Mr. Peace ditanyakan dalam Politik & PemerintahanHukum & Kode Etik · 1 dekade yang lalu

Adil dan Pantaskah Bila Istri atau Suami Kedapatan Berselingkuh Masih Berhak Atas Harta Gono Gini?

Saya sudah cerai sah dengan Istri di pengadilan Negeri, alasan perceraian saya ajukan karena dia pergi meninggalkan rumah selama 3 tahun tanpa pamit dan pesan kepada saya sebagai suami yang sah, dia pergi meninggalkan rumah karena ketahuan oleh saya akan perbuatan perselingkuhannya. Dalam gugatan cerai saya kepada dia, saya tidak mengajukan alasan karena perbuatan dia yang berselingkuh ria dengan banyak laki2, tetapi saya hanya mengunakan alasan dia meninggal rumah (sebagai istri) sudah selama 3 tahun lebih, karena saya tidak ingin membuat lebih malu anak2 kami.

Selama dimulai sidang hingga diputuskannya perceraian oleh hakim dia tidak pernah datang menghadiri atau memenuhi panggilan untuk bersidang.

Akhirnya sidang diputuskan oleh Hakim dengan dikabulkannya gugatan cerai saya.

Setengah tahun kemudian, tiba2 mantan istri saya mengajukan gugatan kepada saya soal harta gono gini. dia menguggat 50 % dari nilai jual rumah beserta isinya.

Saya keberatan dengan tuntutannya mengingat perbuatannya yang bejat (selingkuh dengan banyak laki2). Memang saya mengerti dalam hukum di Indonesia tentang pembagian Harta gono gini harus dibagi dibagi 2 ( 50% banding 50 %, tapi itu tidak mutlak).

Jadi oleh karena demikian hukum di Indonesia yang berlaku, saya berusaha mematuhinya, tetapi saya keberatan jika mantan istri mendapat 50%. Saya hanya mau dibagi 2 dengan pembagian : untuk saya 90 % , untuk dia 10 %. Meskipun semua harta yg ada 100 % adalah dari hasil kerja saya sendiri. ( mantan Istri saya itu tdk bekerja ).

Saat ini saya sedang dalam proses sidang gugatan Harta gono gini dan sudah sampai pada kesimpulan , dan dalam waktu dekat ini akan diputuskan oleh pengadilan.

Bila gugatan istri yang diceraikan karena berbuat selingkuh bisa mendapat 50 % dari nilai barang bergerak maupun yg tidak bergerak betapa sungguh sangat menyenangkan bagi pihak yang berselingkuh setelah itu dia mendapat 50% harta dari hasil jerih payah suami.

Dan saya yakin akan banyak perselingkuhan yang terjadi dalam rumah tangga di Indonesia, karena bisa mendapat 50% harta yang ada meskipun kedapatan berselingkuh. Bagaimana Menurut anda , pantaskah Istri yang ketahuan berselingkuh ria dengan banyak laki2 mendapat hak atas harta gono gini sebesar 50 % ???? Mohon saya diberi masukkan atau jawaban dengan mempergunakan hukum dan memakai hati Nurani juga.

Terima Kasih

5 Jawaban

Peringkat
  • 1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Setahu saya apabila seorang istri berselingkuh, apalalgi tidak membawa anak hasil perkawinan, maka dia tidak mendapat harto gono gini, kecuali kalau si suami punya kebijaksanaan untuk memberi sebagian dari harta tersebut. Tapi secara pasti saya juga tidak paham, coba tanya ke ustad yang tahu masalah hukum perkawinan, serta ke BP4 KUA insya Allah akan ada pencerahan dan agar kita tidak salah bertindak. Amin.

