    bagaimana cara mendapat ijin dari Allah...?

    sebagaimana kita ketahui bersama

    Allah telah mengkaruniakan kepada hambaNya ni'mat yang tidak ada seorangpun yang mampu menghitungnya

    hambaNya dikaruniai mata, hidung, telinga, kulit, jantung, paru2, usus, dll

    belum lagi pakaian yang bagus, uang, ilmu, dll

    dan juga ni'mat kebahagiaan dengan anak yang lucu, istri yang baik, kesehatan, umur yang panjang, dan sebagainya yang sekali lagi

    tidak ada yang mampu menghitungnya

    dalam Islam

    amal ibadah yang setiap hari dilaksanakan oleh muslim tidak mungkin cukup untuk mengganti ni'mat yang telah

    dikaruniakan Allah kepada dirinya

    seberapapun banyaknya amal baik yang dilakukan kepada makhluk lain juga belum cukup untuk mengimbangi ni'mat dari Allah

    bahkan mengganti lezatnya air susu ibu yang telah kita minum saja kita tidak mungkin bisa

    so, amal ibadah dan apapun yang kita lakukan di dunia ini sangat tidak mungkin dapat menyebabkan seorang muslim masuk surga

    [Az-Zumar : 53]

    "Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

    ada satu faktor yang sangat menentukan seorang hamba bisa memasuki surga Allah

    yaitu dengan mendapat belas kasihan dari Allah Tuhan Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang

    tidak ada pilihan lain

    hanya itulah syarat agar hamba dapat memasuki surga

    kemudian akan kembali muncul pertanyaan

    bagaimana caranya agar mendapat belas kasihan dari Allah...?

    caranya yaitu dengan mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan ikhlas

    mempersembahkan amal2 baik dan ibadah2 yang dilakukan hanya untuk Allah

    saya kira kita setuju bahwa ikhlas dan sombong adalah hal yang sangat berbeda

    seseorang yang bersedekah dengan ikhlas

    tentu berbeda dengan seseorang yang bersedekah agar mendapat pujian orang lain

    demikian salah satu contohnya

    jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk mendapatkan surga

    tetapi.....

    untuk mendapatkan rahmat (belas kasih) Allah

    dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah

    (Insya Allah, Amiin).

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Sederhana aja. Ibarat ke rumah pejabat.

    Dapatkah kita masuk ke rumah pejabat itu tanpa dia mengenal kita? Tidak bukan. Berarti kita harus kenal dulu. Kita dapat masuk dengan leluasa bila kita mempunyai hubungan yang erat dengan pejabat tsb.

    Bila kita berbuat baik dan melakukan apapun yang pejabat itu suka, tetapi bila dia tidak mengenal kita tetap kita tidak dapat masuk dalam rumah itu.

    Bila kamu hanya mengaku Yesus sebagai nabi, maka berlakulah seperti yang kamu imani. Yah, kamu tidak mendapat apa2 dari Yesus.

    Namun bila kamu mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruslamat Dunia, sang penebus dosa dan jalan menuju surga maka terjadilah demikian bagi yang mengimaninya.

    Tidak ada pencucian dosa di neraka.

    Misalnya dosamu dicuci selama 10 thn di neraka, setelah itu udah suci silahkan masuk surga.

    Bila kamu berdosa dan masuk neraka, maka abadilah kamu disana. Begitupun yang di surga, abadilah mereka disana.

    Karena itu di dunia inilah, semasa kita masih hidup adalah kesempatan besar utk meraih surga itu. Jangan sampai terlambat, sebelum kita menghembuskan nafas terakhir kita sudah mengenal Yesus Tuhan sang empunya surga.

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Tidak ada cara untuk mencapai surga, walaupun seseorang mempelajari seluruh pustaka suci yg ada belum tentu sorga didapatkanya. Yg terpenting adalah lakukanlah semua darma dan kewajibanmu jika menjadi ibu lakukan kewajiban sebagi ibu jadi anak lakukanlah kewajiban menjadi anak, jika menjadi guru lakukan darmamu sebagai guru, dan jika anda warga negara indonesia lakukan kewajiban sebagai warga indonesia, dlsy. Mati dalam melaksanakan kewajiban sendiri walaupun belum sempurna akan sangat lebih mulia, ketimbang musnah melakukan kewajiban orang lain walaupun keadanya lebih sempurna. Maka dari itu kenalilah darmamu, sebagai manusia. Jangan cemari tindakanmu dgn keinginan mencapai sorga tetapi lakukanlah karna it merupakan kewajibanmu, dan Demi bakti kepada Tuhan, bekerjalah tanpa mengharapkan hasil atau buah dari tindakanmu serahkanlah hasil perbuatanmu kepada Tuhan. Annda berhak membidik burung tetapi mati dan tidaknya burung itu tidak ada dalam kuasa anda melainkan kuasa Tuhan. Salam

