Apakah jika seorang muslim memberontak berarti dia kafir....?

Ikuti
  • Ikuti secara umum
  • Ikuti secara pribadi
  • Berhenti Ikuti
Assalamu'alaikum warahmatulLAHi wabarakaatuh.... Hukuman bagi Pemberontak Orang yang keluar dari jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh penguasa dari kalangan muslimin dan ...tampikan lainnya
Update : soalnya ada yang bilang kafir ...tampikan lainnya
Update 2: yang pingin membaca dengan komplit ada disini: ...tampikan lainnya
Jawaban Terbaik
  • Steve Dijawab 2 tahun yang lalu
Wa 'alaikumsalam

Syaikh Bin Baz menjelaskan kepada Majalah Syarq Ausath seputar manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar, metodologi penyampaian nasihat serta batasan-batasan syar’inya.

Beliau menjelaskan batasan-batasan hubungan antara penguasa dan rakyat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang wajib ditempuh oleh para da’i sekarang ini.

Beliau juga mengajak kaum muslimin mengikuti manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan tidak meniru paham Khawarij dan Mu’tazilah.

Beliau menjelaskan bahwa kaum muslimin wajib mentaati waliyul amri dalam perkara-perkara yang ma’ruf.

Jika penguasa memerintahkan kepada perkara yang mungkar, maka tidak wajib dipatuhi, namun tidak berarti dibolehkan memberontak mereka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ فَإِنَّ مَنْ فَارَقَ الجَمَاعَةَ مَاتَ مِيْتَةَ الجَاهِلِيَّةِ

“Barangsiapa melihat sebuah perkara maksiat pada diri pemimpinnya, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan yang dilakukannya dan janganlah ia membangkang pemimpinnya. Sebab barangsiapa melepaskan diri dari jama’ah lalu mati, maka ia mati secara jahiliyah.”

Tidak boleh memberontak penguasa kecuali dengan dua syarat:
(1) Telah tampak kekafiran yang nyata pada penguasa itu dan memiliki keterangan yang jelas (tentang kekafirannya itu) dari Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah). (2) Memiliki kemampuan untuk menggantikan penguasa tersebut tanpa merugikan rakyat banyak.

Jika tidak memiliki kemampuan, maka tidak boleh memberontak meskipun telah terlihat kekafiran yang nyata. Hal itu demi menjaga kemaslahatan bersama.

Kaidah syar’i yang disepakati bersama adalah: Tidak boleh menghilangkan kejahatan dengan kejahatan yang lebih buruk dari sebelumnya, namun mesti perkara yang benar-benar menghilangkan kejahatan itu atau menguranginya.”

Tidak boleh memberontak penguasa jika akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar, stabilitas keamanan terguncang, kesewenang-wenangan terhadap hak-hak asasi manusia dan pembunuhan orang-orang yang semestinya tidak boleh dibunuh, tentunya.

Wajib bersabar, patuh dan taat dalam perkara yang ma’ruf serta memberi nasihat kepada pemerintah, mendoakan kebaikan bagi mereka dan berusaha sekuat tenaga meminimalkan kejahatan dan menyebarkan sebanyak-banyaknya nilai-nilai kebaikan.

Barangsiapa beranggapan pemikiran semacam ini merupakan kekalahan dan kelemahan, tentu saja merupakan kekeliruan dan kedangkalan pemahaman, berarti mereka tidak memahami sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak mengenalnya sebagaimana mestinya. Dalam usaha menghilangkan kemungkaran mereka hanya dibakar oleh semangat dan emosi dalam menghilangkan sehingga mereka melanggar rambu-rambu syariat sebagaimana halnya Khawarij dan Mu’tazilah.

Siapapun orangnya, baik pemuda ataupun bukan, tidak layak mencontoh Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka harus meniti madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Wajib bagi yang memiliki semangat membela agama Allah dan para da’i untuk mengikat diri dengan ketentuan-ketentuan syariat. Mereka wajib memberi nasihat kepada para penguasa dengan perkataan yang bagus dan dengan cara yang baik.

Tidak dibolehkan membunuh kafir musta’min (orang kafir yang mendapat perlindungan keamanan dari pemerintah Islam) yang diterima oleh pemerintah yang berdaulat secara damai. Dan tidak boleh pula menghukum pelaku maksiat dan berbuat aniaya terhadap mereka, namun diangkat kejahatan mereka tersebut ke mahkamah syariat. Jika tidak ada, maka cukup dengan nasihat saja.

Wajib hukumnya mematuhi dan mentaati peraturan-peraturan pemerintah yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti peraturan lalu lintas dan imigrasi (seperti kewajiban SIM bagi para pengendara dan paspor), barangsiapa menganggap dirinya memiliki hak untuk melanggarnya maka perbuatannya itu batil dan mungkar.

