Anonim
Anonim ditanyakan dalam Keluarga & HubunganPernikahan & Perceraian · 1 dekade yang lalu

Baik apa Bodoh? menikah dengan orang yang tidak di cintai ?

Sebetulnya aku menikah karena

1. sangat kasihan dengannya karena dia termasuk orang yang prustasi, aku kawatir dia bunuh diri. aku tidak tahu apa itu hanya setrategi mendapatkan aku. dari kasihan timbul alasan kedua ;

2. ingin mengangkat derajatnya di mata masyarakat.

Tadinya aku kenal biasa dengan wanita yang 5 tahun lebih tua dariku, singkat cerita akhirnya aku menikah dan saya tidak bisa mundur dari rencana. Apa jadinya kalau aku batalkan.

Tapi setelah semua terjadi, kadang terlintas di benakku untuk mencari cinta? biar lebih enak karena memang dari segi pendidikan aku lebih tinggi darinya, kepinginnya sih yang setara juga.

Hatiku menolak untuk menyampaikan secara lisan hal ini terhadap orang lain karena pertama aku khawatir aku menjadi orang yang suka membeberkan masalah keluarga sendiri.

Setelah menjalani pernikahan kurang lebih 5 tahun aku dan dia seperti teman, sex menurutku biasa saja, atau mungkin karena istriku kurang pandai? monoton, tidak mau melakukan oral karena menurutnya kotor, sehingga tidak mau menggunakan mulut, itu terkadang membuatku kecewa tapi aku berusaha menghilangkan pikiranku itu

Aku ingin mencari cinta,

1. tapi aku teringat anakku

2. istriku & keluarganya begitu baik padaku

3. perasaanku mengatakan ah wanita semua sama saja sehingga jika jika melakukan hubungan intim pun hanya begitu2 aja.

Alasan itulah yang terkadang membuat urung niatku mencari cinta, ya biarlah jalanin aja ini hidup pikirku, tapi perasaan mencari cinta tetap tidak bisa hilang.

Aku tidak mau menceritakan ini pada istriku, tidak tega nanti kecewa berat nanti dia.

Untuk menceraikan pun tidak tega sama istri dan anakku.

Bagaimana menurut anda?

12 Jawaban

Peringkat
  • 1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Hi,

    saya menilai anda PICIK, ANGKUH & NARSIS.

    > anda hanya menilai CINTA ANDA PADA ISTRI BERDASARKAN SEKS

    > anda hanya ingin orang lain melihat anda sebagai SUPER HERO

    yang mencoba mengangkat seseorang dari lembah nista tetapi ternyata anda banting dia dengan argumen anda yang murahan karena dia tidak mau melayani anda '' dengan ORAL SEKS ''.

    > anda hanya menilai perkawinan anda dengan pilihan sepihak, sebab anda merasa nilai anda lebih berharga dari istri anda dan anak anda.

    > anda orang yang tidak konsekwen sementara anda mengaku berpendidikan tinggi

    > anda mengidap '' seksphobia ''

    advis saya cuma singkat INTROPEKSI DENGAN DIRI ANDA SENDIRI

    jangan salahkan orang lain.

    CERAI bukan satu-satunya solusi kalau anda hanya menunggu oral seks.

    bila istri anda tidak menyenangi '' oral seks '' itu adalah haknya yg harus anda hormati. kenikmatan seks bukan hanya satu-satunya melalui oral seks.

    cobalah dewasa dalam menilai diri anda sendiri.

    thnx

  • 1 dekade yang lalu

    Hai... Friend kasus anda sama dengan saya...

    Hai memang aku tahu perasaan anda bagaimana rasanya karena saya juga mengalaminya.

    Friend solusinya adalah mencari cinta lagi yang baru...

    eiittt... tunggu dulu ketika anda menemukan cinta dengan yang lain hal yang sama akan anda alami juga jadi hal itu sia sia alias cuma buang energi aja...

    jadi solusinya apa dong...

    solusinya tetap mencintai istri kita.

    Fokus kelebihanya

    jangan jadikan masalah kecil sebagai alasan untuk bercerai atau tidak ada cinta lah...

    ingat bidadari disurga jauh lebih baik,,,,

    kita hanya diberi amanah untuk ngemong istri kita

    dah baca belom cerita ini.

    "Apakah saya menikah dengan orang yang tepat"

    Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?"

    Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"

    Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"

    "Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."

    Inilah jawabanya! SETIAP ikatan memiliki siklus.

    Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat, begitu menyenangkan.

    Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.

    Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Ngga perlu berbuat apapun.

