akh CERAI !, mengapa begitu menyakitkan, ..........?

teman-teman selamat jumpa lagi !

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

- membakar pakaian dan surat2 penting

- menyembunyikan HP patner

- membawa lari anak

- memalsukan informasi

akh ! 1001 cara dilakukan hanya karena menghadapi perceraian

yup ! mengapa perceraian selalu menguras emosi - keuangan - dan menghilangkan kepercayaan diri !

meskipun masih ada juga yang berteriak diluar ruang sidang '' YEAAAAH

AKU BEBAS - LEPAS DARI PENDERITAAN ! "

padahal perceraian bukan berarti kita kalah

>> apakah pertanda kita tidak siap dengan perkawinan kita sendiri ?

>> atau perceraian berarti akhir dari segala-galanya !

padahal belum tentu lho ! perceraian pertanda KITA TAK SEJALAN dengan patner hidup kita, baik itu cara berpikir - ide- tindakan dll

boleh dong berbagi opini setelah '' selesai CONTRENG ! ''

i love u all

thnx

Perbarui:

Fantastic jawaban teman2 - great !

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

@Padang r, terkdg prinsip meleset

@Gedhang k,pendek ttp kuat- duri yg hanya dilht sebelah mata

@Tomynigh, tdk ada jln lain

@Syamsul h, kita berusaha sempurna dihadapanNYA

@Petit, ibarat busur dan anak panah dmkn tindakan dgn pikiran

@Bantuin, re-start button - why not dear

@Lif, niat- kita tdk sendiri,jd berbagilah,

he..he dell baru turun gunung

@Ernestz, misi manusia krn hikmat Tuhan

@Ayes, pasir mmg rawan terpaan badai angin dan hujan lebat

@Edi j, bgmn kalau 2 nahkoda 1 peraturan ?

@Tithut, hidup adalah sebuah proses dear, hm.. salut utk seorg senior nih !

@Amel, kemari akan kupeluk dirimu, gambaran nyata seorg single parents - mother dlm forum ini, sepak terjangmu adalah fakta sebh perkwn vs perceraian

@QueeN t, jgn berkecil hati dear

@Jelitani t, mengapa kita sulit bersatu dlm perbedaan ?

@Nirmala, jgn takut ! Luna Maya jln terus.

Perbarui 2:

@Rasta_s, uraian yg menarik, bila egoisme hrs kita bayar dgn perceraian apakah berarti kita tunai membayar kekalahan kita?

@Riki j, cinta-pengertian tdk mengenal batas wkt, dia hdp sepanjang hayat perkwn

@Endi s, sobat ! itulah kelemahan kita-manusia, mencoba memaksakan kehendak kepada TUHAN

@Tendewi, witing tresno jalanan suko kulino, apapun yg terjd kita hrs memilih dear

Perbarui 3:

@Eko b,mungkin kita terlalu keras kepala!

@Bayu d, ihhh tak jewer nih

@Agung c, ini sebuah fakta kehidupan

@Art_f, kita sendiri yg memilih

@Rio d, tidak pernah puas, itulah kita

utk mengalah wuih! langka sekali

@Rufinus, ingin sempurna-itulah kita, sampai kita lupa....

Perbarui 4:

@San, piye toh, jgn2 gara2 konten begini sampeyan mandek sampe lapuk

@Venus, heit..sakit contreng toh, hehehe sini tak pijet dah dpt elmu dr gungung neh- buat jamu pegel linu

@Cut m, wew '' love in the air dear '', ehem @Rio kesini kuwe tak jewer kupingmu

@Doel, uraianmu bagus-manusia cenderung mengulang kasus yg sama tnp disadari

@Hasby g, sebab akibat =hukum alam, nah kita trmasuk didlmnya ya khan

@Nun, ibu kita mmg bijak, jgn sediakan tali jemuran kalo siap nikah ttp bukalah pintu dan jendela utk jln keluar

Perbarui 5:

@Dani, mari kupeluk pundakmu sekedar memberi support, btp 100% fakta sepak terjang seorg single mother, sekedar airmata saja tak ckp utk mengluarkan duri dlm daging perkwn, kau sdh buktikan keberanian

@Devita,cinta ibarat bumbu msh jg memerlukan pelengkap

@Claresta,garam fungsinya mengasinkan, so bila ia terasa pahit empedu-akh! jgn perthnkan

@Narendra k,mengapa kita dibutakan dgn perbuatan sendiri!

