Anonim
Anonim ditanyakan dalam Keluarga & HubunganPernikahan & Perceraian · 9 tahun yang lalu

bagaimana cara menghadapi mantan suami yang ingin menguasai anak setelah tahu saya punya pacar?

bagaimana cara menghadapi mantan suami yang ingin menguasai anak setelah tahu saya punya pacar?mantan suami ingin rujuk tapi saya tidak mau karena beberapa hal.sekarang anak saya dibawa mantan suami tapi tidak memberitahu dimana,yang saya inginkan sekarang adalah anak saya kembali ke pangkuan saya

9 Jawaban

Peringkat
  • 9 tahun yang lalu
    Jawaban Favorit

    Karena anda sebut mantan suami tentunya anda sudah bercerai secara hukum ? Yang perlu diketahui status pengasuhan anak ketika diputus di PA itu di putuskan untuk diasuh siapa : Ibunya atau bapaknya ? Kalau status anak dalam asuhan ibu menurut keputusan pengadilan PA anda punya hak untuk melaporkannya ke pihak berwajib. Laporkan sesuai info dan data yang anda punya.

    Atau kalau anda sabar tunggu sampai dia datang dan tegaskan kalau hak asuh itu ada di anda.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    4 tahun yang lalu

    mungkin mantan suami tidak ingin anaknya dekat pada ayah tirinya, jadi menurutnya yang paling baik ikut dengan ibu anda, sedangkan menurut anda itu tidak mungkin. cobalah dikomunikasikan lagi antara anda, mantan suami dan ibu anda, cari jalan tengahnya supaya tidak terjadi tarik menarik seperti itu bukankah yang merasakan dampaknya justru pada anak? anda juga bisa minta pada mantan suami bersama-sama ikut menjaga anak dengan jadwal yang sudah disepakati, misalnya pada hari apa saja mantan bisa membawa anaknya pergi walau hanya sekedar berjalan-jalan atau membiarkan anak anda menginap beberapa hari di rumah mantan suami, hal itu dimungkinkan supaya sama-sama merasa saling dekat dan tetap saling memiliki, hilangkan ego masing-masing bagaimanapun anak anda tetap anaknya mantan suami juga. tak baik menghitung pemberian mantan suami, sedikit atau banyaknya bersyukurlah mantan anda masih mau bertanggung jawab minimum bisa sedikit mengurangi biaya pengeluaran harian anda. bila kepribadian mantan suami dinilai buruk di mata anda mungkin dengan berpisah dari anda tapi tetap dekat pada anaknya bisa merubahnya jadi laki-laki dan sekaligus ayah yang baik untuk anaknya.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    9 tahun yang lalu

    ini resiko akibat perbuatanmu

    bila sampai ke pengadilan, dan suami memiliki bukti akan kesalahan perselingkuhan kamu, maka hak asuh anak akan jatuh dengan sendirinya ke pihak suami, walau usia anak masih dibawah umur

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    9 tahun yang lalu

    anaknya umur berapa? kalau masih di bawah 13 tahun harusnya dalam pengawasan ibunya...

    memangnya waktu bercerai, anda tidak di beri pencerahan dengan pihak pengadilan bahwa ada hak asuh anak..

    jika sudah terlanjur di bawa suami, pacarnya di berdayakan suruh jadi 'ditektif' ha...ha..

    menghemat waktu dan biaya..

    moga bermanfaat...happy weekend..

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Bagaimana menurut Anda jawaban tersebut? Anda dapat masuk untuk memberikan suara pada jawaban.
  • masge
    Lv 6
    9 tahun yang lalu

    Sependapat dengan rekan user yg lain, saya rasa anda tidak perlu bingung dan panik, biarkan saja utk sementara dia bersama ayahnya. Secara nalar tdk mungkin dia akan mencelakainya, hal itu dilakukan sebagai suatu cara untuk memprovokasi dan menteror anda agar anda mau kembali padanya. Kalau anda sdh memutuskan utk tidak mau bersatu kembali tetaplah jalan terus dengan rencana anda.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 9 tahun yang lalu

    coba hubungi dia mbak... ajak bicara baik2 lagi... semoga anak nya cepat kembali ya mbak...

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 9 tahun yang lalu

    Hak Asuh Anak Menurut Syariat Islam

    Ahmad, Abu Daud, dan Al-Hakim telah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr : Bahwa seorang wanita berkata, “Ya Rasul Allah, sesungguhnya anak saya ini, perut sayalah yang telah mengandungnya, dan tetak sayalah yang telah menjadi minumannya dan haribaankulah yang melindunginya. Tapi bapaknya telah menceraikan aku dan hendak menceraikan anakku pula dari sisiku.” Maka bersabdalah Rasulullah saw. : “Engkaulah yang lebih berhak akan anak itu, selagi belum kawin (dengan orang lain).”

