Alex
Lv 5
Alex ditanyakan dalam Seni & InsaniPersajakan · 1 dekade yang lalu

Bagaimana pendapat kalian ttg puisi ini?

Sesal

aku berdiri termangu

... menyesal

memandang nanar tanggul yang jebol

dan air bah yang selama ini tertampung

telah membanjiri, tenggelamkan segala

... rusak

harusnya kutambal, kuperkuat temboknya

sebelum air nya mendesak

; menekan

; melesak

; merusak

... dindingdinding penahannya

lagilagi salahku... !

250409

>> bisa dimaknai puisi ini?

14 Jawaban

Peringkat
  • 1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Karya ini bisa dilihat dari dua sudut pandang sebenarnya :

    - Bisa berhubungan dengan tragedi Situ Gintung kemarin

    - Bisa dalam arti luas menyatakan bahwa disini sebuah penggambaran, bagaimana jika semua perbuatan dilakukan tanpa landasan dan pemikiran yang sehat, malah melahirkan kesia-siaan yang akhirnya memakan diri sendiri (baca : nafsu)

    Salam sayang Alexia...MMMUAAAAAAAAAAAAACH

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    hm..

    karya yang bermakna dalam, terlihat kalau elo memang meramu puisi ini dengan baik, termasuk penempatan tanda baca yang tepat.

    puisi yang indah dan keren, karena memiliki dua makna, inilah puisi sebenarnya.

    itu ja'

    makasih

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Erwan
    Lv 5
    1 dekade yang lalu

    Atas nama kesihatan?

    Sekali sungai banjir

    sekali pantai berubah

    panas setahun

    dihapuskan hujan sehari

    susu putih sebelanga

    rusak oleh setitik nila biru

    Usah sesalkan diri

    darjat manusia sering tercabar

    keindahan diri bukan selama

    nafsu kita lebih berkuasa

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Malam itu,

    Kulihat bulan bersabut awan

    Tanya hatiku, “mengapa kau enggan menyapa malam?”

    “Karena aku sedang berduka”, jawabnya

    Pagi itu,

    Kulihat mentari tertutup mega

    Tanya hatiku, “mengapa kau enggan menyapa pagi?”

    “Karena aku sedang berduka”, jawabnya

    Siang itu

    Kulihat kau diam membisu

    Tanya hatiku, “mengapa kau enggan menyapaku?”

    “Karena aku sedang berduka”, jawabmu

    Aah…aku pun turut berduka

    Kulihat hatiku berbalut pilu

    Lalu bisikNya dalam mimpiku, “mengapa kau berduka?”

    “Karena aku berlumur dosa”, jawabku

    Astaghfirullah

    Sungguh aku sumber petaka

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    kak Alexia ...

    salut bgt huhuhu,,

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    Menyesali terjadinya tragedi situ gintung yah...

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • Nuansa
    Lv 5
    1 dekade yang lalu

    mengapa disesali

    pilihan diri ... sendiri

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • ZAPPRA
    Lv 6
    1 dekade yang lalu

    Ketika kesal menyesak dada

    dinding hati terkikis dengki

    tersalur air melalui dua mata

    .........

    darah...

    salam

    KUSEK

    sepertinya cucuku kuat sekali kalo karakter seperti ini. sadistic romantik

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    jangan tergesa2 menulis sesuatu non

    kali ne gregetnya kurang terasa

    • Masuk untuk membalas jawaban
  • 1 dekade yang lalu

    kalo menurut aku sih kurang sedih puisinya.. kalo bisa lebih sedih lagii..

    • Masuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.