Perbarui 6:

@Vivit, ohh kemari kuhapus air matamu, perkwn seperti permainan rollet, kemana dadu dibuang kita pasti menunggu dgn hrpan, ttp terpisah dr darah daging hhhh ! rasanya tersayat

@Andi, della gak akan lupakan masalahmu, kau gambaran seorg suami yg berjuang utk sbh pengertian

@Amix, benar - katakan kalau hdp sebh proses

Perbarui 7:

@Opung r, kira2 sama dgn ada pertemuan ada jg perpisahan

@Hahm, perhaps...kantormu itu disebelah mana di airport !

Perbarui 8:

@Opung r, kira2 sama dgn ada pertemuan ada jg perpisahan

@Hahm, perhaps...kantormu itu disebelah mana di airport !

Perbarui 9:

~~~~~~~~~~~~~

@della mengucapkan super thnx utk rekan2 yg sempat membaca konten ini & memberi bintang;

@Msgrafis, @Noname, @Tendewi, @Vivit, @Che-M@l, @Dani, @Lif, @Venus dan @Dina b,

sekali lg terimakasih byk rekan2

~~~~~~~~~~~~~~~~

setelah sy menganalisa jwb yg msk snggh fantastic, semua ditulis berdsrkan ide-pengalaman pribadi-opini

utk semuanya sy hrs menulis disini STANDING APPLAUSE ! fantastic.

memilih BA adalah yg tersulit, namun marilah kita melihat semua sbg suatu pembelajaran dan sharing antar sesama

kisah nyata @Amel, @Dani dan @Vivit adalah contoh bgmn kita sbg manusia bergumul utk mencoba mengerti perkwn vs perceraian dlm kehidupan berumah tangga. benar @Dani, tdk ada satu orgpun yg akan mengerti mengapa kita mengambil jln itu - CERAI- kita hrs dan jg krn dipaksa.

siapapun yg menjd BA, marilah kita melihat sbg cerita nyata dlm bgn kehdpn kita juga.

sekali lagi rekan2 yang @della hormati ditempat super thnx and i love u all

39 Jawaban

Peringkat
  • 1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Dear Della Anna...

    Waduh lama gak muncul...tapi sekali muncul posting tentang "cerai"...

    Topik yang berat, tapi asik untuk di perbincangkan...

    @Della tentu selalu ingat tentang posting yang aku ajukan...

    Selalu tentang masalah rumah tangga-ku...

    Dengan posting2 tsb kalo boleh jujur aku ucapkan...

    Kalian pemberi motivasi dan kekuatan lain di dalam diriku...

    Sehingga akhirnya aku berani untuk mengambil keputusan...

    Menyudahi rumah tangga yang bermasalah, bukanlah jalan keluar yang baik...

    tapi kita gak mungkin untuk berjalan di tempat saja, atau hidup terus dengan partner yang tidak lagi menghargai kita...

    akhirnya cerailah yang di pilih...

    @Della...

    Berat banget yang terasa, manakala kita harus mengambil keputusan itu, apalagi ada anak, buah cinta dari perkawinan kita...

    sampai2...pas sedang mendaftarkan gugatan cerai itu, masih terbesit tanya di hati "apakah ini yang terbaik bagi aku dan anak..."

    Kuyakini bahwa ini yang terbaik...

    karena hanya dengan ini...AKU BEBAS - LEPAS DARI PENDERITAAN !

    Masalah anak...

    sekian tahun ... aku buktikan, bahwa aku bisa menjalankan tugasku ssebagai ibu dengan baik, walau bagaimanapun untuk tugas seorang ayah tidak bisa dengan sempurna aku perankan...

    Meski aku yakin, anakku tidak mau dengan perceraian ini, tapi dengan keputusan ini, aku yakin dia bisa hidup lebih tenang, karena tidak harus terus menerus memikirkan manakalah sang ayah tidak datang untuk menengok dia...