    Makanya dikatakan "jatuh" cinta!

    Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta"

    Bayangkan ekspresi tersebut!

    Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

    Jatuh cinta itu mudah.

    Sesuatu yang pasif dan spontan.

    Tapi?

    Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar..

    Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

    Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada..

    Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

    Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Na Loh!

    Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain.

    Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas?

    Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan diluar.

    Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini. Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TVsampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

    Tapi tau ngga?!

    Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri.

    Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya.

    Saya ngga mengatakan kalo anda ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh, Anda bisa!

    Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik.

    Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).

    Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah.

    Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.

    Itu adalah siklus…

    Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)

    KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN TERUS MENERUS..!

    Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi!

    Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya

    Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

    Benar juga ungkapan "diperbudak cinta"

    Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi.

    cinta itu butuh sikap BIJAK

    Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik .

    Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.

    Cinta bukanlah MISTERI Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.

    Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya.

    Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat.

    Ini merupakan reaksi sebab akibat.

    Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH".

    Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN!

    Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya, Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiannya,

    Cerita selanjutnya

    Pudarnya Pesona Cleopatra

    Habiburrahman El Shirazy

    Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah

    dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib

    ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

    “Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh

    tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap beliau dengan nada mengiba.

    Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan

    ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun

    untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

    Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya

    dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.

    Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa

    berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)

    sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

    Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante

    Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata

    tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir

    titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung

    indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang

    pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi

    usahaku selalu sia-sia.

    Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan

    datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah

    dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat

    Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya

    harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.

    Rabbighfir li wa liwalidayya!

    Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena

    aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.

    Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.

    Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

    Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup

    berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang

    bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang

    lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat,

    rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku

    mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya

    kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak

    acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

    Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia,

    keberadaanku sia-sia.

    Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang

    berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku

    belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang

    kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku

    kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.

    “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk,

    tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku,

    tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

    Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak

    bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk

    membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi

    pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah.

    Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari

    terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi

    Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

    Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku

    pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,

    Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan

    khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air

    panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas

    semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah

    katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah

    berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja.

    Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

    Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak

    dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin

    diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil

    menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus

    kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos

    mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku

    seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku

    dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku

    semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat

    Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan

    khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis

    mesir titisan Cleopatra.

    Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam

    di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan

    denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran,

    aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan

    segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian

    pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias

    berlian.

    Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah

    empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan

    perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat

    Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.

    Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak

    suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah,

    bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

    Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa

    tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku

    belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa

    dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

    ” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk

    ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan

    keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada

    Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan

    segelas wedang jahe.

    Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu

    Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang

    kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau

    tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan

    pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia

    dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat

    bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana

    dengan senyum yang kupaksakan.

    Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ”

    Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan?

    Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.

    Hana begitu bahagia.

    Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku

    dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang

    wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya

    belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki

    diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang

    kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu?

    Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku

    sendiri di dunia ini.

    Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah

    baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga,

    disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “

    Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!

    Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.

    Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku

    menangis disebut pasangan ideal.

    Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya

    dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya,

    saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang

    tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik

    meneteskan rasa bahagia.

    Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.

    Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana

    yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak

    pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.

    Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan

    sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ”

    Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku

    ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang

    cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku,

    aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

    Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura

    kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan

    atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.

    Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana

    hamil. Ia semakin manis.

    Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan

    kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga

    Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana

    tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku

    menemukan cinta” gumamku.

    Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana

    minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan

    permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus

    tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal

    dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran

    anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,

    no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

    Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu

    dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja

    aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.

    Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

    Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan.

    Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntahmuntah,

    menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada

    Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati

    masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi

    tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun

    jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya

    dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak

    meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

    Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat

    tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab.

    Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang

    dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi,

    seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan

    satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah

    menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ”

    Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak

    saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak

    santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana

    dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ”

    Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu,

    tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “

    Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan

    kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari

    seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama

    kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun

    pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari

    Indonesia.

    Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal

    menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak

    pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis

    secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata

    perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil

    membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan

    dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

    Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, samasama

    menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al

    Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam

    pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang

    tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

    Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah,

    menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar

    asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang

    cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap

    tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi

    semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak

    kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk

    berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa.

    Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir

    milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali

    saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan

    istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya

    tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus ke

    warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

    Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada

    sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang

    lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak

    mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.

    Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

    Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan

    kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka

    menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin

    saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.

    Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir

    itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia,

    aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata

    Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di

    KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya

    sudah meninggal.

    Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena

    tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah

    tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim

    surat yang berisi berita bohong.

    Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari

    Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat

    sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

    Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya

    menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa

    sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati.

    Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah

    pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti

    dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya.

    Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan

    bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan

    tabungannya.

    Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya

    untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia

    tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke

    kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur

    itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini,

    rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta

    istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat

    itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang

    selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya

    akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya

    Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia

    memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

    Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

    “Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb.

    Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini,

    niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan

    kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

    Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda

    dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya

    Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa

    begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa

    cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku

    padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini

    cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

    Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup

    hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap

    menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.

    Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah

    rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah

    dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha

    Suci Engkau”.

    Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku

    meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan

    teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut,

    tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan

    haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk

    dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang

    datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam

    hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

    Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

    Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang

    jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan

    nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan

    menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu

    mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

    ” Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia

    telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh

    di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat.

    Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan

    kekhilafannya selama menyertaimu.

    Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan

    tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .

    Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “

    Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu

    di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang

    mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami

    tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami

    sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.

    Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta

    Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika

    aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi

    kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah

    menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

    Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa.

    Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana.

    Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin

    Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..

    Sumber :

    Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )

    Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)

  • Venus
    Lv 6
    1 dekade yang lalu

    Pak Brojomusti,

    Niat awal pernikahan bapak sudah baik...menolong dan mengangkat derajat seseorang, jadikan itu niat yang tulus selamanya....

    Kemudian didapati, istri tidak memnuhi kriteria bapak, seperti pendidikan, umur....menurut saya sih ini salah satu akal2an bapak aja, karena hal2 itu bapak pastinya udah tau sebelum ada pernikahan!

    Gak mungkin kan, kita menikahi seseorang tidak tau umurnya berapa, pendidikannya sampai mana?

    Apalagi kemudian bapak merasa karena sikap istri "kurang" yg tidak mau melakukan oral...nah disini ada lagi unsur napsu!

    Apa bapak sedang mencari celah pembenaran untuk setidak-tidaknya selingkuh? mungkin gak kepikir untuk bercerai tapi selingkuhlah!

    Padahal gak ada satupun alasan baik yg membenarkan perselingkuhan...!

    Cinta? mungkin bapak salah dalam mengidentifikasikan cinta, dimana semua kriteria, kemauan bapak semua terpenuhi...bukan itu maksudnya! Saling perhatian antara bapak, istri dan anak juga disebut cinta, apalagi bapak ternyata menyadari kebaikan istri dan keluarganya, bapak juga mempertimbangkan anak ...nah pupuk terus rasa ini, nantinya bapak akan menyadari bahwa inilah yang disebut cinta,

    Hilangkan perasaan, pikiran yang sekarang ini menggoda bapak! ini cuma perasaan bapak aja yang tidak merasa terpuaskan, hal ini bisa kok dikomunikasikan kembali...

  • 1 dekade yang lalu

    Hi, ... Salam kenal

    Aku orang baru ikutan nimbrung...

    Jodoh ada di tangan Tuhan, tapi lebih tepatnya

    "Jodoh bukan suatu ketetapan melainkan suatu pilihan,

    Jadi jangan pernah menyesalinya". Kalo anda sudah memilih trimalah apa adanya, dan coba lihat sisi baik istri anda,disitu cinta akan tumbuh.

    Aku rasa sex yah... gitu gitu aja, coba istri diajak bicara dari hati ke hati dan beli buku panduan sex mgk itu jg bs membantu.

    Smoga ini membantu.

  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • 1 dekade yang lalu

    Dari satu sisi anda itu sudah berbuat banyak, menyelamatkan seorang manusia dari kematian .Betapa tingginya akhlak anda. Jika terjadi perkembangan di luar keinginan anda, lihatlah dulu secara jernih dimana sebenarnya sumber malapetaka itu. Soal sex , memang penting tapi ingatlah kata socrates kalau tidak salah : " wanita cantik dan jelek funsinya sama saja ".

    Saya tidak berani mengatakan anda bodoh gara2 keputusan itu, saya hanya ingin mengatakan komunikasi anda dengan isteri anda itu yang tidak produktif. Seorang negarawan Inggiris pernah dengan seorang janda kaya tapi tidak terdidik dengan baik. Suatu ketika si negarawan bertanya : Tahukah kamu karena aku mengawinimu ? Jawab istirinya : Karena Uang. Waktu berlalu berlalu bertahun-tahun kemudian disaat mereka istirahat istirinya bertanya, kalau pertanyaan yang sama diulang apakah jawabnya masih sama. Si negarawan menjawab tidak.

    Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, justeru disalnalah nikmatnya perjuangan itu.Walau agak telat saya kira tidak ada salahnya anda membuat komitmen yang menjadi kode ertic dalam setiap laju kehidupan anda.

  • 1 dekade yang lalu

    yang namanya jodoh kita tidak pernah tahu bagaimana kita menemukan jodoh kita, mungkin untuk kamu ya seperti itu kkamumenemukan jodoh kamu, tidak ada yang namanya bodoh orang tua akupun menikah karena dijodohkan awalnya mereka tidak cinta, tapi sampai anak-anaknya dewasa mereka tetap baik-baik aja,

    perasaan seperti itu memang biasa, setiap orang yang berumah tangga karena atas dasar cintapun mengalami hal yang sama, tergantung bagaimana kamu menyikapinya, apalagi kalian sudah punya anak itu menjadi nilai tambah untuk kalian, karena anak itu hadir atas buah cinta kamu dan istri kamu iyakan.

    apalagi kamu bilang istri kamu dan keluarganya itu baik sama kamu, apalagi yang kamu cari, belum tentu kalau kamu bercerai dan mencari cinta lain mendapatkan istri dan kelaurga yang baik iyakan.

    jangan pernah memandang istri kamu itu tidak sederajat dengan kamu, memangnya kalau orang berpendidikan tinggi itu bisa menjamin menjadi istri yang baik, cobalah lihat kelebihan-kelebihan lain yang ada pada istri kamu yang belum tentu ada pada perempuan lain.

    dan yang terpenting selalu berdoa kepada tuhan, agar rumah tangga kalian selalu rukun, dan kalian terutama kamu bisa menghadapi segala macam persoalan rumah tangga kalian.

  • 1 dekade yang lalu

    Bro... bisa dipahami bila melakukan sesuatu karena terpaksa. Tapi jangan pelihara rasa itu. Krn apapun kebaikan yg dilakukan istri akan tertutupi dan membuatmu semakin sulit untuk mencintai istrimu.

    Dialah sekarang cinta sejatimu. Tetaplah cari sesuatu kebaikan dalam dirinya. Selalu berpikiran positif. Cinta datang karena perasaan ikhlas bro. Apa yg ada dlm genggamanmu sekarang, jgn dilepas, hny krn mslh cinta. Apalagi bila dilihat dari cerita di atas, tdk ada permasalahan yg begitu sangat mengecewakan. Istri dan anak adlh tanggungjwb di dunia dan akhirat. Jgn sia2kan mereka...

  • 1 dekade yang lalu

    mnrt saya karena anda sdh mnjln hub dgn psgn mk anda hrs slg t'buka 1 dgn yg lain n wlpn resiko pa yg akan dihdpi n jgn b'pkr mcm2 klo blm melakukanx ya anda bnr msh mengingat klrga tu yg t'baik ktka anda igin melkukan sesuatu hal n b'pkr kmbli n sebaikx mslh yg trjd jgn diumbr k org lain krn tu mslh privasi yg sehrsx anda n klrgalah yg tw n cinta tu dtg dgn slg kebersamaan n anda hrs bs menerima tu krna anda sdh memilih tu bg hdp anda n jgn dsesali lg hdpi hdp ni kt org nasi tlah jd bu2r n bgmn crx agar bu2r tu jd lezat dimkn artix anda hrs bs p'tgg jwbkn kptsn yg anda ambl n tak menyesal serta bgmn cr anda tu m'jdkn klrga lbh baik dgn m'cintai n m'nyayangi klrga sepenuh ht n mgkn ni cobaan bg anda dr tuhan n smua kmbli k tuhan jg ni yg t'baik bg anda jd ambl hkmh ni smua

  • 1 dekade yang lalu

    jika anda ingin mencari cinta,carilah cinta itu pada diri istri anda...dengan cara

    -menilai istri anda adalah seseorang yang lebih segala galanya dari wanita lain

    -jangan selalu melihat sisi buruk istri anda

    cinta tidak perlu di cari karena cinta akan datang dengan sendirinya tanpa kamu sadari..

  • 1 dekade yang lalu

    memang sangat berat menikah tanpa ada rasa cinta semua akan terasa hambar, karna dengan adanya cinta hidup terasa lebih berwarna, tpi kita tidak bsa memungkiri semua sudah ada yang menuntakan.

Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.