Cerita Pendek: Simphoni (Episode 2)_Ditunggu masukannya ya, teman-teman?

Teman-teman, cerpen ini adalah kelanjutan dari cerpen SIMPHONI yang aku posting sekitar sebulan yang lalu:

http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=Ak...

_____________________________________________________

SIMPHONI (2)

Hujan semakin deras mengguyur kota, suara guntur pun beradu memekakan telinga. Embun-embun membuat jendela di kamarmu buram. Sehingga kamu tak mampu lagi melihat bintang-kemintang yang dari tadi memperhatikanmu. Kamu semakin menggigil kedinginan dan mendekap selimutmu lebih erat.

“Hujan di musim panas,” Malaikat di sampingmu bergumam.

“Apa hal ini ada hubungannya dengan keadaanku saat ini?” Tanyamu.

Malaikat itu sejenak tertawa.

”Semua hal yang ada di hatimu, pasti berhubungan dengan kehidupanmu.” Jawabnya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan arti kehidupan?” Hatimu bertanya. Kamu berharap dapat menemukan apa yang menjadi keinginanmu. Menemukan mimpi-mimpi yang bahkan kamu sendiri tak tahu apa namanya.

“Istirahatlah… Malam sudah semakin larut,” Kata malaikat itu.

Tapi kamu menggeleng.

“Maukah kau… menyanyikan satu lagu untukku?” Tanyamu.

Malaikat itu diam dan menggenggam tanganmu. Kemudian menyanyikan lagu untukmu.

Awalnya kamu tak mengerti. Namun kamu tetap mendengarnya. Sampai lagu itu menyentuh emosimu. Menggugah denyut nadimu. Dan menggetarkan seluruh ragamu.

Kamu tertegun. Air matamu tumpah mendengar alunan simphoni yang dinyanyikan malaikat itu untukmu.

Apakah ini jawabannya? Jawaban yang kamu cari sejak lama? Jawaban atas pertanyaan yang selalu kamu katakan pada teman melaikatmu? Entahlah.

Malaikat itu berhenti bernyanyi. Terdiam dan memelukmu syahdu. Kemudian berkata:

“Bukankah hanya diperlukan tujuh buah tangga nada untuk membuat dan menciptakan beribu melodi yang indah? Pun hanya diperlukan tiga buah warna untuk melukis dunia ini? Dan bukankah hanya sembilan angka dan dua puluh enam huruf untuk menyusun karya-karya termegah di semesta ini? Tak perlu kamu mencari arti kehidupan ini. Karena kehidupan itu bagai kertas putih. Dan tugasmu hanyalah mengisi kekosongan itu dengan berjuta warna, kata dan nada yang mampu membuat hidupmu berarti.”

Dan kamu tertegun. Semua jawaban yang kamu cari di dunia ini terjawab.

...

Matamu semakin lelah…

Ragamu seakan tak mampu lagi terbangun.

Hingga akhirnya kamu benar-benar tak sanggup lagi terjaga. Untuk terakhir kalinya, kamu memandang teman malaikatmu. Seraya tersenyum, kau berkata.

“Terima kasih."

“Selamat tidur, Malaikat."

Dan kamupun terlelap. Melihat mimpi terakhirmu.

(Selesai)

@ Rf. Yanuar Si Rumput Liar (ID Florescence): Juni 2009.

___________________________________________________

Mohon masukannya untuk cerpen sederhana ini ya teman-teman :D ?

Tuhan memberkati selalu :).

Perbarui:

@ Don Jago:

Hiks. Ada juga yang mampir (=`__'=)a. Terima kasih ya? Aku belajar dari kritikan-kritikan kemarin, sehingga kucoba lagi :). Meski pasti tak tersaji sempurna, senang rasanya ada yang menikmati :).

Ya, secara garis besar seperti yang kau katakan, Sahabat :).

Perbarui 2:

@ Agheelz:

Waaaaaah! Masukan yang sip banget! Aku dari dulu kebingungan dengan penulisan percakapan dengan tanda kutip. Karena kerap kali baca cerita, seakan berbeda penulisannya antara cerita satu dengan yang lain. Makasih banget ya? Kalau untuk tangga nada... He he he... Kepeleset :(. Mungkin karena postingnya lagi nguantuk, jadi alpa di benahi dulu (langsung copas dari Ms. Word). Tapi makasih banget ya, Agheelz. Wuih!

@ Micka:

Hiks... Kali ini aku dibuat bisu olehmu, Micka. Kupasanmu yang sangat lengkap membuatku terpana :). Makasih ya?

Aku selalu menganggap bahwa hiduplah yang memberi arti padaku :).

Puisinya kupinjam untuk kuselip dalam cerita ini ya? He he he...

