Anonim
Anonim ditanyakan dalam Keluarga & HubunganKeluarga Β· 3 bulan yang lalu

Cara menghentikan adik yang kecanduan K-Pop?

Gue punya adik umur 11 thn dan dia seorang K-Popers. Ada salah satu Boyband kesukaan dia, gue gak bisa kasih tau detailnya. Dia kalau ngefans udah over gitu apa2 semua tentang Boyband dan efeknya ngaruh sama sekolahnya. Asalnya anaknya rajin belajar suka menulis, menghafal dan membaca tapi setelah ngefans Boyband itu jadi dia sering nonton Youtube tentang Bodyband favoritnya gitu. Males-malesan dan jadi sering main HP buat kepoin idolanya. Gue liat isi HPnya banyak histori tontonan Boyband, galerinya juga, lagu sampai gamesnya juga ada. Gue sih udah hapusin semuanya tapi tetap aja di download lagi. Emang bandel sekarang. Anaknya jadi kecentilan gitulah. Gue sih udah larang ya jangan terlalu overlah, gue gak mau dia kena imbasnya sebelum menyesal dikemudian hari tapi kalau dikasih tau malah ngeyel. Kayak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sekarang sering rahasia-rahasiaan. Jadi sering membangkang. Ya bukannya gak boleh ngefans sama idolanya tapi kalau sudah berlebihan dan berpengaruh dengan sekitarnya juga gak baik. Ortu juga suka bingung gimana caranya supaya adik gue ini berhenti menjadi K-Popers? Kadang dia jadi berapi-api kalau teman sekelasnya ingetin dia sama idolanya. Haduh pusing gue ngadepinnya juga. Dikerasin juga sama aja gak berubah tetap kayak gitu. So teman-teman yang ada disini, gimana caranya supaya adik gue berhenti dan melupakan idolanya itu? Sebelumnya thanks dan gue kasih bintang 5 untuk jawaban yang sangat membantu. Terima kasih! πŸ™

4 Jawaban

Peringkat
  • 2 minggu yang lalu

    Quite subjektif sih kalo menghadapi masalah kayak gini tuh. Jujur aja ya, kalo selagi nggak ngeganggu banget pelajarannya (misalnya sampai banyak nilai remedial bahkan nggak naik kelas) ya gapapa sih karena terus terang aja pendidikan di Indonesia tuh buruk. Sebagai orang yang sudah menempuh 13 tahun dunia pendidikan, aku merasakan mannfaar yang kecil. Ya bayangin aja belajar bertahun-tahun berbagai mata pelajaran yang belum tentu kita ingat terus. Jadinya ya bikin jenuh juga dan wajar akhirnya lari ke hal-hal yang lebih menghibur.

    Kalau memang keadaannya parah, atau tidak demikian namun tetap saja khawatir akan hal yang tidak menyenangkan di masa depan. Ya kenapa nggak ditindak tegas saja seperti misalnya kalau nggak nurut dikurangi kuota internetnya, atau malah nggak usah pegang HP aja sekalian, biarin kalo pembelajaran jara jauh diurusnya sama orang tua saja. Kalau itu dilakukan, ada kemungkinan anak jadi depresi hingga mengamuk dan makin membangkang. Kalau itu terjadi, jalan terakhir yaitu konsultasi ke psikiater untuk direhabilitasi. Dulu kan sempet rame di Facebook ada anak yang kecanduan game sampai beli microtransaction-nya yang total pembelanjaannya hampir bisa untuk umroh. Solusinya ya anak itu direhabilitasi. Kalau udah ke ranah psikologi itu kompleks, jadi hanya bisa ditangani oleh orang-orang yang terkualifikasi.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 3 bulan yang lalu

    Sering2 kasih nonton video bokep

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 3 bulan yang lalu

    kasih pemahaman sampai mengerti bahwa yang memberi perhatian dan kasih sayang bukan idolanya tetapi keluarga/orang tua..

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
  • 3 bulan yang lalu

    Tidak masalah, diusia begitu memang massanya untuk mengidolakan sesuatu yang dianggap keren.

    Jangan dilarang, cukup dipantau dan diberi masukkan agar tetap mengutamakan pendidikan.

    karna dimasa mendatang, hidup adalah tanggungjawabnya.

    baik atau buruk tidak bisa hanya dengan perpatokan dari sudut pandang kita saja, pikirkan/dengarkan juga pendapatnya jika salah perbaiki, jika dya benar beri pujian/semangat.

    • Commenter avatarMasuk untuk membalas jawaban
Masih ada pertanyaan? Dapatkan jawaban Anda dengan bertanya sekarang.