    Sumber: Contoh soal, saya punya kakak sepupu yang kebetulan bercerai akibat istrinya selingkuh dengan laki2 lain, dan ketika itu si istri tidak membawa harta apapun, hanya pakaian2 dan perhiasan yang sudah menjadi miliknya. Anak2 nya ikut ayah tapi setelah dewasa ikut dengan ibunya karena ayahnya menikah lagi sedang ibunya tidak.
  • 4 tahun yang lalu

    Assalamualaikum wr.wb. Dalam konsep hukum Islam perselingkungan atau zina adalah merupakan perbuatan buruk, hina, tercela dan paling dibencihi oleh Allah SWT, maka untuk itu hukuman bagi istri2/perempuan yang melakukan zina dari Allah SWT adalah dirajam sampai menemui ajalnya. Hal ini menunjukan bahwa betapa berat hukuman dari Allah swt bagi istri2/perempuan yang melakukan zina atau selingkuh dengan laki-laki yang bukan suaminya. Hal ini dalam konsep moralitas hukum menegaskan bahwa jangankan harta bersama nyawapun dapat hilang apabila seseorang istri/prempuan melakukan perzinahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Akan tetapi dalam hukum positif dan atau kompilasi hukum Islam belum ada satupun pasal yang mengatur tentang terhalangnya seseorang baik suami dan maupun istri mendapatkan haeta bersama atau gonogini. Pandangan saya bahwa hukum itu bukan hanya norma - niorma yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan akan tetapi hukum itu memiliki karaktertistik holistik yang dapat mengkaji substansi hukum itu secara universal sehingga menciptakan hukum yang adil dan bermanfaat.

    memang tidak ada satupun ketentuan2 hukum di Indonesia yang mengatur terhalangnya seorang istri atau suami mendapatkan harta bersama, akan tetapi kalau di kaji secara filsafat tentang konsep hukum yang adil, maka seorang perempuan atau istri dan atau seorang suami atau laki2 yang melakukan zina dan terbukti secara hukum telah terjadi perzinahan maka tidak pantas atau tidak layak atau tidak berhak dan sah mendapatkan pembagian harta bersama apabila terjadi cerai hidup. saran saya agar UU No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam segera melakukan perubahan yang rensponsif dan mengatur tentang terhalangnya seseorang istri atau suami mendapatkan harta bersama karena zina. dan hal ini penting mengingat moralitas manusia saat ini yang semakin bejat dan apalagi dipengaruhi oleh mindset globalisasi. Demikian pendapat dari saya seoga bermanfaat. wassalamualaikum. ALI YUSRAN GEA/082163123366.

  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    kalo kamu ga ada perjanjian pra-nikah dgn istri, sah aja, kalo soal persentasinya, bisa dirundingkan atau baca aja uu perkawinan yg banyak dijual di toko buku

  • 1 dekade yang lalu

    dari peristiwa tersebut mengingatkan saya pada kasus seorang artis

    dan juga presenter paling berani (helmy yahya) patut kita jadikan teladan....kanapa?

    karena sebelum dia menangkap istrinya (ketahuan slngkh) dan mengajukan gugatan cerai....jauh2 hari HY membuat sebuah perjanjian tertulis dgn istrinya siapa yang ketahuan selingkuh tidak akan mendapatkan harta gono gini.

    ini pelajaran bagi kita,,,,

    ambil aja hikmahnya,,,,,

    sebelumnya minta maaf kepada Helmy yahya karena menjadika anda sebagai referensi untuk menjawab pertanyaan ini.

    Sumber: terima kasih
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    saya rasa perilaku istri anda, anggap saja resiko anda dari memilih keputusan untuk menikahi dia. Anggap saja bila anda adalah anak kecil yang sedang ingin bermain di zona permainan, anda pergi bermain di zona permainan itu tapi anda harus membayar untuk tiket ... Di loket tiket anda membayar harga tiket masuk zona permainan, tanpa anda tahu bagaimana kondisi mesin permainan didalamnya, fasilitas umum di dalamnya dan jam berapa zona itu tutup. Tapi, karena anda ingin sekali bermain anda memutuskan untuk masuk dan bermain didalamnya meski anda belum tau hal-hal tsb. Pernikahan adalah zona permainan itu. Dan saya rasa kesalahan istri adalah kesalahan suami karena suamilah yang berkewajiban mendidik istrinya.

    Mengenai hukum, meskipun istri anda berperilaku kurang baik dalam perkawinan, tapi harta bersama memang harus dibagi pro rata antara suami-istri.

Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.