    Percerain jelas...menguras emosi, keuangan dan segalanya...

    tapi bukan berarti kita harus terus larut dalam emosi berkepanjangan...

    gak perlu bakar foto pernikahan...

    gak perlu membawa lari anak...

    gak perlu membakar pakaian partner...

    jalani aja dengan ikhlas dan pasrah...

    pasti lebih enak untuk menjalaninya...

    @Della...

    gak ada satu orangpun, yang ingin pernikahannya hancur...

    tapi ketika semua usaha sudah kita lakukan untuk mempertahankannya...

    dan ternyata tidak berhasil dan malah membuat kita semakin terluka...

    salahkan kalau kemudian cerai dipilih sebagai solusi terakhir...

    meskipun pahit dan menyakitkan...

    @Della...

    Segala kejadian kemarin dan hari ini adalah suatu proses pembelajaran untuk menghadapi kehidupan di depan...

    Jalan kedepan dan jangan menoleh lagi kebelakang...

    Karena hidup tidak untuk kemarin, tapi untuk hari esok...

    Dan semoga esok lebih indah dan baik, dibanding kemaren dan hari ini...

    Salam...

    Amel

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    hai Della ... lg bertapa dimana slama ini ?

    duh, stelah membaca postinganmu, timbul niat antara keinginan menjawab dan tidak, soale aq pribadi sedang mengalami getirnya dampak dari suatu prahara yg bermuara ke perceraian,

    memang sih tergantung dari individu masing - masing, apa motif sesungguhnya dgn lahirnya proses menuju finalnya sidang ato proses perceraian,

    sperti uraianmu diatas, sebagian malah merasa lega dan bebas, merasa bebas dari suatu penderitaan bila perceraian telah sah,

    tapi adakah masing - masing telah memikirkan dampak psikologis perkembangan jiwa anak nantinya setelah kedua orangtua mereka bercerai ?

    bila menalar lebih dalam uraianmu diatas, terlihat bahwa banyak pasangan yg bercerai seolah lebih mengedepankan keegoan masing - masing, seolah telah menjadi "no problem" bila korban paling nyata adalah anak - anak yg lahir dari pernikahan tsb,

    jujur dech, saat ini kami sebagai suami istri telah divonnis resmi bercerai, vonnis setelah sidang yg berlarut - larut disebabkan pihak majelis hakim yg mengupayakan agar bisa rujuk lagi, karena topik gugatan cerai adalah masalah yg prinsipil, bukan karena suatu perselingkuhan ataupun kdrt ato yg sejenisnya, dan pihak hakim juga "membaca" datangnya gugatan ini sesungguhnya dari pihak ketiga,

    terlepas dari motif awal lahirnya gugatan cerai masing - masing pasangan, aq lebih mencermati bahwa sesungguhnya hati nuranilah yg semakin menipis kadarnya hingga lebih mengedepankan ego dan ambisi pribadi, termasuk juga disini ego dan ambisi pribadi para pihak ketiga yg malah lebih aktif sebagai MOTOR PENGGERAK perceraian tsb, pihak ketiga yg dgn sangat bersengaja mematikan suara hati nurani mereka, pihak ketiga yg dgn kepuasan menghamparkan senyum kemenangan bila melihat anak - anak menangis pilu mengetahui papa dan mama mereka tidak lagi pernah bersama setiap hari dan malam hari,

    mungkin jawaban dan opini aq ini terlalu subjektif ya, karena beracuan dari parahara yg aq alami secara nyata,

    mengubungkannya dgn postinganmu diatas, terasa ada yg TERLEWATKAN dech .... peran serta JAHATnya pihak ketiga,

    sbagai contoh nich, kami sbagai suami istri sesungguhnya lebih mengedepankan kepentingan anak hingga berusaha agar sidang perceraian jangan sampai dimulai,

    akan tetapiiii ... ???