Di antara konsekuensi bai’at adalah menasihati waliyul amri (penguasa), dan di antara bentuk nasihat itu ialah mendoakan bagi mereka taufiq dan hidayah.

Setiap rakyat wajib bekerja sama dengan pemerintah dalam mengadakan perbaikan dan menumpas kejahatan.

Maksud didirikannya pemerintahan ialah merealisasikan mashlahat syar’i dan mencegah mafsadat. Maka setiap tindakan yang diinginkan darinya kebaikan namun dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar adalah dilarang.

Menolak mendoakan kebaikan bagi para penguasa menunjukkan kebodohan pelakunya.

Mendoakan kebaikan bagi penguasa merupakan ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling utama.
  • 2
  • Komentar

Jawaban Lainnya (7)

Berperingkat Tertinggi
  • Berperingkat Tertinggi
  • Terlama
  • Terbaru
  • ­ Dijawab 2 tahun yang lalu
    Kutip:
    ..menukilkan ucapan Al- Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah:
    “Siapa yang keluar memberontak terhadap satu pemimpin dari pemimpin-pemimpin kaum muslimin sementara manusia telah berkumpul dalam kepemimpinannya dan mengakui kekhilafahannya dengan cara bagaimana pun dia memegang jabatan tersebut baik dengan keridhaan atau dengan penguasaan, orang yang memberontak itu berarti telah memecahkan tongkat persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam . Bila pemberontak itu mati dalam keadaan berbuat demikian maka matinya mati jahiliyyah.
    Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memerangi sultan dan tidak pula keluar dari ketaatan padanya. Barangsiapa yang melakukannya berarti dia adalah ahlul bid’ah, dia tidak berada di atas As Sunnah dan tidak di atas jalan yang benar.”
    (Syarhu Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah, 1/181; Fatawa Al-Ulama Al-Akabir Fima Uhdira Min Dima` fi Al- Jazair, hal. 28)
    Al-Imam As-Sindi berkata:
    “Penjagaan dan pertolongan Allah akan menyertai kaum muslimin apabila mereka bersepakat/ bersatu. Maka barangsiapa yang ingin memecah-belah Diantara mereka berarti sungguh ia berkeinginan memalingkan pertolongan Allah dari mereka.”
    (Sunan An- Nasa`i bi Hasyiyah As- Sindi, 7/92)
    ===
    Sebagaimana dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sabda beliau di atas:
    ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﺎﻛُﻢْ، ﻭَﺃَﻣْﺮُﻛُﻢْ ﺟَﻤِﻴْﻊٌ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺟُﻞٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ، ﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺃَﻥْ ﻳَّﺸُﻖَّ ﻋَﺼَﺎﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﻳُﻔَﺮِّﻕَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺘَﻜُﻢْ، ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻩُ
    “Siapa yang mendatangi kalian dalam keadaan kalian telah berkumpul/ bersatu dalam satu kepemimpinan, kemudian dia ingin memecahkan persatuan kalian atau ingin memecah belah jamaah kalian, maka penggallah orang tersebut.”
    Dalam lafadz lain:
    ﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﺘَﻜُﻮْﻥُ ﻫَﻨَﺎﺕٌ ﻭَﻫَﻨَﺎﺕٌ . ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳُﻔَﺮِّﻕَ ﺃَﻣْﺮَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍْﻷُﻣَّﺔِ، ﻭَﻫِﻲَ ﺟَﻤِﻴْﻊٌ، ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮْﻩُ ﺑِﺎﻟﺴَّﻴْﻒِ، ﻛَﺎﺋِﻨًﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ “
    Sungguh akan terjadi fitnah dan perkara-perkara baru. Maka siapa yang ingin memecah-belah perkara umat ini padahal umat ini dalam keadaan telah berkumpul/bersatu dalam satu kepemimpinan maka perangilah/bunuhlah orang tersebut siapa pun dia.”
    Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
    “Dalam hadits ini terdapat perintah untuk memerangi orang yang keluar/memberontak terhadap imam, atau ia ingin memecah-belah kalimat (persatuan) kaum muslimin dan semisalnya dan ia dilarang dari berbuat demikian. Namun bila ia tidak berhenti maka ia diperangi dan jika kejelekan/kejahatannya tidak bisa ditolak/ dicegah kecuali dengan membunuhnya maka ia boleh dibunuh.” (Syarhu Muslim, 13/241)
    .
    Bukankah di kutipan diatas disebutkan dengan jelas bahwa itu dalam konteks:
    memecah belah Umat Islam yang telah bersatu dibawah satu kepemimpinan (khilafah).
    • 2
    • Komentar
  • Dana Nag arpijhe Dijawab 2 tahun yang lalu
    diwajibkan bagi kita berperang dan memberontak kpada kaum yg kafir..
    Bukan dgn kaum yg benar (bkn kafir)..