PS:

Baru sadar kalau yang baku itu 'SIMFONI' bukan 'SIMPHONI'. He he he.

Perbarui 3:

@ Sophie:

Uwa wa uwawawawawawawa! Hiks! Pujianmu membuatku tersanjung (sungguh!). Tak akan kusanggah ah, biar pujian itu menjadi cambuk buatku (jadi menggebu ingin berkarya lagi nih :D).

Terima kasih ya, Sophie. Benar-benar pembahasan yang mencerahkan :D.

Aku memang sedikit kesulitan menampilkan emosi pada sang tokoh. Mungkin itu salah satu kelemahanku :(. Pernah dipaksakan tapi malah terkesan berlebihan. Tapi akan kucoba lagi :). Sip!

Masalah warna, huks, aku memang ndak gitu ngerti (TT___TT)a.

Hmmm... Taman ya. Tak perlu minta maaf kok Sahabat :D. Memang kemarin sempat ada sedikit sengketa di Taman. Tapi sekarang sudah ada klarifikasi & keadaan sudah mesra lagi :). Berkunjunglah kapan pun kau mau, Sahabat :).

Terima kasih banyak ya untuk semua masukan-masukannya? Sip! Benar-benar mencerahkan.

5 Jawaban

Peringkat
  • 1 dekade yang lalu
    Jawaban Terbaik

    Wuaah....like it so much!

    Kau memang ahli....di balik kata-kata yang sederhana ada pertanyaan abadi filsafat manusia: apa itu kehidupan, bagaimana seseorang seharusnya memberi arti kehidupannya?

    Lewat cerita pendek ini Yanuar sepertinya ingin menyampaikan hasil kontemplasi pribadinya atas pertanyaan itu:

    bahwa yang terpenting bukanlah apa dan arti kehidupan manusia ini, melainkan bagaimana menjalani karunia kehidupan ini dengan sebaik-baiknya - bagaimana pun caranya.

    Nantinya, setiap cara yang "baik" untuk mengisi kehidupan ini akan berkolaborasi dengan caranya sendiri menjadi sebuah simfoni.... diumpamakan dengan tujuh nada (bukan tujuh tangga nada yang menyiratkan 7 oktaf nada lho....) yang disusun menjadi komposisi apa pun.... atau tiga warna cahaya yang dileburkan jadi seluruh warna yang ada (kalau tinta, entah 3 warna yang mana, RGB atau CMY-K, hehehe..... ), atau 26 huruf menjadi mahakarya dunia.

    Ya...kalau mau diperluas memang selalu bisa saja.... nada-nada kan bisa dinaik-turunkan setengah...jumlahnya bukan 7 lagi.... warna-warna tidak cukup cuma tiga... aksara bukan cuma huruf latin dst dst.... Tapi saya rasa apa yang kaumaksudkan dalam tulisan itu sudah sangat bisa dipahami.

    Dan kesimpulannya......ketika seseorang sudah menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, ia tidak akan enggan atau takut untuk mengakhirinya dan menyongsong Sang Pemberi Hidup.

    ===========

    Karya yang sangat menyentuh

    kutulis ulang dengan cara yang lain, semoga kau suka:

    Simfoni

    (¯`v´¯)

    .`· ♥.¸.·´

    ¸.·´¸.·´¨) ¸.·*¨)

    (¸.·♥´ (¸.·´♥

    Ketika pada rembang malam

    kau terjaga, enggan memejam mata

    merenungi deburan purba samudera

    : kankah percikmu ke sana pula, bermuara

    Kau tersenyum mewujud gerimis yang manis

    tik tak tanpa nada, simfoni merdu penghujan

    serupa sejuta sayap malaikat turun memecah awan

    membelai angan, mengusap tangis

    Dengar,

    bukankah hanya tujuh nada tuk menjadi ribuan melodi,

    tiga warna saja untuk mewarnai seluruh dunia,

    sebaris aksara untuk karya-karya kekal semesta?

    Kau adalah nada, adalah warna, adalah aksara

    lebur di putihnya kertas menjadi simfoni nuansa

    ; manusia

    ..……

    Istirahatlah, katanya,

    Dan kau pun meretas senyum

    Menggenggam jawab, pada akhirnya

    …….

    160609

    by Floresense’s Simphony

    ====

    Tambahan tentang warna:

    Warna utama cahaya memang ada tiga: Red, Green, dan Blue

    Warna cahaya dan warna-warna tinta memang tidak semua sama.. misalnya RGB cahaya yang ditumpukkan akan menjadi putih….atau gasing warna yang diputar akan menampakkan warna putih.

    Beda dengan pada tinta dimana pencampuran RGB paling-paling menghasilkan coklat atau hitam.