    beberapa oknum pihak ketiga yg serasa telah mendapat LISENSI dari Yang Maha Kuasa sebagai wakilNYA di dunia ini, menganggap berhak memaksakan kehendak mereka utk menceraikan kami, dan dgn lantang serta tegas menjelaskan bahwa melawan mereka adalah durhaka terhadap keluarga besar dan juga durhaka terhadap Yang Maha Kuasa,

    mungkin faktor pendidikan salah satu pasangan suami istri sangat dominan mempengaruhi dan membentuk cara pandang terhadap para "wakil tuhan" tadi, hingga dgn gampang "membeo" semua instruksi pihak ketiga tadi, trutama saat diperintahkan utk mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan agama,

    ya ... mereka merasa sebagai wakil Tuhan di dunia ini, dengan segala keIDIOTan mereka melupakan segala tabiat dan perilaku mereka yg sesungguhnya sehari - hari,

    Della ... bila aq teruskan, aq khawatir opiniku akan semakin tdk objectif, karena saat ini, rasa dendam dan emosi yg masih kumiliki sebagai runtutan dari terpisahnya aq dari dua putri kesayanganku yg masih kecil - kecil ...

    cerai bagiku tdk terlalu menyakitkan bila tdk sampai memisahkanku dgn anak - anakku tercinta,

    salam dech atas turun gunungnya kembali dikau dari gua pertapaanmu,

    bawa oleh - oleh ga ? hihi ...

    thanx dech, Della

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • dani
    Lv 5
    1 dekade yang lalu

    aku tersentuh ma jawaban @ amel...

    gue banget geto lohh...

    aku dulu juga seperti itu... bimbang bahkan ketika dah duduk di depan hakim.

    aku juga sepakat ma ibu venus...

    well... terus terang aja nih... yg bisa memahami suatu perceraian adalah orang2 yg pernah bercerai itu sendiri.

    orang luar ga akan tau gimana rasanya.

    semua orang cuma bisa bilang teori pernikahan tu begini - begitu.

    tapi menjalaninya... itu beda banget.

    ada yg bilang pernikahan yg awet tu butuh kesiapan.

    tapi orang yg paling siap pun bisa kepeleset.

    ada yg bilang pernikahan yg langgeng itu butuh kedewasaan.

    tapi kedewasaan tu harus dua pihak...

    pernikahan ga bisa dijalani kalo yg dewasa hanya satu pihak, sementara pihak lain masih kekanak2an.

    ada yg bilang pernikahan tu penuh dinamika.

    tapi dinamika pun perlu sikon yg kondusif.

    bukan seperti rollercoaster yg naik turunnya drastis banget.

    ada yg bilang dalam pernikahan itu semua harus sejalan.

    tapi haruskah begitu, padahal kita adalah individu yg unik?

    haruskah semua "dipaksakan" sejalan agar pernikahan itu bertahan?

    aku pun dulu penuh teori seperti itu.

    tapi toh ternyata pernikahanku gagal juga.

    sekarang aku pikir pernikahan yg langgeng adalah pernikahan yg "beruntung".

    beruntung menikah dgn pasangan yg "pas".

    beruntung dihadapkan pada masalah2 yg bisa diatasi bersama.

    beruntung memiliki komitmen yg sama.

    beruntung berada dalam situasi-kondisi-ruang-waktu yg memungkinkan berjalannya suatu pernikahan.

    tidak semua pasangan menyadari keberuntungan mereka.

    mereka ga sadar... banyak pasangan yg tidak seberuntung mereka.

    buatku... perceraian membuat aku kehilangan diriku yg dulu.

    tapi perceraian juga melahirkan aku yang baru.

    selama bertaun2 aku menunda bercerai... karena takut...

    takut dgn status janda...

    takut ga bisa membesarkan anak sendiri...

    takut inilah... takut itulah...

    tapi perceraian membuat aku menyadari potensiku.

    aku menyadari kekuatanku sebagai manusia.

    aku menyadari kekuatanku sebagai perempuan.

    aku menyadari kekuatanku sebagai ibu (sekaligus ayah).

    waktu bercerai, aku merasa seperti mati.

    tubuhku berfungsi, tapi ga ada jiwanya.

    kosong.

    kayak zombie... ato robot.

    sekarang pun masih seperti itu... sedikit...

    tapi ga apalah...

    kalo aku harus mengalami semua kesakitan itu supaya jadi aku yg sekarang, aku rela.

    lebih baik seperti ini daripada hidup berpura2...

    pura2 bahagia... walopun hati menangis.

    pura2 menikah... tapi pernikahan itu ga ada artinya.

    life goes on...

    at least, my life goes on.

    jadi dijalani ajalah...

    sambil berharap suatu ketika kelak aku akan mengalami keberuntungan yg sama.

    dan akhirnya... menjalani pernikahan yg bahagia juga...