    Sumber:

    ilmu
    • 2
    • Komentar
  • gus sur ajah Dijawab 2 tahun yang lalu
    Waalaikum salaam warohmatullahi wabarokatuh !

    Yang jelas, tidak boleh memberontak kepada pemimpin yang sah, kecuali dengan syarat2 tertentu.
    Kafir atau tidak ?
    Allahu a'lam.
    • 1
    • Komentar
  • Gendhing Kinanti Dijawab 2 tahun yang lalu
    Membaca judulnya saja sy ketakutan dan berlepas tangan dari pernyataan keras spt itu. Maaf, dg pengetahuan yg tak seberapa, mari kita lihat bersama2 sedikit menelaah apa yg pernah terjadi di negri kita sendiri setelah beberapa tokoh nasional yg namanya sangat terpandang mengangkat senjata melawan pemerintah yg sah dimasa pemerintahan presiden sukarno.
    "Peristiwa" itu terjadi diwilayah Sumatra dimana dari daerah tsb muncul nama2 besar MUSLIM yg TIDAK MUNGKIN disangsikan lagi iman dan taqwanya. Ambilah contoh satu nama besar Daud Beueueh. Siapa yg berani menyangsikan keislaman beliau ?
    TTIDAK MUNGKIN tokoh sebesar beliau diklasifikasikan dalam kelompok yg disebutkan pd judul diatas. Bagaimana pula dg keislaman ribuan orang yg ikut andil mengakhiri rezim orde baru di jakarta ? Apakah mereka juga dikelompokkan spt itu ? Kalau pendapat anda YA, saya berlepas tangan dan tidak sependapat. Dan jangan sampai Indonesia dipimpin orang2 kafir, sekalipun kepemimpinan dan kenegarawanannnya BAIK.
    • 1
    • Komentar
  • JUVEHOLIX Dijawab 2 tahun yang lalu
    Saya Sangat Tertatarik Dengan Sebuah Pernyataan Atau Perkataan Yang Saya Lupa Apakah Itu Hadits Atau Pendapat Ulama Dulu Soalnya Lupa. Kalo Gak Salah Begini Bunyinya : Pemimpin Kafir Yang Adil Itu Lebih Baik Daripada Pemimpin Muslim Yang Dzalim....Tapi Lebih Baik Kalau Ada Pemimpin Muslim Yang Adil....Soal Pemberontak Pada Pemimpin/Pemerintah, Saya Berpendapat Bahwa Jika Itu Murni Dari KetidakAdilan Yang Dilakukan Pemerintah, Maka Sudah Selayaknya Diganti , Tapi Jika Ada Nuansa/Unsur Politik Dan Kepentingan Atau Persaingan Politik Antara Kelompok (Partai) Yang Satu Dengan Yang Lain, Pada Saat Memberontak, Maka Pemberontak Itu Seharusnya Ditangkap (Tidak Harus Dibunuh). Dan Biasanya Pemberontak Hanya Mengungkap Sebuah Kebobrokan Pemerintah Hanya Dari Satu Sisi Yang Mengandung Unsur Kegagalan, Sedangkan Hal Yang Merupakan Keberhasilan Tidak Pernah Dipertimbangkan Atau Mungkin Malah Menafikan Keberhasilan Itu Dengan Berbagai Alasannya, Agar Terkesan Tertutup Oleh Sisi Kegagalannya.
    • 2
    • Komentar
  • Peace Netral Dijawab 2 tahun yang lalu
    Wass.....Bagaimana kaitanx dengan kejadian yang terjadi di suriah dan beberapa kejadian di negara arab akhir2 ini yang mana rakyatx ingin menggulingkan pemerintahan syah yang sedang berkuasa? Apakah yang dilakukan rakyat suriah dll tersebut adalah perbuatan yang salah?
    • Nilai
    • Komentar
  • ? Dijawab 2 tahun yang lalu
    Anda mencampuradukkan antara pemberontak dan pengkhianat.
    Makna yang tepat dari essai Anda adalah PENGHIANAT yaitu kaum munafik yang banyak diceritakan pada surah At Taubah.
    Dalam bentuk apa pun pengkhianatan tidak dibenarkan sama sekali.
    • Nilai
    • Komentar
  • Sign In 

    untuk menambahkan pertanyaan Anda

Siapakah yang mengikuti pertanyaan ini?

    %
    JAWABAN TERBAIK
    Anggota sejak:
    Poin: Poin: Tingkat
    Total Jawaban:
    Poin minggu ini:
    Ikuti
     
    Berhenti Ikuti
     
    Blokir
     
    Buka blokir