Bolehkah kuposting pandangan baik sastrawan Agus R sarjono, tentang membuat puisi yang baik?

Saya memposting ini di taman bukan ada motif biar diangap pinter atau danggap senior. Tapi tidak lebih kepedulian saya terhadap tumbuh kembangnya taman persajakan yang telah mengajari saya untuk bagaimana membuat sajak/puisi. Semoga postingan ini kian merangsang sahabat taman untuk kian mencintai karya sastra... tampikan lainnya Saya memposting ini di taman bukan ada motif biar diangap pinter atau danggap senior. Tapi tidak lebih kepedulian saya terhadap tumbuh kembangnya taman persajakan yang telah mengajari saya untuk bagaimana membuat sajak/puisi. Semoga postingan ini kian merangsang sahabat taman untuk kian mencintai karya sastra puisi/sajak/sair. Syukur-syukur kalau nantinya terlahir penyair mumpuni dari negeri awan ini. Insya'allah. Amin 3x.

Saya tergeliti dengan pertanyaan Rizqi Aprilia “gimana ya caranya bikin puisi yang menarik?”

Kurang lebih pertayaan di atas senada dengan tanya ini : apa dan bagaimana mencipta puisi agar selain bisa memenuhi kebutuhan rasa imaji pencipta, juga bisa memenuhi kebutuhan imaji rasa penikmat baca?

Kalau saya pribadi yang dihadapkan pada tanya seperti itu, maka akan saya jawab :" mengenal seluk meluk perangkat bahasa yang menjadi denyut puisi/sajak yang notabene mempunyai tekstur kepadatan susun kata/kalimat yang berbeda dengan bila kita menulis prosa, dan atau minimal pengkarya cipta tidak mengenyampingkan aspek-aspek pendekatan konotasi,denotasi, sintaksis dan gramatikal, serta minimal mengetahui sifat-sifat dari kata terpilih (diksi). Dan yang tidak kalah penting, dengan banyak membaca karya pesastra puisi lainnya sebagai bahan serap kearah penciptaan karya yang lebih bertenaga.

Tidak jauh beda dengan pencipta karya puisi, begitu halnya dengan penghayat, agar lebih bisa menikmati suatu karya dalam usahanya memaknai, juga bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang saya paparkan di atas. Tapi kalau sekiranya merasa awam ( kurang akrab) dengan dunia puisi/sajak, pertama kali yang harus dilakukan penikmat baca adalah melepaskan diri dari bayang-bayang keinginan penyair akan pesan makna yang melekat pada batang tubuh puisi/sajak. Kasarnya, jangan paksa diri untuk berfikir dalam memaknai puisi harus sama persis seperti apa yang diinginkan penyair. Tapi biarkan sinyal-sinyal simbolik poetika menerjemahkan dirinya sendiri sesuai dengan daya kemampuan masingmasing penghayat menangkap sinyal tadi. Bilamana penghayat dan atau penikmat baca masih juga mengalami kesulitan untuk memungut makna, pembaca bisa memakai pendekatan parafrasa ( penguraian kembali suatu teks (karangan) dll bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi).

Dalam salah satu esainya "Musuh-musuh Puisi atawa Cara Menulis Puisi Jelek", Agus R Sarjono menyebutkan : Menulis puisi melibatkan banyak hal yang terkadang cukup kompleks: pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan. Apa yang dikemukakan Lorca dalam kutipan di atas banyak benarnya, karena seorang penyair pada dasarnya selalu seorang anarkis karena ia hanya akan mendengar kuasa suara yang tumbuh dan lahir dalam dalam keberadaannya sendiri: suara Kematian, suara Cinta, dan suara Kesenian.
Semua dasar kepenyairan bermuara pada ketrampilan teknis di satu sisi dan wawasan sang penyair di sisi lain. Contoh terbaik untuk ini adalah yang dialami seorang pemusik. Seorang pemusik yang setiap hari melatih keterampilannya bermain musik (piano atau gitar, misalnya) akan memiliki keterampilan teknis yang luar biasa. Namun, jika seumur hidupnya dia hanya mendengar lagu ”Maju Tak Gentar” belaka, maka seluruh keterampilan dan kecanggihannya bermain musik tak akan pergi jauh dari wilayah nada satu-satunya lagu yang dia kenal. Dalam pada itu, seorang pemusik yang menyimak bermacam jenis musik dari ribuan album akan memiliki kekayaan khasanah nada, harmoni, dan sebagainya yang luas. Namun, bila dia tidak pernah berlatih dengan tekun makan seluruh kekayaan wawasan musikalnya tidak akan dapat dipresentasikan dengan baik.
Hal yang sama terjadi pada seorang penyair. Penyair yang baik memiliki ciri yang tetap, yakni jatuh cinta pada puisi. Tanpa jatuh cinta pada puisi maka menjadi penyair adalah mustahil."
Update: lebih lanjut Agus R Sarjono mengatakan : " Ada lima musuh utama untuk membuat puisi baik : 1. Musuh Pertama : Keumuman Musuh pertama bagi puisi adalah keumuman alias serba umum. Dalam puisi keumuman harus dihindari. seorang penyair yang baik akan menjauh dari unsur umum dan pandangan yang serba umum baik... tampikan lainnya lebih lanjut Agus R Sarjono mengatakan : " Ada lima musuh utama untuk membuat puisi baik :