    Sumber: Bagawad Gita
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    Keselamatan(surga), bagi umat Kristen yang sudah menerima Kasih Karunia Tuhan, sudah merupakan kepastian.

    Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

    Ef 2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

    Ef 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

    Sumber: Alkitab
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Saya muslim. Kita diminta untuk beriman dan beramal shaleh.

    Kita masuk surga karena rahmatNya

    MASUK SURGA KARENA RAHMAT ALLAH

    1."Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)" (Ash-Shaffaat: 57)

    2."Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.."(QS. Yunus:99)

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda: ”Neraka berdebat dengan surga, neraka berkata:’aku akan dimasuki oleh orang yang zalim dan takabur (sombong)’. Surga pula berkata:’aku akan dimasuki oleh orang lemah dan miskin’. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada neraka:’kamu adalah siksaan-Ku. Aku akan menyiksa siapa saja yang Aku kehendaki melaluimu. Aku gunakan kamu untuk menimpakan bencana terhadap siapa saja yang Aku kehendaki’. Allah berfirman pula kepada surga:’kamu adalah rahmat-Ku. Aku akan berikan rahmat-Ku melalui kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Kedua-duanya dari kamu Aku akan isi hingga penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, kitab tentang surga, kenikmatan dan penghuninya no. 1651 halm. 509, Shahih Bukhari Muslim).

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam Nabi bersabda:”Amalan seseorang tidak akan dapat menyelamatkan diri masing-masing”. Seseorang bertanya:”Walaupun engkau wahai Rasulullah?” Nabi menjawab:”Ya! Walaupun aku tetapi Allah telah meliputi rahmat-Nya kepadaku. Tetapi kamu berusahalah bersungguh-sungguh!” (HR. Bukhari dan Muslim, kitab tentang surga, kenikmatan dan penghuninya no. 1637 halm. 506, Shahih Bukhari Muslim).

    "Tidak seorang pun di antara kalian akan masuk surga karena amal-amalnya. Para sahabat bertanya," Tidak pula engkau, wahai Rasullulah?" Beliau menjawab,"Tidak pula aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku." (HR.Bukhari)

    “Luruskanlah dirimu dan janganlah berlebih-lebihan, ketahuilah bahwa tiada seorangpun yang dapat selamat berdasarkan amalnya semata-mata, para sahabat bertanya, “Walaupun engkau sendiri ya, Rasulullah?" , beliau menjawab, “Demikian pula aku tidak dapat selamat kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas diriku”. (HR. lbnu Majah)

    Hadits-hadits ini dapat dilihat pada buku MUKHTASHAR IBNU KATSIR TAFSIR JUZ 29.

    Ibnu Abbas ra menuturkan bahwa Rasulullah ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau menjawab,”Menyekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari siksa Allah.”(Hasan, diriwayatkan oleh Bazzar dalam kitab Kasyful Astar 106).

    Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia menuturkan, ”Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, berputus asa dari rahmat Allah dalam meraih cita-cita dan menyelesaikan permasalahan.”(Shahih, diriwayatkan oleh Abdurrazaq 19701, Ibnu Jarir 5/40, Thabrani dalam kitab Al Kabir 8784).

    Kalau begitu apa fungsinya mizan? Mizan itu funsinya hanya sebatas untuk menunjukkan berat mana amal perbuatan seseorang antara amal baik dan buruknya, bukan penentu masuk surga atau neraka. Bisa saja orang yang amal baiknya banyak terus dimasukkan ke neraka.

    Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat.(Al Kahfi: 105).

    Tetapi bisa juga orang yang amalnya sedikit tetapi dimasukkan ke surga.

    Dan jika ada kebajikan (sekecil zarah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberi pahala yang besar dari sisi-Nya (An Nisa’ : 40).

    Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 tangkai, pada setiap tangkai ada 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki (Al Baqarah :261).

    Memang di dalam Al Qur’an Surat Al Qari’ah ayat 6-9 yang menunjukkan bahwa orang yang berat timbangan amal baiknya akan dimasukkan ke dalam surga dan yang ringan akan dimasukkan ke neraka.

    Bisa dijadikan pelajaran juga tentang kisah seorang ******* yang mati lalu dimasukkan ke surga hanya karena memberi minum anjing. Selain itu, ada juga kisah seorang pembunuh dari kalangan Bani Israil yang telah membunuh belasan orang yang lalu mati kemudian Allah memberikan rahmat-Nya lalu dimasukkan surga. Ada sebuah kisah lagi tentang orang yang suka memberi pinjaman hutang, padahal di dalam dirinya tidak dijumpai sedikitpun amal kebaikan kecuali hanya itu saja, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga. Jika amal ibadahnya ditimbang, berat yang mana.........???????

    Bukankah jika Allah ingin menghendaki melipatgandakan amal kebaikan seseorang yang mulanya hanya sebesar biji sawi menjadi sangat banyak itu adalah urusan Allah.

    Allah memberikan surga kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan neraka kepada siapa yang Dia kehendaki.

    Jika Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberi rahmat kepadamu, dan jika Dia menghendaki, pasti Dia akan mengazabmu (Al Isra’ : 54).

    Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki.(Al Baqarah :284).

    Katakanlah (Muhammad),”Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki.(Ali ’Imran :26).

    Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. (Ali ’Imran :129).

    Dia (Allah) mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki.(Al ’Ankabut :21).

    Walaupun semuanya itu atas kehendak Allah, kita tetap diwajibkan berusaha sekuat tenaga untu melakukan amal ibadah.

    Allah memberi balasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan. (Ibrahim: 51)

    Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (Ar Ra’du :11).

    Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. (Al Baqarah: 286)

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam Nabi bersabda:”...Tetapi kamu berusahalah bersungguh-sungguh!” (HR. Bukhari dan Muslim, kitab tentang surga, kenikmatan dan penghuninya no. 1637 halm. 506, Shahih Bukhari Muslim).

    Memang di dalam ayat Al Qur’an banyak yang menyebutkan bahwa seseorang akan dibalas sesuai amal yang telah dikerjakan selama hidup di dunia. Itu menunjukkan bahwa kita harus beribadah sebanyak-banyaknya sebagai ucapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah banyak memberikan nikmat, hidayah, maupun rahmat-Nya kepada kita. Bukankah jika kita mensyukuri nikmat-Nya maka Allah akan menambah nikmat-Nya.

    Nabi Muhammad saja yang amal ibadahnya sangat banyak tidak berani mengandalkan amalnya saja untuk bisa masuk surga apalagi kita yang ibadahnya asal-asalan.

    Bukankah seseorang itu bisa masuk islam dan beriman karena hidayah (rahmat) yang diberikan oleh Allah.

    Bukankah seseorang mengetahui petunjuk-petunjuk kehidupan karena Allah telah menurunkan Al Qur’an dan telah mengutus Rasul-rasul-Nya. Lalu bagaimanakah jika Allah tidak menurunkan Al Qur’an dan juga tidak mengutus Rasul-Rasul-Nya? Apakah kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?

    Bukankah seseorang itu bisa beribadah dengan baik jika Allah memberikan nikmat kesehatan. Lalu bagaimana jika kita sakit, apakah kita bisa beribadah dengan baik?

    Bukankah seseorang itu bisa membaca Al Qur’an karena Allah telah memberikan mata dan lidah kepada kita. Lalu bagaimana jika Allah tidak memberikan mata dan lidah kepada kita, apakah kita masih bisa membacanya?

    Bukankah Allah telah memberikan kita rezeki sehingga kita bisa bersedekah. Lalu bagaimana jika tidak diberi rezeki, apakah kita masih bisa beramal sedekah?

    Bukankah jika seseorang melakukan kebaikan sekeci.....l apapun maka Allah akan melipatgandakannya berkali-kali lipat. Bukankah itu salah satu bukti rahmat Allah. Lalu bagaimanakah jika Allah tidak melipatgandakan amal kebaikan seseorang, apakah sudah merasa mampu mengimbangi amal buruknya?

    • Masuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.