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Venus
    Lv 6
    1 dekade yang lalu

    Whhuuuaaahh....gara2 urusan contreng menyontreng nih jadi terbaring hampir 3 hari dan telat deh jawab @mbak Della !!

    Hihihihi....resiko jadi bu RT, jadi anggota KPPS deh ah !

    Perceraian ??? Duh....badan masih pegel2 gini diajakin ngomong soal perceraian ? Coba jawab ala orang sakit ya?!

    Perceraian dianggap sebagai kegagalan berumah tangga, ya iyalah mana ada sih waktu nikah kepikir cerai !

    Ada perceraian yang berjalan damai, ada juga yang masih menyimpan dendam tapi semua perceraian menyebabkan luka bathin.

    Sekarang bagaimana kita mengolah luka bathin itu bisa terima atau gak ? Menurut saya, tindakan2 seperti menyembunyikan no hp mantan, membakar pakaian dan surat2 penting dll itu bagian dari dia mengolah luka bathinnya, masalah yg gak terselesaikan !

    Banyak penyebab perceraian ; selingkuh, KDRT, ekonomi, campur tangan ortu misalnya.....mereka tidak menyelesaikan masalah dari awal permasalahan tapi dari tengah permasalahan !

    Perselingkuhan, mereka lebih ingin menyelesaikan masalah dari perselingkuhan, gak dilihat awal masalah perselingkuhan apa.....udah saking emosi mungkin, bicara soal harga diri akhirnya fokusnya cuma perselingkuhan bukan mengapa bisa sampai terjadi itu! gak ada lagi yg mau mengalah.....akhirnya cerai dengan membawa rasa marah dan dendam, dibakar habis deh semua kenangan !

    >> apakah pertanda kita tidak siap dengan perkawinan kita sendiri ?

    Belum tentu juga, mbak....

    Tetapi memang perkawinan yg tidak siap lebih rentan terhadap perceraian. Bukan artinya perkawinan yg pasangannya sudah siap lahir bathin akan aman2 aja banyak juga kan bercerai.

    Saya lebih berpikir pasangan itu tidak siap mengikuti arah dan perkembangan perkawinan.

    Hidup gak jalan di tempat, manusia gak statis, kalau pasangannya tidak mengikuti perkembangan itu yaaa.....kelindes dan terjadi perbedaan dan blablablabla.....kalau gak ditanggapi dewasa,,

    >> atau perceraian berarti akhir dari segala-galanya !

    Dari hilangnya kepercayaan diri sbg orang yg berpasangan, memang ada yg berpendapat seperti ini TETAPI.... apakah dia mau juga mempertahankan perkawinan yg sudah tidak sehat ? Kembali ke bagaimana kita mengolah emosi dan kemauan mengambil hikmah kehidupan.

    "Kehidupan ibarat taksi. Argometernya terus saja berjalan entah anda sampai ke suatu tempat atau diam di tempat"

    Apa gak rugi jika orang perceraian berarti akhir dari segala-galanya tanpa mengambil pelajaran dari kegagalan itu !

    Akhir dari penderitaan masih bisa diterima akal.....'' YEAAAAH

    AKU BEBAS - LEPAS DARI PENDERITAAN ! "

    Perceraian pertanda KITA TAK SEJALAN dengan patner hidup kita, baik itu cara berpikir - ide- tindakan dll

    Lebih setuju seperti ini, mbak....Perceraian pertanda kita tak sejalan LAGI ! Hubungannya dengan perkembangan hidup dan manusia tadi itu, mbak.....bisa mengikuti atau tidak, Kalau dari awal udah tau tidak sejalan kok nekat nikah sih ?!