1. Musuh Pertama : Keumuman
Musuh pertama bagi puisi adalah keumuman alias serba umum. Dalam puisi keumuman harus dihindari. seorang penyair yang baik akan menjauh dari unsur umum dan pandangan yang serba umum baik pandangan yang umum mengenai sosial, politik, moral, agama, atau apapun.
Dalam menulis sajak tentang ibu, misalnya, akan bermunculan segera sajak-sajak semacam ini:

Oh ibu, alangkah mulia hatimu
Kau lahirkan dan besarkan aku
Membelai dan memberiku susu
Menuntun anakmu jalani kehidupan
Hingga tercapai cita-citaku.

Atau ubahlah temanya menjadi pengemis, maka sajak yang akan muncul adalah:
Update 2: Wahai pengemis, betapa malang nasibmu Meminta sesuap nasi setiap hari tidur beratapkan langit beralaskan bumi tiada yang peduli. Dengan sajak semacam ini tak ada seorang ibu, guru, maupun pengemis yang akan terkesan dan tersentuh hatinya. Mengapa? karena sajak-sajak semacam ini berbicara mengenai ibu, guru,... tampikan lainnya Wahai pengemis, betapa malang nasibmu
Meminta sesuap nasi setiap hari
tidur beratapkan langit beralaskan bumi
tiada yang peduli.

Dengan sajak semacam ini tak ada seorang ibu, guru, maupun pengemis yang akan terkesan dan tersentuh hatinya. Mengapa? karena sajak-sajak semacam ini berbicara mengenai ibu, guru, dan pengemis yang umum. Maka ibu, guru, maupun pengemis di sini menjadi stereotipe.
Bandingkan dengan sajak mengenai pengemis di bawah ini:

Kalau kau mati gadis kecil berkaleng kecil
kotaku hilang tanpa jiwa
dan bulan di atas sana tiada yang punya
Update 3: 2. Musuh Kedua: Simplifikasi Musuh kedua adalah simplifikasi alias penyerhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan gebyah uyah. Pada pengalaman sehari-hari saja jika kita renungi akan kita temukan banyak hal menarik dan kadang pelik, apalagi dalam masalah-masalah yang lebih besar dan kompleks. misalnya,... tampikan lainnya 2. Musuh Kedua: Simplifikasi
Musuh kedua adalah simplifikasi alias penyerhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan gebyah uyah. Pada pengalaman sehari-hari saja jika kita renungi akan kita temukan banyak hal menarik dan kadang pelik, apalagi dalam masalah-masalah yang lebih besar dan kompleks. misalnya, memandang Barat pastilah semuanya tertib dan cerdas atau sebaliknya barat pastilah semuanya bebas, ngawur, dan membenci agama. Kata barat itu sendiri sudah simplifikasi, karena ada beragam negara dengan beragam budaya dan setiap negara punya penduduk berjuta-juta yang masing-masing manusianya punya pengalaman dan kekhasan sendiri-sendiri.
Update 4: 3.Musuh Ketiga: Propaganda dan reklame Propaganda dan reklame adalah musuh ketiga puisi. Jika ingin membuat puisi jadi sesuatu yang ngeri, maka tak ada yang lebih tepat selain menulis puisi dalam semangat propaganda atawa reklame. Propaganda dan reklame seringkali lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ia... tampikan lainnya 3.Musuh Ketiga: Propaganda dan reklame
Propaganda dan reklame adalah musuh ketiga puisi. Jika ingin membuat puisi jadi sesuatu yang ngeri, maka tak ada yang lebih tepat selain menulis puisi dalam semangat propaganda atawa reklame. Propaganda dan reklame seringkali lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ia masih berkaitan dengan pemahaman yang serba umum. Kata abstrak dikepalkan ke pembaca untuk menanamkan indoktrinasi.

Ayo pemuda ayo pemudi
Rapatkan barisan membangun negeri
Jangan biarkan jangan diberi
Neokolonialisme mengancam negeri
Dadamu dadaku bagi pertiwi
Update 5: 4. Musuh Keempat: Klise atawa janda dan duda kata Wajahmu cantik bagaikan lukisan Aku mencintaimu aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku engkaulah belahan jiwa satu-satunya hingga akhir hayatku. Hampir semua pilihan kata dan ungkapan di atas sudah digunakan berkali-kali untuk macam-macam kesempatan. Maka... tampikan lainnya 4. Musuh Keempat: Klise atawa janda dan duda kata

Wajahmu cantik bagaikan lukisan
Aku mencintaimu aku menyayangimu
dengan sepenuh hatiku
engkaulah belahan jiwa satu-satunya
hingga akhir hayatku.