    Adapun CMYK yang menjadi warna baku untuk printer sekarang, dianggap penjabaran dari RGB (karena warna hijau kan bisa diturunkan menjadi Yellow + Blue/Cyan)

    Warna-warna primer (yang tidak diturunkan dari warna lain) memang termasuk di situ yaitu merah (magenta), kuning (yellow) dan biru (cyan).

    Tapi tetap saja, meskipun pertimbangan CMYK ini yang dimasukkan, warna pokoknya hanya ada 3 karena HITAM dan PUTIH dalam teorinya bukan termasuk warna melainkan NADA (ukuran gelap/terang)

    Jadi ya…menurutku hitungan 3 warna Yanuar sudah pas J

    Bukan mendebat tinjauan filosofis Sophie, sekedar berbagi teori dan opini saja. Semoga berkenan..

  • 1 dekade yang lalu

    Sekedar merapikan tulisanmu sobat,

    memekakan ==> memekakkan

    Embun-embun ==> cukup satu kali embun karena embun itu mewakili banyak misalnya hujan tidak hujan-hujan

    Malaikat di sampingmu bergumam ==> malaikat

    ...di musim panas,” Malaikat di ==> malaikat karena dibelakang koma

    ...dengan keadaanku saat ini?” Tanyamu ==> tanyamu (merupakan satu kesatuan dalam kalimat)

    ...semakin larut,” Kata malaikat itu ==> kata malaikat itu

    Kemudian berkata: ==> sebaiknya , (koma)

    ...hanya diperlukan tujuh buah tangga nada ==> sebaiknya beberapa tangga nada (bukankah ada mayor, minor, tangga nada pentatonik dan seterusnya?)

    Nah, lanjutkan sobat. Semoga bukan aku yang dimaksud malaikat...

    hehehehe.....

  • Anonim
    1 dekade yang lalu

    lebih baik dari yang pertama kalo menurut saya.. tapi kalo menurut anda pasti dua-duanya sama baiknya, hohohooho......

    kalo yang saya tangkap (ayam kali ditangkap), tentang seseorang yang ingin mati setelah segala keraguan dan pertanyaan tentang dunianya dapat terjawab sehingga mati dapat dengan damai..

    tidak banyak orang yang dapat mati seperti itu... sungguh kematian yang indah... karena kematian adalah suatu fase penghubung menuju keabadian...

  • 1 dekade yang lalu

    syukurlah akhirnya saya bisa kembali menikmati karya anda, plus mencurahkan sederet kata sederhana dari apa yang bisa saya cerna dari cerpen anda. untuk kali ini saya coba lebih seksama membaca agar mengurangi kesalahan fahaman, seperti komentar saya pada episode pertama.

    meskipun terasa lebih singkat saya bisa katakan bahwa isinya sangat padat. salut untuk penempatan plot-plot dialog yang tidak terlalu betele-tele meskipun terasa datar-datar saja. karena kurang gregetnya ekspresi perilaku dalam dialog yang dapat membawa penjiwaan pembaca kedalam karakter, baik itu malaikat maupun orang yang dituju.

    memang tidak mudah untuk memposisikan orang kedua sebagai aktor utama dalam sebuah cerita, begitu juga bagi pembaca untuk menikmatinya. tapi sebatas ini anda cukup bisa meramunya dengan baik.. ok keren

    saya suka dialog terakhir malaikat, penuh makna filosofis.. tapi kenapa hanya tiga warna? kenapa tidak empat? maksud aku CMYK gitu... hehehe.. para filsuf alam klasik juga pernah berpendapat bahwa segala sesuatu di alam ini hanyala terbentuk dari empat unsur: api, air, udara, bumi.. sebagaimana warna dalam CMYK.. sori kalo nglantur..

    Yuniar.. luar biasa, dengan segala yang anda miliki saat ini, anda berpotensi menjadi penulis besar, anda punya segalanya untuk menjadi itu. sungguh saya berharap untuk bisa menikmati karya2 anda.

    Oh ya, akhir2 saya ini tidak lagi berkomentar di persajakan, ada beberapa masalah yang lagi saya pertimbangkan, hmm.. meski kerinduan ini semakin merongrong otak untuk bisa kembali berbagi keharuman di taman atau sekedar menyapa bunga2. sungguh saya ucapkan maaf untuk itu.

    salam manisku

    sophie verden

  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • ?
    Lv 4
    3 tahun yang lalu

    hmmm...bagus, menurutku. Setidaknya ada satu pertanyaan yang dimana aku bisa menumpangkan makna tambahan; “Apakah Tuhan begitu jahat? Menciptakan penyakit yang tak mampu disembuhkan?” Sesungguhnya semua penyakit ada obatnya, hanya satu yang tak mungkin dapat terobati, penyakitku......tua. salam ZAPPRA

Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.