    Ini aja deh opinin orang lagi pegel, mbak

    mong ngomong.....mbak Della nih abis semedi di gunung mana sih ? kok turun gunung bahas perceraian ?

    salam saya,

    @mbak Della, bilangin @Dani dong, mbak....

    Jangan panggil Venus ibu gitu lho.....ketauann tuanya nih !

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    hallo mbak della,wah lama nih aku gak kunjung ke Y!answ,gimana kabarnya.....??!!

    ok!!,akh cerai!!!,seharusnya kita2 nih yang diberi arahan tentang perceraian,mbak della kan dulunya.....

    kalo aku c,mengira sumber perceraian adalah ketidak nyamanan antara pasutri ataupun dengan keluarga mereka.tinggal bagaimana pasutri tersebut menyikapi ketidak nyamanan tsb.

    protes!,marah,ngambek,hingga pada akhirnya akan memutuskan tuk bercerai jika masalah dirasa terlalu berat...

    perhaps....!!!!

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    mbak della kok aku ga di undang heee..... emmmm menurutku pereraian tidak selamanya buruk kalau Mb della pernah dengar cerita kisah abu bakar yang punya putra yang akhirnya bercerai walaupun mereka saling mencintai dan tidak pernah cekcok tetapi krn abu bakar takut kalau kecintaan mereka sampai mengalahkan kecintaan Alloh maka lebih baik bercerai saja krn di dunia hidup sementara dan amat rugi kalau qta hanya mengejar kenikmatan sesaat Thanks mba Della aku masih membutuhkan masukan dan saran mbak Della Thanks

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Hanya karena satu kata "CERAI"!! Seorang laki-laki akan menjadi penghuni neraka *******.Cerai hanya gampang bagi orang yg tidak memahami makna dari sakralnya sebuah pernikahan.Pikirkan baik2 banyak yg di rugikan,terutama anak2.Selalu ada jalan keluar dari setiap masalah yg timbul.yang jelas bukan perceraian.

    Sumber: RIWAYAT NABI (MENGAPA IBLIS TERPAKSA BERTEMU NABI MUHAMMAD SAW)
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    klo ku sih setuju2 aja ama katanya iraaaaaa,,,........

    kan sayang.,,,,,,,,

    anda pernah bilang,,,>> apakah pertanda kita tidak siap dengan perkawinan kita sendiri ?

    itu maksudnya apa???????bearti pernikahan yang kalian jalani ada murni tidak saling mencintaiiiii,,

    maksudnya kalian tidak tulus mencintai orang tersebut,,,

    karena berbagai hal makanya kalian mencoba untuk saling mencintai,,

    sebenarnya masalah perkawinan ini tidak untuk saling memahami ketika udah menikah,,,

    malah sebelum menikah kalian harus saling memahami 1 sama lain,,,

    cuma itu yang ku bisa kasih sarann.

    sory klo ada nyinggung perasaan,,,....

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    aku kadang bingung dengan perceraian. kenapa dengan mudahnya memutuskan perkawinan. tidakkah berpikir waktu akan menikah aja begitu sulitnya. tidakkah segala sesuatunya bisa diselesaikan tidak dengan emosi dan menghilangkan rasa egois?? aku sering melihat orang bercerai begitu mudah dengan alasan yang sebenarnya sangat mudah untuk diselesaikan. kalo memang menikah untuk bercerai, kenapa mesti menikah dan berjanji ke pada tuhan kita? sebegitu mudahkah berjanji kepada tuhan? sebegitu mudahkah mengingkarinya?? sebegitu dangkalkah rasa cinta itu??bercerai bererti memilih masalah yang lain. maaf aku bicara begini karena kau belum menikah dan melihat orang2 yang masih muda dan berstatus janda dan duda. yang pada akhirnya berbuat maksiat untuk mencari kepuasan dan jadi obyek pelampiasan nafsu aja.

    Sumber: linkungan kerja banyak janda muda yang jadi obyek nafsu lelaki
    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    perceraian adalah perbuatan yg dibolehkan namun paling dibenci oleh tuhan, gw takut dibenci sama tuhan, gak dibenci aja belum tentu masuk surga, apalagi di benci sama sang pencipta

    • Masuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.