    Demikian halnya saat Umar bin Khattab menceraikan Ummu Ashim dan bermaksud mengambil Ashim bin Umar dari pengasuhan mantan istrinya. Keduanya pun mengadukan masalah ini kepada Abu Bakar r.a. selaku amirul mukminin saat itu.

    Abu Bakar berkata : “Kandungan, pangkuan, dan asuhan Ummu Ashim lebih baik bagi Ashim dari pada dirimu (Umar) hingga Ashim beranjak dewasa dan dapat menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.”

    Ayah dan ibu adalah orang tua anak-anaknya. Walaupun ayah dan ibu telah bercerai, anak tetap berhak mendapat kasih dan sayang dari keduanya. Ayah tetap berkewajiban memberi nafkah kepada anaknya. Anak berhak menjadi ahli waris karena merupakan bagian dari nasab ayah dan ibunya. Anak gadis pun harus dinikahkan oleh ayahnya, bukan oleh ayah tiri.

    Bagaimana nasib ibu yang telah menjanda? Ibu yang menjanda akibat diceraikan suaminya maka ia berhak mendapat nafkah dari suami hingga masa iddahnya berakhir (tiga kali haid) serta upah dalam pengasuhan anak baik dalam masa iddah maupun setelahnya hingga anak mencapai fase tamyiz (berakal) dan melakukan takhyir yang memungkinkan ia untuk memilih ikut ibu atau ayah

    Jika anak belum mencapai fase tamyiz (berakal), maka ibu tetap berkewajiban mengasuh anaknya. Jika ibu tidak mampu mengasuh anaknya (misalnya karena : kafir/murtad, tidak waras, dan sebab syar’i lainnya yang tidak memungkinkan dia mengasuh dan mendidik anak), maka pengasuhan dapat dilakukan oleh ibunya ibu (nenek dari anak) hingga garis keturunan seterusnya. Jika dari semua yang tergolong mulai dari ibunya ibu hingga garis keturunan seterusnya tidak mampu mengasuh maka menjadi kewajiban ayah untuk mengasuh atau mencari pengasuh yang mumpuni untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

    Pengasuh yang dipilih bisa ibunya ayah (nenek anak) hingga garis keturunan seterusnya. Bisa juga perempuan lain yang memang mumpuni dalam mengasuh anak. Adapun syarat pengasuh anak adalah baligh dan berakal, mampu mendidik, terpercaya dan berbudi luhur, Islam, dan tidak bersuami. (Fiqih Anak, 2004. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo).

    Perceraian memang pahit. Akan tetapi perceraian lebih baik dipilih daripada kehidupan rumah tangga menjadi terpuruk sehingga bisa menyebabkan berbagai kemaksiatan. Tugas ayah dan ibu berikutnya adalah menanamkan cinta dan kasih sayang kepada anggota keluarganya agar anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut tidak condong kepada sikap durhaka. Baik kepada ibu, ayah, maupun keduanya. Hal ini karena ayah dan ibu adalah orang tua dari anak.

    Dengan demikian, fenomena yang terjadi seperti berebut hak asih anak, mengadu pada Komisi Perlindungan Anak maupun LSM-LSM Peduli Anak, seharusnya tidak perlu terjadi. Hal itu justru bisa menimbulkan stress pada anak. Apalagi sampai menghindarkan anak dari pertemuan dengan ayah atau ibunya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila anak-anak menjadi depresi dan membenci salah satu maupun kedua orang tuanya. Inilah saatnya untuk memutus lingkaran setan dari kesalahan pemahaman mengenai hak asuh anak (hadhanah) sesuai syariat Islam. Wallahu’alam bish shawab.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • titis
    Lv 7
    9 tahun yang lalu

    semua punya hak untuk mengasuh anaknya, berdoa saja moga anaknya cepat kembali dan mantan suami di sadarkan hatinya...karena tidak mudah mendidik anak untuk jadi anak yang berbakti, tapi kita juga sebagai istri belum tentu sanggup menghadapi sikap dan sifat anak yang pastinya perlu dukungan dari kedua orang tuanya secara utuh...biarkan waktu yang akan menjawab sambil cari informasi siapa tahu bisa di cari jalan keluar yang terbaik

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • Anonim
    9 tahun yang lalu

    Bagi anda yang penasaran dengan hukum cerai ketika marah, simak nasehat berikut:

    http://konsultasisyariah.com/8-prinsip-tentang-cer...

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.