Hampir semua pilihan kata dan ungkapan di atas sudah digunakan berkali-kali untuk macam-macam kesempatan. Maka semua ungkapan dan kata di sana sudah menjadi janda dan duda berkali-kali. Sejauh menyangkut hal ini, penyair seyogyanya mencari dan menemukan kata yang masih perawan. Seorang penyair berkewajiban sebagai yang pertama meminang kata atau ungkapan selagi ia masih perawan untuk dijadikan pengantin bagi pengalaman puitiknya. Jikapun ia harus juga berurusan dan menikahi janda kata, sang penyair harus memberinya pelaminan baru dalam konteks pernikahan puitik yang baru.
Untuk urusan yang sama, Pablo Neruda menulis petikan ini:

Sejak aku mengenalmu
Kau tak mirip siapapun
Update 6: 5. Musuh Kelima: Nasehat, Diri Nan Mulia, atawa Takabur Memberi nasehat selalu beresiko tinggi bagi penyair. Di satu sisi ia dapat dianggap memberikan nilai-nilai moral dan budi pekerti, namun sebenarnya hal ini paradoksal karena sebuah nasehat tidak bisa tidak akan lahir dari andaian bahwa sang pemberi nasehat... tampikan lainnya 5. Musuh Kelima: Nasehat, Diri Nan Mulia, atawa Takabur

Memberi nasehat selalu beresiko tinggi bagi penyair. Di satu sisi ia dapat dianggap memberikan nilai-nilai moral dan budi pekerti, namun sebenarnya hal ini paradoksal karena sebuah nasehat tidak bisa tidak akan lahir dari andaian bahwa sang pemberi nasehat adalah sosok yang lebih mulia. Anggapan diri sebagai sosok mulia disadari atau tidak adalah sebuah tindakan yang takabur. Di sisi lain puisi semacam ini mengandaikan pembacanya sebagai sosok pendosa yang harus segera bertobat. Pada kenyataannya, sajak-sajak berpetuah jarang berhasil membawa pembaca pada pertobatan dan lebih sering membuat pembaca bosan dan enggan.
Update 7: Sampai sekarang, dalam khasanah puisi Indonesia, belum ada sajak ketuhanan yang lebih indah dan mencekam dibanding sajak ”Padamu Jua” Amir Hamzah dan ”Doa” Chairil Anwar. Kebetulan keduanya mewakili pengalaman ketuhanan yang berbeda, yang satu pengalaman seorang mistikus yang saleh seperti Amir Hamzah dan satu lagi... tampikan lainnya Sampai sekarang, dalam khasanah puisi Indonesia, belum ada sajak ketuhanan yang lebih indah dan mencekam dibanding sajak ”Padamu Jua” Amir Hamzah dan ”Doa” Chairil Anwar. Kebetulan keduanya mewakili pengalaman ketuhanan yang berbeda, yang satu pengalaman seorang mistikus yang saleh seperti Amir Hamzah dan satu lagi pengalaman seorang pendosa seperti Chairil Anwar. Kedua puisi tersebut sama sekali jauh dari pretensi memberi wejangan dan nasehat kepada siapapun. Namun, justru karena itu pembaca dicekam oleh penghayatan moral dan pengalaman ketuhahan yang sublim dan memperkaya batin.

Di tamanku, tak ada yang lebih indah
dari duri di musim bunga,
Tuhan, Hafiz rindu padamu.

Demikian petikan sajak indah Hafiz, seorang sufi besar yang mengandaikan dirinya dan khasanah taman batin dan keimanannya tak lebih dari ranting kering dan duri. "
Update 8: Jadi untuk menciptakan sebuah puisi yang baik, tidak serta merta jadi atau semudah kita membalikkan telapak tangan, namun kita harus terus bergerak mengikuti proses yang terus menerus untuk maenjadikan kemampuan kita bersastra puisi/sajak/syair menjadi peka dalam segala hal. Dan apa yang menjadi opini salah satu... tampikan lainnya Jadi untuk menciptakan sebuah puisi yang baik, tidak serta merta jadi atau semudah kita membalikkan telapak tangan, namun kita harus terus bergerak mengikuti proses yang terus menerus untuk maenjadikan kemampuan kita bersastra puisi/sajak/syair menjadi peka dalam segala hal. Dan apa yang menjadi opini salah satu tokoh muda sastrawan tanah air saat ini Agus R Sarjono, patut untuk kita jadikan salah satu referensi yang baik.


salam lifespirit!
9 jawaban 9